Aku mulai menguap sesekali. Bukan karena aku bosan. Tetapi karena jam di handphone ku sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Waktunya bagiku untuk beristirahat,
Tapi aku masih terjaga. Mendengarkan lelaki di seberang sana bercerita.
Semua hal yang kutanyakan padanya dijawab begitu saja. Mengalir apa adanya. Seolah aku adalah sahabat karibnya sejak sekian lama. Atau mungkin adik kecilnya yang harus tahu setiap detil kejadian dalam hidupnya.
"Mas..."
"Ya?"
"Kamu kenapa cerita semua masalahmu ke aku? Kenapa bukan ke istrimu?" tanyaku dengan nada yang mungkin terdengar janggal.
Hening selama beberapa detik. Tak lama kemudian, aku dengar dia di seberang sana menghela nafas panjang. Seolah aku sedang menginterogasi kejahatan terbesarnya dalam hidup.
"Aku dan istriku bukan teman ngobrol yang baik", ujarnya lemah.
Aku tertegun.
"Maksudnya?" aku balik bertanya setelah berhasil mengendalikan detak jantungku yang makin tidak karuan.
"Ya, aku sama istriku tidak pernah mengobrol sepanjang ini. Beberapa kali aku pernah mencoba menceritakan masalahku. Tapi respon yang aku dapat paling hanya `lha terus? maumu gimana?`. Padahal aku bercerita karena ingin setidaknya mendengar pendapatnya. Buat apa bercerita, kalau pada akhirnya aku harus memikirkan semua jalan keluarnya sendiri? Bukankah lebih baik berdiam dan memendam semuanya sendiri?"
Aku terdiam.
Kalimatnya barusan seolah menjadi tamparan yang cukup dalam.
Itu yang membuatku takut untuk mengambil keputusan menikah.
Bagaimana jika seandainya nanti aku memilih pria yang tidak membuatku nyaman untuk bercerita segalanya?
Bagaimana jika seandainya nanti aku juga memilih untuk diam dan menyelesaikan semuanya sendiri tanpa dia?
Bagaimana jika pada akhirnya nanti aku sampai di puncak lelah dan ingin menyerah, lalu aku menemukan pria lain yang lebih membuatku nyaman untuk bercerita bahkan pada hal-hal sederhana?
Lalu bagaimana jika hatiku berkata, "Tuhan, aku telah salah memilih"?
Sebutlah aku ratu drama
Tapi bukankah yang aku tahu, suami/istri seharusnya bisa menjadi tempat kembali yang paling nyaman?
Surabaya, Februari 2014
Untuk dia yang membuatku berpikir kembali tentang apa yang kucari
Comments
Post a Comment