Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Life Lesson

Resolusi 2019: Mengurangi Benci

Saya memang tergolong orang yang selalu memiliki rencana atau target. Kalau ibarat sebuah permainan, setelah melewati level 1 maka saya akan berlanjut ke level 2, begitu seterusnya hingga permainan tersebut berakhir. Bicara tentang pergantian tahun, orang seringkali mengaitkan itu dengan resolusi. Sebagian besar orang akan memposting di sosial media apa saja resolusinya di tahun baru, yang kemudian akan di-amin-i oleh rekan yang membaca postingan tersebut. Saya? Percaya atau tidak, saya justru jarang memposting tentang resolusi. Hal itu bukan karena saya tidak memiliki resolusi. Bisa dibilang, ada dua alasan. Pertama, resolusi bagi saya adalah suatu hal yang pribadi. Sebut saja, sebuah janji kepada diri saya sendiri yang tidak perlu mendapat legitimasi. Kedua, resolusi saya seringkali berubah sewaktu-waktu (maha benar libra dengan segala kelabilannya wkwkwkwkwk). Tahun 2018 kemarin sejujurnya bukan tahun yang mudah bagi saya. Mungkin jika harus membuat perbandingan, porsi sed...

3B

Teruntuk anakku kelak, Nak, ada yang mengatakan bahwa tugas terakhir bagi orang tua adalah memilihkan jodoh terbaik untuk anaknya Coba bayangkan saja Selama ini dalam memilih makanan, pakaian, pendidikan, dan begitu banyak hal lainnya saja kami selalu berusaha memilihkan yang terbaik Apalagi memilihkan jodoh, yang berkorelasi dengan ibadah seumur hidup Darah suku Jawa yang mengalir dalam tubuhmu akan selalu membawa kita kembali pada satu pedoman penting dalam memilih jodoh: "Bibit, Bebet, Bobot" Pedoman itu menjadi sebuah SOP mutlak yang berlaku dalam adat budaya kita sebagai orang Jawa Pedoman yang terlihat sederhana, namun bisa menyimpan banyak bencana Pengalaman hidup dan berbagai masalah yang pernah Ibu lewati bisa saja mengubah pandangan Ibu mengenai konsep tersebut Ibu ingin yang terbaik untukmu, tapi Ibu juga percaya bahwa kamu tahu yang terbaik untukmu Maafkan Ibu yang memiliki pemikiran berbeda dengan adat budaya kita, Nak Bukannya Ibu tidak memahami ...

Teruntuk Kamu Gadis Penuh Percaya Diri

Saya akan selalu ingat air matanya di sore itu Saya akan selalu ingat bagaimana dia menahan rasa sakitnya dan berusaha tetap tersenyum sambil memeluk dan mengucapkan kata maaf Kehilangan pekerjaan tidak akan pernah menjadi hal yang mudah Tetapi saya percaya, tidak ada satu kejadian pun dalam hidup kita yang tidak memiliki maksud Saya tahu dia terluka Tetapi setidaknya, saya memberikan dia kesempatan untuk belajar dan berjuang bersama Setidaknya, saya membiarkan dia tahu apa saja kesalahannya dan bagaimana dia harus memperbaiki semuanya Setidaknya, saya memberikan dia pilihan dan kesempatan untuk mengucapkan salam perpisahan yang sepantasnya A proper goodbye Karena saya tahu bagaimana sakitnya harus pergi tanpa tahu apa salah saya Karena saya ingat bagaimana pahitnya tidak diberikan kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal meski untuk sekejap saja Saya berdoa semoga semua pedih itu akan mendewasakan Saya berharap rasa sakit dan kecewa itu tidak aka...

Jangan Terluka Lagi

"Apa? Serius dia ngomong gitu?" suara di seberang telepon terdengar sangat terkejut. Saya menarik nafas dalam sebagai sebuah jawaban. "Kamu nggak marah?" tanya sahabat saya itu lagi, masih dengan intonasi yang meninggi. Saya terhenyak beberapa saat. Di satu sisi memikirkan jawaban atas pertanyaannya barusan, di sisi lain sibuk menenangkan hati saya yang semakin morat-marit mendengar pertanyaan yang lugas dan tepat menusuk luka yang masih menganga. "Entahlah. Mungkin aku sudah mencapai titik muak dimana aku sudah tidak sanggup lagi merasa marah ataupun kecewa", jawab saya sekenanya. Saya berusaha mengatur intonasi dan nafas agar tidak terbawa emosi. Kali ini sahabat saya di seberang telepon yang menarik nafas panjang. " Aku yang sakit hati mendengar semua kalimat tentang kamu itu . Aku nggak akan pernah ridho kamu dianggap serendah itu". Kami sama-sama terdiam. Hening. Namun saya bisa mendengar dengan jelas bahwa ia di sana sedang menahan ...

