Skip to main content

Posts

Showing posts with the label curhat

Sebuah Harga Mahal

Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, saya sering menemani Alm. Bunda mengajar ke kampus. Saya kenal baik dengan banyak mahasiswa Bunda. Beberapa dari mereka bahkan seringkali menginap di rumah. Siang itu, saya menunggu Bunda di kampus. Bunda saat itu sedang menguji sidang Tugas Akhir mahasiswanya. Di tempat Bunda mengajar dulu sidang Tugas Akhir diadakan dalam periode waktu tertentu. Setelah periode tersebut selesai dan semua mahasiswa sudah menghadapi sidang, mereka akan dikumpulkan menjadi satu di lapangan rumput yang tidak begitu luas. Saat itulah nama mereka akan dipanggil satu per satu dan maju ke depan untuk mendengar pembacaan hasil sidang mereka. Jika mereka lulus, mereka akan mendapat ucapan selamat bergantian dari seluruh Ketua Jurusan plus disiram dengan air, cat, entah benda apa lagi. Sungguh suatu tradisi yang baru saya sadari sangat kejam bagi mereka yang dinyatakan tidak lulus karena harus menerima keputusan itu di hadapan banyak orang. Selain itu, saya tidak s...

Jangan Menjadi HRD

Kalau nanti saya punya anak, saya akan memberikan dia kebebasan untuk berkarier sesuai dengan keinginannya Asal bukan menjadi HRD Menjadi HRD itu bukan perkara mudah Separuh kaki berada di sisi Manajemen Separuh kaki berada di sisi karyawan Nggak gila aja udah syukur Salah melangkah sedikit, taruhannya karier HRD adalah divisi yang dianggap bukan sebagai profit centre Malah sebagian besar perusahaan menganggap HRD sebagai cost centre Bahasa kerennya, ngabisin duit doang ini mah HRD harus merumuskan appraisal untuk karyawan Menentukan standar reward and punishment Mengajukan promosi dan demosi, mengajukan kenaikan gaji Iya, HRD wajib tahu bagaimana performa setiap individu Lalu kalau HRD sendiri memiliki performa yang baik, jangan harap appraisal akan semudah itu diperoleh Ketika HRD memiliki kinerja yang baik, orang hanya akan berpikir "Ya memang sudah seharusnya" Jarang akan ada pujian yang lebih lanjut Jarang akan ada penghargaan...

JANGAN LUPA UNDANGAN

27 tahun, memasuki usia dan linimasa dimana banyak berseliweran kalimat, "JANGAN LUPA UNDANGANNYA YA" YHA. Dulu. Dulu sekali, saat masih menempuh kuliah di Psikologi. Ada beberapa teman saya yang sudah menikah di usia dini Saat itu, sempat terlintas di pikiran saya,  "Eh kok aku nggak diundang ya?" Lucu sih kalau mengingat pemikiran semacam itu Saya merasa cukup dekat, setidaknya sering mengerjakan tugas bersama, duduk berdekatan saat kuliah dengan teman saya itu Namun saat dia menikah, saya bahkan baru mengetahui kabar pernikahannya melalui facebook Seiring berjalannya waktu, saya semakin menyadari bahwa menyiapkan pernikahan bukanlah hal yang mudah Akan ada banyak kekurangan, seolah ketidaksempurnaan selalu memiliki celah Saya mulai sering mendengar berbagai keriweuhan menyiapkan pernikahan dari teman dekat, atau bahkan saudara Mulai dari konsumsi untuk pengajian, rias pengantin, katering, seragam untuk keluarga, undangan, sovenir, perintilan dekor...

