Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2014

Orang Nomor Satu

Kejadian hari ini memaksa ingatan saya kembali ke masa kecil Masa di mana hidup kita masih sederhana Terpaut usia tidak sampai 2 tahun Hanya 2 bersaudara, tidak ada lagi partner yang lain Sejak kecil orang selalu berkata bahwa kita berbeda Aku dan kamu adalah saudara yang berkebalikan seutuhnya Aku yang tomboi, kamu yang feminin Aku yang pemberani, kamu yang penakut Aku yang galak, kamu yang kalem Aku yang cuek, kamu yang lembut Kamu ingat, dulu saat kita masih dirawat oleh adik-adik Papa Saat Mama berjuang menyelesaikan S2 nya di Bandung Bulik Ida yang keras dan jahat Sering menghukum untuk membuat kita patuh Cacian, makian, pukulan, sudah jadi makanan sehari-hari Aku ingat Kamu hanya akan menangis tanpa melawan Sementara aku selalu dengan sigap membalas tanpa banyak pertimbangan Kamu masih ingat? Hari itu Bulik Ida marah besar karena kita pulang terlambat Kita terlambat bukan karena bermain Tapi karena mobil antar-jemput tidak juga d...

Injustice Complaints

" Do u remember , Mbak? Waktu itu ada beberapa orang yang saya interview di Surabaya untuk posisi ini. Tapi, I fall in love with you since the first time we met. Saya menaruh harapan besar ke mbak Fanny, dan sejak awal saya tahu kamu punya potensi yang besar. Maka saya harap, kamu tidak menyerah dengan adanya kritik seperti itu dari partnermu di regional. Behind every injustice complaints, there is always hidden appreciation of what we`ve done . Mungkin dia tidak cukup berbesar hati untuk memuji kelebihan kita, sehingga yang muncul adalah komplain " -My Boss-

Untuk Kamu yang Hobi Drama

Kalau kamu berpikir saya diam karena takut, Maka saya pastikan kamu keliru akut Saya tidak peduli, bukan tidak berani Tapi kamu hanyalah wanita kesepian yang tidak perlu diladeni Maka benarlah apa yang dituliskan oleh Arman Dhani Jangan berdebat dengan orang bijak dan orang dungu Karena jikapun menang, Yang pertama membuatmu menyesal Yang kedua membuatmu bebal Karena bagi saya kamu tidak lebih dari sekedar pencari sensasi Yang hobi mengumbar masalah pribadi Playing victim seolah kamulah yang terdzolimi dan patut dikasihani Hati-hati dengan diksi Karena sudah pasti,  Tiap kalimat yang kamu tulis akan menunjukkan kualitas diri Perbaiki dulu ejaan dan penulisan kata depan Baru berdebat dengan orang yang sepadan Terimakasih sudah mengingatkan bahwa saya adalah lulusan psikologi yang punya jabatan lebih tinggi Itu adalah fakta yang sifatnya hakiki Maka jika kamu ingkari, Kamu hanya semakin akan terlihat iri Saya tidak membalas kar...

Haiku Palsu

Sudah, jangan terlalu sering mengkhawatirkanku Nanti aku tidak lagi bisa belajar menghargai kemampuanku Sudah, jangan terlalu sering memaksaku Nanti aku terbiasa melupakan kehebatan doaku   Mungkin harus aku paksa Agar lama-lama terbiasa Mungkin ini hanya perkara luka sederhana Yang tidak perlu diumbar kemana-mana

Jeda Dalam Koma

Aku sedang berusaha berdamai dengan jarak Agar tidak ada penyesalan kelak Mungkin seharusnya sejak dulu aku memberi jeda Agar kamu belajar menjadi dewasa Sepertinya aku sudah terlalu lelah berlari Bukan hanya karena berlari menguras energi Tapi aku berlari sendiri Tanpa ada kamu yang ternyata nyaman dengan lintasanmu sendiri Jadi, bagaimana jika kita mundur selangkah Merenungi lagi garis akhir mana yang hendak dijamah Walaupun perih, biarlah Kali ini aku kembali percaya pada waktu Jika sampai batas aku menunggu Kamu tetap tidak mensejajari langkahku Maka aku sudah jelas tahu Seberapa berharganya aku untuk menjadi perjuanganmu Bukankah manusia memang harus terbiasa dengan jengah dan berbalik arah? Ada jeda dalam koma, berhenti untuk mengerti