Skip to main content

Menata Mimpi

Beberapa hari lalu saat selesai sahur dan tidak bisa tidur lagi, saya iseng melihat akun instagram salah satu teman kuliah saya
Bosan melihat foto-foto yang dia upload, saya "bergerilya" melihat followersnya
Di situ, saya menemukan akun adik tingkat saya yang sama-sama berasal dari Denpasar
Singkat cerita lah karena ke-kepo-an saya sedang tinggi, saya mengubek-ubek akun instagram adik tingkat yang baru saja melahirkan itu
Dan dari akunnya, saya menemukan akun-akun teman saya di SMA dulu

Ada perasaan "nyess" saat melihat akun-akun instagram milik teman saya semasa SMA
I could see clearly, most of them have been reaching their dreams
Ada yang sudah menjadi dokter
Ada yang menjadi perawat
Ada yang lulus program magister di ilmu hubungan internasional dan mengikuti konferensi di beberapa negara
Ada yang sudah berkeliling Eropa sebagai hadiah wisata dari tempatnya bekerja
Begh!

Tanpa bisa dicegah, ada rasa inferior yang mendadak muncul
Saya siapa? Apa yang bisa saya banggakan?

Lalu sedetik kemudian, saya teringat lagi mimpi-mimpi saya yang belum terwujud
Allah.. banyak sekali target saya yang belum tercapai...

Rasa inferior tadi secepat kilat berganti menjadi rasa bersalah
Pelan-pelan saya mulai mengingat-ingat kembali segala usaha saya untuk mencapai mimpi-mimpi itu
Hasilnya? Makin ngenes!
Saya mulai mengutuk sifat inkonsisten saya

Saya tidak berusaha secara maksimal dan konsisten dalam mencapai mimpi saya
Dan saya tidak berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah untuk memudahkan jalan saya menggapai mimpi itu
Setelah sholat kalau saya ingat ya berdoa, kalau tidak ya sudah
Ikhtiar macam apa itu?

Tidak ada kesuksesan yang tidak beriringan dengan konsistensi
Doa dan usaha, semuanya harus berjalan selaras dan konsisten
Bukan setengah-setengah atau seingatnya!

Puas dengan rasa bersalah yang membolak-balikkan suasana hati saya saat itu, saya kembali teringat akan satu hal
Kesuksesan teman boleh menjadi cambuk bagi saya agar menjadi lebih baik
Tapi di sisi lain, saya pun harus bersyukur

Entah ada berapa ratus lamaran yang sudah saya sortir selama hampir 2 tahun bekerja di perusahaan ini
Dan selama itu pula, saya seringkali melihat angka gaji di perusahaan lain yang membuat saya seketika beristighfar dan mengucap syukur

Usia dari para kandidat itu rata-rata sudah 30 ke atas, bahkan 40
Tapi gaji pokok yang mereka dapat masih berkisar di angka 1,5 - 2,5 juta
Otak saya tidak habis berpikir bagaimana uang segitu mampu mencukupi kebutuhan mereka dan keluarganya

Sementara saya yang belum genap 2 tahun bekerja dan usia belum genap 24, sudah mencapai gaji yang jauh dari itu
Bagian mana yang membuat saya menjadi tidak bersyukur?

Setiap bulan saya bisa membeli baju, kemeja, tas atau sepatu baru
Saya kos di tempat yang layak
Saya bisa makan di restoran ternama yang saya inginkan
Apalagi yang membuat saya tidak bersyukur?

Iya memang. Kalau saya terus melihat ke atas, ada banyak teman saya yang jauh lebih sukses dan kaya.
Tapi ada lebih banyak juga orang-orang yang tidak seberuntung saya
Kata bunda dulu, di atas langit masih ada langit
Kalau kita terlalu banyak melihat ke atas, kita akan lupa bersyukur

Nah, sekarang saya semakin bersyukur karena memiliki bunda luar biasa yang telah mengajarkan saya untuk sekuat tenaga mengejar cita-cita tapi juga berempati pada kondisi orang lain

Baiklah. Mari menata langkah kembali untuk menggapai mimpi.
Semoga Allah mudahkan
:)

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi 2019: Mengurangi Benci

Saya memang tergolong orang yang selalu memiliki rencana atau target. Kalau ibarat sebuah permainan, setelah melewati level 1 maka saya akan berlanjut ke level 2, begitu seterusnya hingga permainan tersebut berakhir. Bicara tentang pergantian tahun, orang seringkali mengaitkan itu dengan resolusi. Sebagian besar orang akan memposting di sosial media apa saja resolusinya di tahun baru, yang kemudian akan di-amin-i oleh rekan yang membaca postingan tersebut. Saya? Percaya atau tidak, saya justru jarang memposting tentang resolusi. Hal itu bukan karena saya tidak memiliki resolusi. Bisa dibilang, ada dua alasan. Pertama, resolusi bagi saya adalah suatu hal yang pribadi. Sebut saja, sebuah janji kepada diri saya sendiri yang tidak perlu mendapat legitimasi. Kedua, resolusi saya seringkali berubah sewaktu-waktu (maha benar libra dengan segala kelabilannya wkwkwkwkwk). Tahun 2018 kemarin sejujurnya bukan tahun yang mudah bagi saya. Mungkin jika harus membuat perbandingan, porsi sed...

(NOT) AN INSTANT JUDGMENT

Saya sudah menggeluti bidang sumber daya manusia selama sekitar 7 tahun. Sebuah rentang waktu yang cukup lama untuk bertemu dengan orang dari berbagai latar belakang dan karakter. Seluruh perusahaan tempat saya bekerja menaruh tugas rekrutmen sebagai salah satu indikator pencapaian. Tidak heran, saya cukup familiar dengan metode interview dan juga beberapa alat tes, terutama tes kepribadian. Saya pribadi termasuk golongan orang yang percaya akan pengaruh faktor kepribadian dalam keberhasilan seseorang. Oleh karena itu, biasanya saat pelaksanaan psikotes akan lebih banyak digunakan tes kepribadian dibandingkan kecerdasan. Meskipun saya seorang sarjana psikologi, saya tidak sembarangan memberikan analisa atau interpretasi dari alat tes. Terutama jika alat tesnya adalah alat tes proyeksi, seperti misalnya tes grafis menggambar pohon, manusia. Ketika menempuh pendidikan strata 1 selama 3.5 tahun memang saya pernah mempelajari alat tes tersebut. Tapi sesuai dengan kode etik psikologi,...

Dieu

Allah Beri aku kekuatan untuk percaya Bahwa rencana-Mu pasti luar biasa Allah Aku tahu bahwa Engkau menggenggam hatiku Jangan biarkan hatiku jatuh pada yang tidak mencintai-Mu Allah Aku percaya bahwa Engkau mampu membolak-balikkan hatiku Maka jangan biarkan aku tenggelam dalam pilu Allah Jangan biarkan aku menyesapi kesedihan yang berlebihan Ajari aku merasa cukup dengan cinta-Mu saja Agar aku percaya bahwa tiada kehilangan melainkan akan Engkau ganti dengan yang lebih bermakna Allah, aku pasrah