Skip to main content

Don`t Let Me Down

TENTANG BERHARAP

Kata orang, kekecewaan seringkali muncul karena harapan. Saat kita sudah meletakkan harapan pada sesuatu atau seseorang dan ternyata ending yang kita peroleh tidak sesuai dengan harapan, di situlah muncul kekecewaan.

Seiring berjalannya waktu, saya mulai memahami dan meyakini bahwa satu-satunya orang yang bertanggungjawab atas kebahagiaan saya adalah diri saya sendiri, bukan orang lain. Bukan teman, pasangan, rekan, atasan, atau siapapun. Hanya saya sendirilah yang mampu memberikan kebahagiaan untuk diri saya sendiri.

Mungkin sebagian orang yang membaca tulisan ini akan berpikir bahwa hidup saya sangat menyedihkan dan penuh dengan kesedihan. Tetapi saya memilih untuk tidak peduli dan belajar memahami. Kenapa? Ya karena jika standar bahagia diletakkan pada penilaian orang lain, maka sampai Kaesang Pangarep menjadi Menteri Pemberdayaan Jomblo pun saya tidak akan pernah bahagia.

Ada banyak kejadian sederhana yang seringkali menjadi perusak kebahagiaan, hanya karena salah menaruh harapan. Atau mungkin lebih tepatnya, terlalu berharap.

Pernah suatu ketika, saya akan menghadiri pernikahan salah satu sahabat saya. Jauh hari sebelum acara itu, mantan pasangan saya berjanji akan mengantarkan ke pernikahan itu. Tiba- tiba beberapa jam sebelum acara, dia mengabarkan bahwa tidak bisa mengantarkan saya karena harus mengantarkan Mamanya. Ya, saya bisa apa? Kecewa? Marah?

Saya rasa kekecewaan saya saat itu adalah sebuah hal yang wajar. Saya sempat merasa bad mood dan uring-uringan, tetapi tidak saya tunjukkan dengan gamblang. Di satu sisi, saya merasa berhak kecewa karena harapan saya untuk datang ke acara pernikahan itu dengan pasangan mendadak buyar. Tetapi di sisi lain, alasannya tidak bisa saya tolak. Saya bukan siapa-siapa bila dibandingkan dengan Mamanya. Dan saya pikir memang sudah seharusnya seorang anak mendahulukan Ibunya dibanding siapapun di dunia ini.

Beruntung saat itu saya mampu mengelola kekecewaan itu dan memilih untuk tetap berangkat sendiri. Kekecewaan saya tidak boleh mengaburkan tujuan utama saya di hari tersebut yakni menghadiri resepsi pernikahan sahabat saya.

Mudah merasa bad mood seharusnya saya masukkan ke dalam CV sebagai salah satu daftar keahlian saya. Saya seringkali tiba-tiba menginginkan suatu makanan dan secara impulsif akan langsung membeli atau memesan lewat delivery service. Beberapa kali terjadi di saat saya sedang sangat menginginkan suatu makanan lalu saya tidak berhasil mendapatkan makanan tersebut dengan berbagai alasan. Bisa dipastikan bahwa beberapa jam kemudian atau bahkan seharian saya bisa uring-uringan dan menjadi lebih menyeramkan dibanding ketawa mak lampir yang lebih merdu dibanding suara burung kutilang (eh, emang burung kutilang teh suaranya kumaha? Ah, sabodo teuing)

Pada akhirnya saya kembali belajar mengelola ekspektasi dengan strategi yang menurut saya cukup jitu. Jadi sebelum keluar untuk membeli/memesan yang sedang saya inginkan tadi, saya sudah memikirkan alternatif makanan/minuman lain yang bisa menjadi substitusi secara kaffah (duile bahasa lo, fan). Setelah berhasil memikirkan alternatif substitusi, saya akan mengulang kalimat ini berkali-kali dalam pikiran saya, "Jadi nanti kalau misalnya makanan A nggak ada, fanny beli B atau C aja. Sama enaknya kok. Nggak boleh bete. Nggak boleh kecewa". Setelah "mantra" itu berhasil masuk dan terserap di otak saya, barulah saya pergi keluar mencari apa yang saya inginkan. Hasilnya ketika makanan A yang benar-benar sedang sangat saya inginkan tidak ada, saya bisa dengan santainya mengalihkan pilihan ke B atau C tanpa merasa kecewa.