Don`t Let Me Down

TENTANG BERHARAP Kata orang, kekecewaan seringkali muncul karena harapan. Saat kita sudah meletakkan harapan pada sesuatu atau seseorang dan ternyata ending yang kita peroleh tidak sesuai dengan harapan, di situlah muncul kekecewaan. Seiring berjalannya waktu, saya mulai memahami dan meyakini bahwa satu-satunya orang yang bertanggungjawab atas kebahagiaan saya adalah diri saya sendiri , bukan orang lain. Bukan teman, pasangan, rekan, atasan, atau siapapun. Hanya saya sendirilah yang mampu memberikan kebahagiaan untuk diri saya sendiri. Mungkin sebagian orang yang membaca tulisan ini akan berpikir bahwa hidup saya sangat menyedihkan dan penuh dengan kesedihan. Tetapi saya memilih untuk tidak peduli dan belajar memahami. Kenapa? Ya karena jika standar bahagia diletakkan pada penilaian orang lain, maka sampai Kaesang Pangarep menjadi Menteri Pemberdayaan Jomblo pun saya tidak akan pernah bahagia. Ada banyak kejadian sederhana yang seringkali menjadi perusak kebahagiaan, hanya kare...

CATATAN HATI WANITA GALAU: TENTANG MENIKAH

Memasuki usia 27, memasuki masa dimana telinga dan hati harus kebal menghadapi pertanyaan “Kapan nikah?”. YHA. At first, I thought it was suck. And now I understand, the different between care and kepo . Saya mulai terbiasa membedakan mana yang bertanya karena sekadar mengikuti norma atau memang berharap kebahagiaan saya agar segera menggenapkan separuh agama. Pertanyaan “kapan nyusul?” is really suck. Seriously. Marriage is NOT a racing . Terserah jika ini disebut sebagai sebuah pembelaan atau apa. Tapi bagi saya, perkara menikah bukanlah sebuah ajang perlombaan. Dalam agama yang saya anut, sudah jelas diajarkan bahwa jodoh, rezeki dan maut adalah hak mutlak milik Dia Yang Maha Kuasa. Lalu, kenapa masih bertanya? Memangnya manusia bisa apa? Ya hanya bisa berusaha. Sebatas itu saja. Semakin bertambahnya usia, saya semakin sadar. Menikah bukan sekadar perkara menghalalkan yang haram. Menikah tidak sesederhana perkara perasaan saya mencintai dia dan ingin menghabiskan sisa...

Sekelebat Perbandingan

Bulan April hampir berakhir Dan saya terjebak pada satu ruang yang memaksa saya untuk berpikir Apa saja target saya di tahun ini? Apa saja usaha saya agar target tercapai? Sudah sejauh mana progressnya di 4 bulan awal ini? "Yaelah, fan. Hidup lo nggak selow amat sih. Dibawa santai aja keleus." Jadi gini, bro. Hidup memang terus mengalir Tapi apa lo mau kalau mengalirnya ke comberan? Santai bukan berarti tidak berpikir Santai bukan berarti tidak berubah Saya hanya takut jika saya mengulangi ketololan yang sama dengan dia Iya.  Dia yang pernah mengatakan bahwa penghalang utama kemajuannya adalah ketidakmampuan memanage waktu dengan bijaksana Tapi nyatanya, sampai negara api menyerang ya kelakuannya tetap seperti itu-itu saja Tidak ada yang berubah dengan skala prioritasnya Yang ada hanyalah jutaan alibi, "aku sudah berusaha" tapi ketika ditanya "lalu mana progress nya?" hanya bisa diam seribu bahasa Kan anying kan.....

Jawaban 5 Tahun Lalu

Saya teringat nasihat salah satu senior di kampus "Nduk, istikharah itu jawabannya ndak selalu lewat mimpi. Jawabannya bisa lewat ketenangan dan kemantapan hati buat memilih salah satu hal dari yang kamu khawatirkan" Dan sekarang saya baru menyadari Inilah kemantapan hati yang dulu saya cari 5 tahun lalu Saya tersungkur dan menangis dalam sujud yang pilu Saya dihantam ribuan ragu Saya terjerat dalam kekhawatiran yang tidak segera berlalu 5 tahun lalu Saya meyakinkan diri agar bersetia pada satu Mungkin Tuhan sedang menertawakan pilihan saya ketika itu Saya benci berandai-andai Karena sekeras apapun saya membenci, waktu tidak akan pernah kembali Dan sedahsyat apapun keinginan untuk memperbaiki, tetaplah takdir menjadi penentu yang paling hakiki Mungkin saat ini Tuhan sedang menguji kemampuan saya untuk berdamai dengan diri sendiri Karena sejatinya, memaafkan diri sendiri membutuhkan kekuatan hati Bersabar dan berbanggalah Karena...

