Skip to main content

Waktu dan Mimpi

Menjelang bulan kedua di 2014

Well, ya. Sudah hampir sebulan saya berkutat dengan pekerjaan baru.
Kantor baru. Teman baru. Suasana baru. Konsep baru.
Tantangan baru!

Iya, saya tahu.
Keluar dari zona nyaman butuh keyakinan dan energi yang tidak sedikit
Saya melewati minggu-minggu berat hingga akhirnya memutuskan untuk keluar dari zona nyaman saya di perusahaan sebelumnya
Saya meninggalkan sistem yang sudah saya bangun dengan susah payah selama 2 tahun
Saya meninggalkan tim luar biasa yang saya didik dengan penuh perjuangan
Saya meninggalkan keluarga HRD yang begitu memahami fluktuasi saya
Tapi, hidup tetaplah sebuah pilihan kan?

Saya rasa, saya tidak akan pernah menjadi lebih tegar jika saya tidak mencoba untuk pindah
Memasuki kantor baru ini butuh perjuangan yang tidak sedikit
Jangan kira perkara sepele macam positioning itu mudah!
Menghadapi ego level manager itu selalu menguras mental
Jangan pernah sekali-kali menunjukkan sikap, "gue lebih tau daripada elo" atau kamu akan menghabiskan sisa karirmu dengan celaan sana-sini

Tahu apa yang saya pikirkan setiap malam?

Saya tidak ingin terlalu lama bekerja di perusahaan semacam ini
Iya, ini bukan passion saya

Saya agak tertampar ketika berdiskusi dengan Mas Wilson, trainer saya di Bandung kemarin
Dia memutuskan untuk resign dari perusahaan ini, lalu bergabung dengan sebuah organisasi non profit
Tidak perlu bertanya detil berapa pendapatannya sebulan
Secara logika sudah jelas
Mana mungkin sebuah organisasi non profit bisa memberi hasil yang lebih besar dibanding perusahaan Tbk macam ini
Tapi, itu jalan yang dia pilih
Dia yakin, inilah waktunya bagi dia untuk mengejar idealisme
Dia tidak ingin mati dengan perasaan bersalah, mengapa dulu tidak pernah mencoba mengejar apa yang dia impikan

Saya rasa, suatu saat nanti saya juga akan melakukan hal yang sama
Saya ingin meninggalkan dunia ini dengan perasaan bangga karena saya telah mengejar idealisme saya
Dan saya sadar, ada banyak persiapan yang harus saya lakukan untuk sampai ke titik itu
Terutama persiapan masalah finansial

Ya, syukur kalau seandainya nanti saya menikah dengan orang yang mapan dan mampu menanggung biaya hidup saya serta anak tanpa saya perlu bekerja
Oke, jangan membahas ke sana dulu

Ada beberapa prioritas yang ingin saya ambil dalam beberapa bulan ke depan
Well, saya sedang mem-push diri saya untuk maju (setidaknya) selangkah mengejar mimpi saya
Di bulan Maret, saya ingin mulai mengikuti IETS Preparation
Ada beberapa buku yang saya targetkan untuk beli dan wajib selesai dibaca
(FYI, salah satu keahlian saya adalah membeli buku lalu membacanya tidak sampai tuntas)
Saya juga tergoda untuk mengikuti beberapa kursus lainnya seperti bahasa Prancis
Tapi yaa, segala macam kursus itu masih harus saya pertimbangkan ulang mengingat tuntutan pekerjaan saya yang baru ini cukup berat
Setiap minggu saya harus melakukan perjalanan dinas ke luar kota
Sehingga rasanya agak mustahil bagi saya untuk mengikuti jadwal les yang saklek

Jadi, ini bukan lagi waktunya bagi saya untuk bersantai
Mari mempraktikkan ilmu manajemen waktu dan manajemen keuangan dengan baik

Karena terkadang waktu dan mimpi seringkali tidak bisa sejalan

Semoga Allah mudahkan
=)


Comments

Popular posts from this blog

Resolusi 2019: Mengurangi Benci

Saya memang tergolong orang yang selalu memiliki rencana atau target. Kalau ibarat sebuah permainan, setelah melewati level 1 maka saya akan berlanjut ke level 2, begitu seterusnya hingga permainan tersebut berakhir. Bicara tentang pergantian tahun, orang seringkali mengaitkan itu dengan resolusi. Sebagian besar orang akan memposting di sosial media apa saja resolusinya di tahun baru, yang kemudian akan di-amin-i oleh rekan yang membaca postingan tersebut. Saya? Percaya atau tidak, saya justru jarang memposting tentang resolusi. Hal itu bukan karena saya tidak memiliki resolusi. Bisa dibilang, ada dua alasan. Pertama, resolusi bagi saya adalah suatu hal yang pribadi. Sebut saja, sebuah janji kepada diri saya sendiri yang tidak perlu mendapat legitimasi. Kedua, resolusi saya seringkali berubah sewaktu-waktu (maha benar libra dengan segala kelabilannya wkwkwkwkwk). Tahun 2018 kemarin sejujurnya bukan tahun yang mudah bagi saya. Mungkin jika harus membuat perbandingan, porsi sed...

(NOT) AN INSTANT JUDGMENT

Saya sudah menggeluti bidang sumber daya manusia selama sekitar 7 tahun. Sebuah rentang waktu yang cukup lama untuk bertemu dengan orang dari berbagai latar belakang dan karakter. Seluruh perusahaan tempat saya bekerja menaruh tugas rekrutmen sebagai salah satu indikator pencapaian. Tidak heran, saya cukup familiar dengan metode interview dan juga beberapa alat tes, terutama tes kepribadian. Saya pribadi termasuk golongan orang yang percaya akan pengaruh faktor kepribadian dalam keberhasilan seseorang. Oleh karena itu, biasanya saat pelaksanaan psikotes akan lebih banyak digunakan tes kepribadian dibandingkan kecerdasan. Meskipun saya seorang sarjana psikologi, saya tidak sembarangan memberikan analisa atau interpretasi dari alat tes. Terutama jika alat tesnya adalah alat tes proyeksi, seperti misalnya tes grafis menggambar pohon, manusia. Ketika menempuh pendidikan strata 1 selama 3.5 tahun memang saya pernah mempelajari alat tes tersebut. Tapi sesuai dengan kode etik psikologi,...

Dieu

Allah Beri aku kekuatan untuk percaya Bahwa rencana-Mu pasti luar biasa Allah Aku tahu bahwa Engkau menggenggam hatiku Jangan biarkan hatiku jatuh pada yang tidak mencintai-Mu Allah Aku percaya bahwa Engkau mampu membolak-balikkan hatiku Maka jangan biarkan aku tenggelam dalam pilu Allah Jangan biarkan aku menyesapi kesedihan yang berlebihan Ajari aku merasa cukup dengan cinta-Mu saja Agar aku percaya bahwa tiada kehilangan melainkan akan Engkau ganti dengan yang lebih bermakna Allah, aku pasrah