Skip to main content

Posts

Showing posts with the label puisi iseng

I K H L A S

Tuhan Tuntun hatiku pada keikhlasan Bahwa setiap kehilangan adalah pelajaran Dan hidup tidak selamanya berputar pada kesedihan Berikan hatiku ketenangan Untuk melepas yang bukan ditakdirkan *catatan kecil di sela kerinduan*

R I N D U

Pelukanmu itu candu Menyejukkan hati yang selalu rindu Penawar gundah yang datang tidak tahu waktu Senyumanmu itu lagu Melodi sempurna yang memberangus semua pilu Menyempurnakan ritme cinta dalam kalbu Kau bilang Tuhan sedang berbaik hati Kubilang Tuhan sedang mempermainkan hati Aku dan kamu, mengapa harus saling mencintai dengan berhati-hati? Aku titipkan hati kepadamu lelaki bermata sendu Tetaplah di situ untukku selalu Meskipun Tuhan terlanjur bicara kita bukan satu Tu me manques *satu rindu mengendap kembali dalam kejamnya waktu*

Memilih

Aku pernah melewati masa seperti ini Yang membuatku letih terus berlari Aku pernah bersujud memohon jeda untuk berhenti Hanya untuk meyakinkan diri bahwa aku layak ada di sini Hidup berarti memilih Apakah kamu bertahan atau beralih

Malang

Mungkin Di satu relung yang membawa memori kian menggenang Aku merindukan Malang Sebagai tempat berpulang Malang, Maret 2014 Teriring doa untukmu yang sudah berpulang

Diam

Aku memilih diam dan tidak mempertanyakan Karena sudah tahu bahwa jawabannya menyakitkan Aku memilih diam dan tetap bertahan Karena percaya Dia Maha Mendengarkan Kadang luka memang tidak terelakkan Cukuplah perih yang mendewasakan Ah, Tuhan memang begitu Selalu punya cara yang lucu Untuk membuat lidahku kelu Malang, Maret 2014 Di sela kericuhan otak yang tidak mampu meredam kecewa

Hujan Ini

Hujan ini Bisakah berhenti barang sejenak? Aku ingin berlari Melupakan rasa sakit, atau sebutlah mengelak Hujan ini Membawa ingatanku kembali Pada rindu yang kupaksa mati Tak peduli aku harus melawan kata hati Hujan ini Membuka satu sudut yang kusebut serpihan simfoni Tentang aku yang ingin berhenti Atas pembuktian ego yang bernama mencintai Surabaya, 3 Maret 2014 Hujan di jam lima Yang menjadi bencana bagi rencana

Lelah

Aku tahu Ini hanya perkara waktu Perlahan tapi pasti Aku sedang menanam benih sakit hati Aku tidak tahu mengapa aku tidak berlari Menjauhi pusara bernama patah hati Aku ingin dunia tahu bahwa aku sedang mencintaimu Tapi kamu harus tahu Aku (belum) siap menerima kehilanganmu Mungkin aku harus menyerah Pada Dia yang selalu berkehendak menentukan arah Pada rasa rindu yang tak menyisakan celah Pun sekedar memberiku kesempatan untuk berbalik arah Tuhan, Aku lelah!

Kamu Tahu?

Kamu tahu? Menjadi pemujamu itu butuh kebesaran hati Karena selalu dihadapkan pada sikapmu yang tak pasti Kamu tahu? Ada banyak hal yang aku simpan rapi dalam hati Banyak kata yang kubiarkan terpatri Agar rasa tak melambung tinggi Kamu tahu? Aku masih sering mencari tahu tentangmu Semua hal. Iya, semuanya. Semua hal tentangmu selalu menarik bagiku Kamu tahu? Aku tak butuh waktu lama untuk mengagumimu Gaya bicaramu yang cerdas selalu membuatku tertunduk malu Perdebatan lucu denganmu - entah bagaimana - menjadi energi baru Kamu tahu? Aku mulai terbiasa dengan kesibukanmu Aku mulai terbiasa mengobati rindu dengan segala imajinasi tentangmu Aku mulai terbiasa mengagumi semua tentangmu dalam diamku Kamu tahu? Aku seringkali berpura-pura merajuk untuk merebut perhatianmu Iya. Aku lakukan semuanya dengan sengaja sejak dulu Hanya agar kamu tahu Ada aku yang selalu merindukanmu Kamu tahu? Aku seringkali berpura-pura tak peduli denga...

