Memasuki usia 27, memasuki masa dimana telinga dan hati harus kebal menghadapi pertanyaan “Kapan nikah?”. YHA. At first, I thought it was suck. And now I understand, the different between care and kepo . Saya mulai terbiasa membedakan mana yang bertanya karena sekadar mengikuti norma atau memang berharap kebahagiaan saya agar segera menggenapkan separuh agama. Pertanyaan “kapan nyusul?” is really suck. Seriously. Marriage is NOT a racing . Terserah jika ini disebut sebagai sebuah pembelaan atau apa. Tapi bagi saya, perkara menikah bukanlah sebuah ajang perlombaan. Dalam agama yang saya anut, sudah jelas diajarkan bahwa jodoh, rezeki dan maut adalah hak mutlak milik Dia Yang Maha Kuasa. Lalu, kenapa masih bertanya? Memangnya manusia bisa apa? Ya hanya bisa berusaha. Sebatas itu saja. Semakin bertambahnya usia, saya semakin sadar. Menikah bukan sekadar perkara menghalalkan yang haram. Menikah tidak sesederhana perkara perasaan saya mencintai dia dan ingin menghabiskan sisa...