Skip to main content

Definisi Rumah

Ia menatapku heran
Sepersekian detik kemudian, tatapannya berganti tatapan iba

"Kenapa kamu tidak bergabung dengan teman-temanmu?" tanyanya kepadaku dengan lembut
Aku melirik sekilas ke arah teman-temanku di sudut ruangan. Ada yang sibuk bercerita, ada yang membantu memasukkan es buah ke dalam gelas plastik, ada yang berlarian sambil tertawa riang.

"Aku ingin sendiri," jawabku singkat sambil menundukkan wajah.
Gadis berusia 25-an itu kemudian memegang tanganku lembut. Ia seolah bisa membaca pikiranku
"Oke. Kakak tinggal kamu sendiri ya. Tapi nanti kalau sudah mau adzan maghrib, kita kumpul di sana ya. Kakak udah siapin es buah kesukaan kamu tuh"
Aku mengangkat wajahku. Tatapan kami bertemu di satu titik. Ia tersenyum lalu mengusap kepalaku.

Tidak berapa lama kemudian, TV dinyalakan. Anca, anak paling senior di panti asuhan kami sibuk mencari stasiun televisi yang menyiarkan adzan maghrib. Acara TV saat itu masih menyiarkan ceramah menjelang adzan maghrib.

Ingatanku seketika melayang pada iklan-iklan bertema Ramadhan yang seringkali muncul di televisi. Hidup tidak seindah iklan di televisi, bukan? Ya, setidaknya kuanggap begitu.

Faktanya, hidupku memang tidak semanis iklan-iklan di televisi. Aku tidak habis pikir, mengapa kebanyakan iklan bertema Ramadhan di televisi selalu menceritakan tentang keluarga bahagia. Iya, keluarga bahagia yang lengkap.

Lihat saja iklan bumbu masak atau agar-agar yang menggambarkan tentang anak kecil yang membantu ibunya memasak. Atau iklan biskuit yang menceritakan perjalanan mudik ke kampung halaman, lalu berkumpul dengan keluarga besar di Hari Kemenangan.

Ah. Aku bahkan sudah lupa rasanya memiliki keluarga. Umurku masih 8 tahun. Bukankah seharusnya aku masih memiliki sosok ayah dan ibu yang menemaniku sahur dan berbuka puasa? Bukankah aku juga berhak merasakan bahagia ketika membantu ibuku memasak puding coklat atau es buah kesukaanku?

Nyatanya sejak usia 2 tahun aku sudah di sini. Di panti ini. Memiliki keluarga baru yang sama-sama tidak tahu siapa dan di mana keluarganya.

Tidak seperti iklan di televisi itu. Yang aku tahu, keluargaku adalah orang yang sama-sama tidak memiliki keluarga. Yang aku tahu, sahur dan berbuka adalah ajang berebut makanan, bukan tertawa bahagia saat memasak bersama.

Ah, sudahlah. Ramadhan atau tidak, apa bedanya? Toh aku masih tetap menjadi gadis kecil yang akan tinggal di panti asuhan ini entah sampai kapan.

Kakak yang tadi menghampiriku kini kembali. Ia datang sambil membawa segelas es buah untukku. Aku menerima gelas itu sambil mengucapkan terima kasih.

"Aku rindu rumah, Kak," ujarku sambil memalingkan wajah ke arah jendela luar. Ia menghela napas panjang lalu tersenyum. Entahlah, aku suka caranya tersenyum. Ramah, penuh kehangatan dan kasih sayang.

"Menurutmu apa itu rumah?" tanyanya sambil menatap dalam ke arah mataku. Aku memandangnya lekat. Otakku berputar mencari definisi yang menurutku tepat untuk kata rumah.

"Rumah itu.. tempat kembali. Tempat di mana aku tahu ada keluarga yang menungguku dengan penuh kasih sayang. Tempat di mana aku bisa bertemu dengan ayah dan bundaku."

Lagi-lagi gadis itu tersenyum. Kali ini ia tersenyum sambil membelai lembut kepalaku.

"Hmm.." dia tampak berpikir. "Bagaimana kalau kita ubah definisi tentang rumah itu?" ujarnya sambil mengerling ke arahku. Aku mengerutkan alis, pertanda tidak paham maksud ucapannya.

"Jadi, menurut kakak rumah itu apa?" tanyaku penasaran.

"Rumah adalah tempat di mana kamu bisa menjadi dirimu sendiri. Rumah adalah tempat di mana kamu bisa belajar bersyukur akan banyak hal. Rumah adalah tempat di mana kamu belajar bermimpi untuk masa depanmu. Di sini, di panti asuhan ini, ada teman-teman yang selalu siap di sampingmu kapan pun kamu membutuhkan mereka. Di panti asuhan ini, kamu berteduh dari panasnya matahari atau dinginnya hujan dan beristirahat saat kamu kelelahan. Tidakkah itu membuat kamu bersyukur sayang?"