Aku Benci Kamu !

Aku benci kamu Yang mengejawantahkan rasa kagum tanpa jemu Membuatku merasa bahwa kamulah yang aku mau Aku benci kamu Yang menghempaskan segala ragu dalam benakku Mengganti takaran logika dengan cinta yang lucu Aku benci kamu Yang menjadi distraktor bagi duniaku Menghanyutkan mimpi dalam gubahan lagu Aku benci kamu Yang tahu pasti bagaimana membuatku tersipu malu Atau terdiam membisu Hei, kamu! Yang selalu datang dan pergi sesuka hatimu Aku. Rindu.

Jakarta. Kamu.

Menikmati riuhnya Ibu Kota dengan serpihan kenangan tentang kamu Aku rindu Iya. Selalu begitu. Ada sayang yang tidak pernah layu Aku belajar untuk bahagia di atas rasa kehilangan kamu Mencoba percaya bahwa hatiku cukup kuat untuk merelakan kamu Meyakini bahwa rasa yang kumiliki tidak lagi segaris dengan kamu Aku biarkan rindu ini tetap tertuju padamu Karena aku tahu, Pada waktunya nanti, bayangan tentang kamu akan jadi kekuatan bagiku Aku pantas bahagia, seperti kamu ! *Jakarta, dalam bus kota*

K.A.M.U.

Kamu, Kepingan puzzle yang mungkin keliru Menyesaki ruang hati yang terlanjur membiru Memaksaku tuk berdamai dengan rindu yang tak tahu waktu Kamu, Terlalu jauh untuk kurengkuh Pun bayangmu begitu rapuh untuk kusentuh Kamu, Tinggalkan cerita tentang cinta Lepaskan sejuta rasa yang sempurna Kamu, Buatku mati cemburu !

Rindu

Aku rindu kamu dalam diam Cukup menjadi rahasia antara aku dan malam Aku rindu kamu Seperti air yang mengalir ke hulu Tak bisa dicegah Walau kadang tak seharusnya begitu Aku rindu Sejak dulu. Dan selalu. Jadi, ini namanya apa? Rindu? Oh. Wassalam. *catatan kecil untuk kamu yang sudah menepati janji* Surabaya, Juli 2013

Berhenti Di Kamu

Aku mencintaimu dalam kenangan Meluluhlantakkan semua egoku yang tak terkalahkan Aku mencintaimu tanpa banyak kata memuja Biar bahagia yang bicara saat kudengar suaramu manja Aku berdiri di ujung cerita Ada rindu yang menguap sia-sia di udara Ada sayang yang terkikis tak bersisa Jika kecewa adalah pasangan sempurna bagi doa dan harapku, Maka biarkan rasa ini berhenti di kamu Orang yang pernah mencintaiku dalam ragu Surabaya, 22 Maret 2013

Kamu, Sayangku :)