Sebuah Harga Mahal

Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, saya sering menemani Alm. Bunda mengajar ke kampus. Saya kenal baik dengan banyak mahasiswa Bunda. Beberapa dari mereka bahkan seringkali menginap di rumah. Siang itu, saya menunggu Bunda di kampus. Bunda saat itu sedang menguji sidang Tugas Akhir mahasiswanya. Di tempat Bunda mengajar dulu sidang Tugas Akhir diadakan dalam periode waktu tertentu. Setelah periode tersebut selesai dan semua mahasiswa sudah menghadapi sidang, mereka akan dikumpulkan menjadi satu di lapangan rumput yang tidak begitu luas. Saat itulah nama mereka akan dipanggil satu per satu dan maju ke depan untuk mendengar pembacaan hasil sidang mereka. Jika mereka lulus, mereka akan mendapat ucapan selamat bergantian dari seluruh Ketua Jurusan plus disiram dengan air, cat, entah benda apa lagi. Sungguh suatu tradisi yang baru saya sadari sangat kejam bagi mereka yang dinyatakan tidak lulus karena harus menerima keputusan itu di hadapan banyak orang. Selain itu, saya tidak s...

Politik dan Agama

Saya sangat tidak tertarik dengan pembicaraan mengenai politik Tetapi sejak momen Pilpres kemarin, suasana politik semakin terasa mencekik Berbagai perdebatan di media sosial diperkeruh dengan banyaknya berita dari berbagai sumber yang dipertanyakan kebenarannya, dan dibumbui dengan banyaknya orang yang mudah terpancing tanpa mencari bukti Saya semakin gerah manakala 4 November kemarin terjadi aksi dengan tuduhan penistaan Penistaan agama YHA ! Linimasa saya dipenuhi dengan tautan berbagai artikel baik yang pro maupun kontra Banyak teman saya yang juga ikut memberikan opini dan kejelasan pihak Baik yang dilandasi dengan analisa maupun memperkeruh suasana semata Sebelumnya, saya dengan rendah hati mengakui kedangkalan ilmu saya Saya bukanlah ahli agama, ahli tafsir maupun ahli bahasa Saya memiliki banyak kekurangan yang bisa menjadi bahan cela Dan saya juga bukanlah pendukung Ahok sebagai pemimpin Jakarta Karena kalaupun dia kembali menjadi Gubernur, tidak akan berdampak...

Don`t Let Me Down

TENTANG BERHARAP Kata orang, kekecewaan seringkali muncul karena harapan. Saat kita sudah meletakkan harapan pada sesuatu atau seseorang dan ternyata ending yang kita peroleh tidak sesuai dengan harapan, di situlah muncul kekecewaan. Seiring berjalannya waktu, saya mulai memahami dan meyakini bahwa satu-satunya orang yang bertanggungjawab atas kebahagiaan saya adalah diri saya sendiri , bukan orang lain. Bukan teman, pasangan, rekan, atasan, atau siapapun. Hanya saya sendirilah yang mampu memberikan kebahagiaan untuk diri saya sendiri. Mungkin sebagian orang yang membaca tulisan ini akan berpikir bahwa hidup saya sangat menyedihkan dan penuh dengan kesedihan. Tetapi saya memilih untuk tidak peduli dan belajar memahami. Kenapa? Ya karena jika standar bahagia diletakkan pada penilaian orang lain, maka sampai Kaesang Pangarep menjadi Menteri Pemberdayaan Jomblo pun saya tidak akan pernah bahagia. Ada banyak kejadian sederhana yang seringkali menjadi perusak kebahagiaan, hanya kare...

Love Yourself

For all the times that you rain on my parade And all the clubs you get in using my name You think you broke my heart, oh girl for goodness sake You think I'm crying, oh my oh, well I ain't And I didn't wanna write a song cause I didn't want anyone thinking I still care I don't but, you still hit my phone up And baby I be movin' on and I think you should be somethin ' I don't wanna hold back, maybe you should know that My mama don't like you and she likes everyone And I never like to admit that I was wrong And I've been so caught up in my job, didn't see what's going on And now I know, I'm better sleeping on my own Cause if you like the way you look that much Oh baby you should go and love yourself And if you think that I'm still holdin' on to somethin' You should go and love yourself But when you told me that you hated my friends The only problem was with you and not them And every time you told me my opinion w...

CATATAN HATI WANITA GALAU: TENTANG MENIKAH

Memasuki usia 27, memasuki masa dimana telinga dan hati harus kebal menghadapi pertanyaan “Kapan nikah?”. YHA. At first, I thought it was suck. And now I understand, the different between care and kepo . Saya mulai terbiasa membedakan mana yang bertanya karena sekadar mengikuti norma atau memang berharap kebahagiaan saya agar segera menggenapkan separuh agama. Pertanyaan “kapan nyusul?” is really suck. Seriously. Marriage is NOT a racing . Terserah jika ini disebut sebagai sebuah pembelaan atau apa. Tapi bagi saya, perkara menikah bukanlah sebuah ajang perlombaan. Dalam agama yang saya anut, sudah jelas diajarkan bahwa jodoh, rezeki dan maut adalah hak mutlak milik Dia Yang Maha Kuasa. Lalu, kenapa masih bertanya? Memangnya manusia bisa apa? Ya hanya bisa berusaha. Sebatas itu saja. Semakin bertambahnya usia, saya semakin sadar. Menikah bukan sekadar perkara menghalalkan yang haram. Menikah tidak sesederhana perkara perasaan saya mencintai dia dan ingin menghabiskan sisa...