"Tapi aku mau ayah bundaku.." ujarku lirih sambil menundukkan kepala, menahan air mata.

"Ayah bunda selalu ada di dekatmu, meskipun kamu tidak bisa melihat dan memeluk mereka lagi. Ayah bunda tidak pernah lupa berdoa dari surga supaya kelak kamu menjadi anak yang sukses. Ayah bunda tidak pernah lupa meminta Tuhan untuk menjagamu, sayang. Ayah bunda ada di sini.." uajrnya sambil menunjuk ke arah dadaku.

Bersyukur. Di rumah ini, di panti asuhan ini, aku akan belajar bersyukur. Dan di rumah ini juga, aku akan belajar membangun mimpi-mimpiku.

"Sekarang aku tahu apa cita-citaku," ujarku mantap sambil berkacak pinggang ibarat orang dewasa.

"Kalau sudah besar nanti, aku mau bikin panti asuhan yang besaaarr. Di dalamnya ada ayunan, taman bermain, dan perpustakaan. Aku mau membuat anak-anak yatim piatu yang tinggal di sana nanti merasa bahwa mereka memiliki rumah baru yang nyaman untuk membangun mimpi-mimpi mereka juga"

Aku tersenyum bangga. Dalam hati aku berjanji bahwa mulai saat ini, di rumah ini, aku akan banyak bersyukur dan belajar yang rajin agar mimpiku kelak dapat terwujud.

Kakak, terimakasih untuk arti kata rumah yang baru
:)

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi 2019: Mengurangi Benci

Saya memang tergolong orang yang selalu memiliki rencana atau target. Kalau ibarat sebuah permainan, setelah melewati level 1 maka saya akan berlanjut ke level 2, begitu seterusnya hingga permainan tersebut berakhir. Bicara tentang pergantian tahun, orang seringkali mengaitkan itu dengan resolusi. Sebagian besar orang akan memposting di sosial media apa saja resolusinya di tahun baru, yang kemudian akan di-amin-i oleh rekan yang membaca postingan tersebut. Saya? Percaya atau tidak, saya justru jarang memposting tentang resolusi. Hal itu bukan karena saya tidak memiliki resolusi. Bisa dibilang, ada dua alasan. Pertama, resolusi bagi saya adalah suatu hal yang pribadi. Sebut saja, sebuah janji kepada diri saya sendiri yang tidak perlu mendapat legitimasi. Kedua, resolusi saya seringkali berubah sewaktu-waktu (maha benar libra dengan segala kelabilannya wkwkwkwkwk). Tahun 2018 kemarin sejujurnya bukan tahun yang mudah bagi saya. Mungkin jika harus membuat perbandingan, porsi sed...

(NOT) AN INSTANT JUDGMENT

Saya sudah menggeluti bidang sumber daya manusia selama sekitar 7 tahun. Sebuah rentang waktu yang cukup lama untuk bertemu dengan orang dari berbagai latar belakang dan karakter. Seluruh perusahaan tempat saya bekerja menaruh tugas rekrutmen sebagai salah satu indikator pencapaian. Tidak heran, saya cukup familiar dengan metode interview dan juga beberapa alat tes, terutama tes kepribadian. Saya pribadi termasuk golongan orang yang percaya akan pengaruh faktor kepribadian dalam keberhasilan seseorang. Oleh karena itu, biasanya saat pelaksanaan psikotes akan lebih banyak digunakan tes kepribadian dibandingkan kecerdasan. Meskipun saya seorang sarjana psikologi, saya tidak sembarangan memberikan analisa atau interpretasi dari alat tes. Terutama jika alat tesnya adalah alat tes proyeksi, seperti misalnya tes grafis menggambar pohon, manusia. Ketika menempuh pendidikan strata 1 selama 3.5 tahun memang saya pernah mempelajari alat tes tersebut. Tapi sesuai dengan kode etik psikologi,...

Dieu

Allah Beri aku kekuatan untuk percaya Bahwa rencana-Mu pasti luar biasa Allah Aku tahu bahwa Engkau menggenggam hatiku Jangan biarkan hatiku jatuh pada yang tidak mencintai-Mu Allah Aku percaya bahwa Engkau mampu membolak-balikkan hatiku Maka jangan biarkan aku tenggelam dalam pilu Allah Jangan biarkan aku menyesapi kesedihan yang berlebihan Ajari aku merasa cukup dengan cinta-Mu saja Agar aku percaya bahwa tiada kehilangan melainkan akan Engkau ganti dengan yang lebih bermakna Allah, aku pasrah