Sekali waktu aku bertanya padamu Tidak bosankah kau mencintaiku? Tidak bosankah kau menitipkan rindu di setiap pesanmu? Tidak bosankah kau membanjiri tatapanmu padaku dengan sejuta cinta? Ah, aku lupa Kamu selalu berpikir sederhana Sesederhana pelukanmu ketika aku gundah Sesederhana doamu untuk menjadi ayah terbaik bagi anak-anakku kelak Pernah juga aku bertanya Mengapa tak kau cari yang lebih baik dariku Kala itu kau tatap mataku dalam "Apa arti dari "lebih baik" itu sayang? Jangan gunakan logikamu untuk menakar rasa ini. Kenapa  tak kau terima saja takdir bahwa dalam setiap sujud kita ada doa agar selalu bersama?" ujarmu  lembut Ah, lagi-lagi aku terpesona Tidak tahukah kau rahasia terdalam yang kusimpan rapat dalam setiap shalatku? Ya, aku mengagumi Tuhan yang mampu menyisipkan pesona dalam tutur kata lembutmu Aku memuja Tuhan yang membuat hukum aksi-reaksi antara kau dan aku Kau tersenyum manja, jantungku berdegup dengan ritme di atas ambang...

Jeda

Aku telah berlari Terlalu kencang Kubiarkan segenap jiwa ini berkolaborasi dengan langkah mati Aku telah berlari Hingga aku lupa rasanya berhenti Hingga aku asing dengan jeda yang tertaut di hati Aku lelah Aku ingin menyerah Aku tidak peduli jika dianggap kalah ! Ah !

Bagaimana Jika

B agaimana jika aku terlanjur jatuh? Bagaimana jika memang aku yang bodoh, lantas membiarkan diriku menerima rasa itu yang menghujam tanpa ampun? Bagaimana jika aku salah? Bagaimana jika aku enggan menghapusnya yang masih bersisa? Dan, Bagaimana jika... Kubiarkan dia membuatku merangkul rindu?

Ragu

Dan aku berdiri di sini Mengenang kembali melodi rindu yang kian lirih Mengingat kembali saat pertama aku mencintaimu Dengan sejuta harap tentang aku dan kamu Lucu, ketika semuanya berlalu Bagaikan debu yang menghilang dalam sekerlingan mata Ah, inikah sensasi meragu?

Retorika: Kamu

Aku merindukanmu dengan caraku Membiarkan segenap egoku hanya tertuju padamu Aku ingin mengajarkanmu melukis senyum setiap kali kau mengingatku Membuatmu larut dalam gemuruh kasih sayangku Menuai perih dalam diam untukku Kadang aku jengah Menghapus pilu karena siluet semu yang kau simpan rapi Terlalu dalam Dan kau biarkan membeku Dalam sudut hatimu yang kian membiru Untuk kamu, yang membuatku menyayangi dalam lirih Biarkan aku menapaki arah hatimu Walaupun tujuanmu, bukan aku Mawar putih, Juni 2012

Aku Ikhlas

Sejak awal aku tahu Jelas-jelas tahu ! Kalau semuanya hanya masalah waktu Sudah, pergi dan lupakanlah Aku ikhlas Jikalau nanti dia membenciku Berarti itu salahku Aku ikhlas

Kamu Itu Semu

Kamu itu semu Menggebu menari dalam kalbu Namun bersembunyi malu seolah terpaku Bukan bias nalar yang membuatku tersipu Hanya sekedar rindu ketika Andromeda beradu Aku ingin menikmati lengkungan senyummu tanpa ragu Aku ingin jengah yang menghantuiku rapuh Aku menantimu dalam kalbu Mengharap semu setiap lagu sendu Ah, kamu ! Tahukah kau kalau aku rindu? Katamu semua berlalu Kataku biarkan melebur hingga satu Meski aku terlalu malu Haruskah aku memenggal frase rindu? Kamu pergi dengan angkuh Seolah jemu dengan caraku merengkuh Katamu aku harus berlabuh Tapi yang aku tahu, rindu ini membuatku mengaduh Jangan bilang itu badai Jangan harap juga aku kembali mengandai Yang aku tahu, hatiku terlanjur landai Aku ingin mengusir ilusi Melepas hampa dalam binar matamu Merangkai jemu menjadi teman nelangsa Ah, kamu ! The long and winding road :)