Ya itu kan kalo ada pilihan. Kalo nggak ada pilihan, gimana?

Sekali lagi, saya percaya bahwa kebahagiaan adalah pilihan. Mengelola ekspektasi adalah pilihan. Memaklumi adalah pilihan.

Saya pernah beberapa kali berharap pada lelaki yang salah. Ketika saya berharap bahwa dia akan berjuang mengejar mimpinya demi saya dan keluarganya, yang ada malah saya ditinggalkan begitu saja dengan banyak tanda tanya. Tenggat waktu yang sengaja saya berikan dengan tujuan untuk memacu semangatnya dan melihat seberapa keras usahanya justru menjadi alasan yang sempurna untuk pergi tanpa perlu berkata apa-apa.
(Ngana kenapa jadi tsurhats, shay?)

Lantas saya memilih untuk memaklumi. Memaklumi bahwa dia memang tidak dididik oleh keluarganya untuk memiliki target. Dia bukan berasal dari keluarga yang suka mendiskusikan berbagai hal detil terutama rencana ke depan. Dia memang tipikal pria yang mudah terluka egonya ketika mendapati bahwa pasangannya ternyata melangkah lebih dulu. Dia memang bukan tipikal lelaki berambisi yang akan memikirkan setiap langkah ke depan dan menata setiap batu loncatan dengan penuh perhitungan. Jadi saya memilih memaklumi, meskipun saya belum sepenuhnya mampu memaafkan. Setidaknya, saya masih memiliki pilihan untuk memaklumi dan merendahkan ekspektasi.

Kalau saja kekecewaan saya pada makhluk bernama lelaki harus saya ceritakan di sini, maka percayalah bahwa drama percintaan saya dimulai dari cinta monyet, cinta jerapah, cinta kardus atau cinta apapun panjangnya akan mengalahkan rangkaian novel Tetralogi Pulau Buru karya Om Pram. Dan aing juga nggak sudi ye, dianggap nista banget percintaannya. Ya, meskipun dulunya emang iya.

Seiring bertambahnya usia, saya semakin memahami dan meyakini pula bahwa tempat terbaik untuk berharap hanyalah Dia. Dia seharusnya menjadi tempat bersandar dan meletakkan setiap harapan. Dia selalu mendengar dan menjawab setiap doa dengan cara-Nya yang menakjubkan. Ah, andai saja setiap kecewa dikembalikan kepada-Nya dan meyakini bahwa Dia memiliki rencana yang lebih baik, mungkin hidup tidak akan menjadi sedrama ini :)


Crashing, hit a wall
Right now I need a miracle
Hurry up now, I need a miracle
Stranded, reaching out
I call your name but you're not around
I say your name but you're not around

[Chorus]
I need you, I need you, I need you right now
Yeah, I need you right now
So don't let me, don't let me, don't let me down
I think I'm losing my mind now
It's in my head, darling I hope
That you'll be here, when I need you the most
So don't let me, don't let me, don't let me down
Don't let me down

[Post-Chorus: Instrumental]
Don't let me down
Don't let me down, down, down
Don't let me down, down, down
Don't let me down, down, down
Don't let me down, don’t let me down, down, down

[Verse 2]
R-r-running out of time
I really thought you were on my side
But now there's nobody by my side

[Chorus]
I need you, I need you, I need you right now
Yeah, I need you right now
So don't let me, don't let me, don't let me down
I think I'm losing my mind now
It's in my head, darling I hope
That you'll be here, when I need you the most
So don't let me, don't let me, don't let me down
Don't let me down

[Post-Chorus: Instrumental]
Don't let me down
Don't let me down, down, down
Don't let me down, down, down
Don't let me down, down, down
Don't let me down, don’t let me down, down, down

[Bridge]
Oh, I think I’m losing my mind now, yeah, yeah
Oh, I think I’m losing my mind now, yeah, yeah

[Chorus]
I need you, I need you, I need you right now
Yeah, I need you right now
So don't let me, don't let me, don't let me down
I think I'm losing my mind now
It's in my head, darling I hope
That you'll be here, when I need you the most
So don't let me, don't let me, don't let me down
Don't let me down

[Outro]
Yeah, don't let me down
Yeah, don't let me down
Don't let me down, oh no
Said don't let me down
Don't let me down
Don't let me down
Don't let me down, down, down

Comments