I K H L A S

Tuhan Tuntun hatiku pada keikhlasan Bahwa setiap kehilangan adalah pelajaran Dan hidup tidak selamanya berputar pada kesedihan Berikan hatiku ketenangan Untuk melepas yang bukan ditakdirkan *catatan kecil di sela kerinduan*

Pengacara Wanna Be

Beberapa tahun lalu Papa pernah meminta saya untuk masuk ke jurusan hukum Alasannya sederhana dan cukup membuat saya memprotes keras Saya cerewet, pandai bernegosiasi sekaligus mengintimidasi orang Sungguh saya tidak paham apakah itu sebuah pujian atau sindiran terang-terangan Saran dari Papa itu saya tolak mentah-mentah Tanpa basa-basi dan tidak perlu berpikir ulang Alasan saya? Saya benci dengan hukum dan segala profesi yang terkait di dalamnya No offense Bagi saya yang merupakan orang awam, profesi seperti pengacara adalah sebuah profesi yang penuh dengan kepalsuan sekaligus keribetan Seorang pengacara harus mau dan mampu membela kliennya di persidangan, even when he knows which is right or wrong *pls tolong anak hukum yang baca tulisan ini jangan tersinggung* Sepertinya Tuhan sedang bercanda Saya dibuat merasakan bagaimana berada di posisi semacam pengacara yang sejak dulu saya cibir tanpa ampun Saya berada di posisi yang mau-tidak-mau-suka-...

Jangan Jadikan Aku Istrimu

Beberapa waktu lalu saya menemukan tulisan ini dari timeline Line Cukup panjang, dan cukup membuat saya berpikir kembali tentang banyak hal "JANGAN JADIKAN AKU ISTRIMU" JANGAN jadikan aku istrimu, jika nanti dengan alasan bosan kamu berpaling pada perempuan lain. Kamu harus tahu meski bosan mendengar suara dengkurmu, melihatmu begitu pulas. Wajah laki-laki lain yang terlihat begitu sempurnapun tak mengalihkan pandanganku dari wajah lelahmu setelah bekerja seharian. Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti kamu enggan hanya untuk mengganti popok anakmu ketika dia terbangun tengah malam. Sedang selama sembilan bulan aku harus selalu membawanya di perutku, membuat badanku pegal dan tak lagi bisa tidur sesukaku. Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti kita tidak bisa berbagi baik suka dan sedih dan kamu lebih memilih teman perempuanmu untuk bercerita. Kamu harus tahu meski begitu banyak teman yang siap menampung curahan hatiku, padamu aku hanya ingin berbagi. ...

Cerita Anak Kos: Bertoleransi Itu Menyebalkan !

Setelah sekitar 8 tahun merasakan menjadi anak kos, ada 1 pelajaran penting yang saya dapat Menghargai keberagaman Sejak pertama kali ngekos di dekat kampus, saya mulai menemukan banyak perbedaan kebiasaan yang mencolok Efek sering ditinggal orang tua dan mengurus rumah sendiri, saya jadi terbiasa mengatur semua barang dengan rapi dan kembali ke tempatnya Saya juga terbiasa menjaga setiap barang, karena semurah apapun harga barang tersebut tetap butuh perjuangan untuk membelinya Saya hafal betul susunan baju maupun barang lainnya di lemari saya Dan hal itu pun masih berlanjut sampai saat ini Jadi, jangan heran kalau saya bisa dengan mudah menyadari jika ada yang mengambil barang saya tanpa izin atau sekedar menggeser posisinya Di kantor, saya pernah beberapa kali menginterogasi OB karena menyadari bahwa jumlah kertas yang tersisa di printer saya berkurang, air mineral botol di laci saya berkurang, kopi sachet yang berkurang, file database yang bergeser susunannya, da...