Skip to main content

Terbiasa Luka.

Bagiku, social media adalah bencana
Bencana bagi hatiku yang masih tidak karuan setiap kali mengingat namanya

"Buat apa kamu melihat halaman facebooknya? kamu tahu kan, rasa rindu dan keingintahuanmu tentangnya adalah perpaduan sempurna untuk menggores luka?" ujar sahabatku - entah untuk yang keberapa kalinya.

Ah, sudah.
Tidak perlu mengingatkanku lagi akan luka.
Sesakit-sakitnya rindu, adalah rindu kepada yang bukan haknya.
Begitulah.

Mungkin aku memang terluka melihat dia yang bahagia tapi bukan denganku.
Aku tidak akan mengelak atau membantah.
Percuma.
Rasa perih itu nyata.
Dan luka itu memang ada.

Tapi, bukankah semakin sering aku mengunjungi halaman facebookmu maka aku akan semakin terbiasa dengan luka?

Siapa tahu, luka tidak akan lagi menjadi luka jika aku memaknainya dengan satu kata: terbiasa


Surabaya, September 2013
Akibat insomnia

Comments