Skip to main content

CATATAN HATI WANITA GALAU: TENTANG MENIKAH

Memasuki usia 27, memasuki masa dimana telinga dan hati harus kebal menghadapi pertanyaan “Kapan nikah?”.
YHA.

At first, I thought it was suck. And now I understand, the different between care and kepo. Saya mulai terbiasa membedakan mana yang bertanya karena sekadar mengikuti norma atau memang berharap kebahagiaan saya agar segera menggenapkan separuh agama.

Pertanyaan “kapan nyusul?” is really suck. Seriously. Marriage is NOT a racing. Terserah jika ini disebut sebagai sebuah pembelaan atau apa. Tapi bagi saya, perkara menikah bukanlah sebuah ajang perlombaan. Dalam agama yang saya anut, sudah jelas diajarkan bahwa jodoh, rezeki dan maut adalah hak mutlak milik Dia Yang Maha Kuasa. Lalu, kenapa masih bertanya? Memangnya manusia bisa apa? Ya hanya bisa berusaha. Sebatas itu saja.

Semakin bertambahnya usia, saya semakin sadar. Menikah bukan sekadar perkara menghalalkan yang haram. Menikah tidak sesederhana perkara perasaan saya mencintai dia dan ingin menghabiskan sisa hidup saya bersama dia. Sepemahaman saya, dasar dari setiap tindakan (termasuk mencintai) adalah komitmen. Dan percayalah, komitmen ketika sudah berumahtangga tidaklah sama dengan komitmen ketika pacaran. Sebanyak apapun yang kamu tahu tentang pasanganmu ketika pacaran, tidak menjamin rumah tanggamu kelak akan baik-baik saja. Dan sisi skeptis dalam diri saya juga berkata bahwa hati manusia bisa berubah kapan saja.

Ada sebuah kalimat dari kakak saya yang begitu menancap di hati dan otak saya. “Kamu mungkin akan menemukan jodohmu ketika kamu sudah mampu menerima kekurangan orang lain dengan sempurna”. Kalimatnya mungkin terdengar klise atau biasa saja. Tapi bagi saya, kalimat itu ibarat tamparan keras yang meluluhlantakkan semua ego saya.

Saya dengan sadar mengakui bahwa salah satu kelemahan (atau mungkin keanehan) saya adalah mudah sekali ILFEEL. Saya bisa langsung uring-uringan dan kehilangan selera ketika lelaki yang bersama saya makan dengan menimbulkan suara (mengecap). Saya bisa langsung jengah membaca bbm atau pesan dengan kalimat “km mo makan apa?”  Atau tata bahasa alien lainnya. Saya bisa langsung kesal setengah mati dengan guyonan garing semacam, “kamu kan emang hobinya makan melulu” disaat saya sedang merasa sensi dengan berat badan dan melakukan berbagai cara untuk diet. Ya kan siapa elu, seenak jidatnya ngebecandain badan gue. Gue makan juga bukan dari elu.

Intinya, ada banyak sekali hal yang (mungkin) sebetulnya sederhana, tetapi menjadi masalah besar bagi saya. Seolah saya menuntut segala sesuatu sempurna sesuai standar saya. Padahal, beda kepala beda selera. Beda kepala beda budaya. Itu baru permasalahan sederhana. Jika seandainya sudah menikah dan tinggal serumah, akan ada lebih banyak lagi kebiasaan pasangan yang tidak sesuai dengan harapan kita. Dan kalau saya masih bertahan dengan egosentrisme seperti dulu (saat ini), saya curiga bahwa usia pernikahan saya kelak akan lebih muda dibanding umur jagung. Sekali lagi, mencintai adalah perkara bertahan pada pilihan. Berkomitmen berarti siap bersetia pada pilihan, dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada. Berkomitmen berarti siap bernegosiasi dan bertoleransi dengan banyaknya perbedaan yang ada. Berkomitmen berarti siap bersikap asertif menyampaikan apa yang kita tidak suka, alih-alih langsung cemberut dan membiarkan pasangan bertanya-tanya ada apa dengan perubahan sikap kita (noh, dengerin noh fan!).
Percayalah, itu bukan hal yang mudah. 

Kalau kamu berpikir bahwa menceritakan masalah pribadi ke orang lain adalah hal yang mudah, maka saya pastikan bahwa pemikiran tersebut salah. Setidaknya, tidak berlaku bagi saya.

Saya terlanjur terbiasa dengan kondisi dimana semua perasaan saya pendam sendiri. Saya masih ingat dengan jelas ketika kakak saya menceritakan seluruh kejadian yang dialami di sekolah pada hari itu kepada Bunda. Bahkan meskipun saat itu Bunda sudah mengantuk, kakak saya akan tetap memaksa Bunda untuk mendengarkan ceritanya. Sedangkan saya? Jangankan bercerita tentang kejadian di sekolah. Saya akan lebih memilih diam, membaca buku, atau bahkan tidur daripada harus menceritakan pengalaman saya di hari itu.

Beberapa hari sebelum meninggal, Bunda menatap lembut wajah saya dengan raut penuh kesedihan. Sambil menahan sakit, Bunda berkata dengan matanya yang sedikit berkaca-kaca, “Adek, Bunda minta adek belajar lebih terbuka sama orang lain, ya. Jangan sampai semua masalah dipendam sendiri. Belajar untuk mulai dekat sama teman laki-laki.”

Bunda berkata seperti itu bukannya tanpa alasan. Bunda sadar bahwa saya jarang sekali menceritakan masalah yang saya alami. Bunda jarang sekali melihat saya menangis ketika memiliki masalah. Saya lebih memilih diam, menulis diary, atau menangis di bawah tumpukan bantal agar tidak ada yang tahu. Saya pun tidak pernah terlihat dekat atau memiliki hubungan istimewa dengan teman laki-laki saya (FYI, saya baru memiliki pacar pertama kali setelah lulus SMA dan itu pun  tidak bertahan lama). Kakak saya yang bisa dikatakan kuper saja sudah pernah mengenalkan pacarnya ke Bunda. Berbeda dengan saya yang selalu menjawab, “Oh. Itu cuma temen biasa kok, bund” setiap kali bunda tahu saya mendapat telepon, pesan singkat, atau menyebutkan nama teman laki-laki saya.

Kondisi itu ditambah lagi dengan saya yang sejak 2007 pindah ke Surabaya dan menjadi anak kos yang mandiri. Segala kebutuhan, segala keluhan dan permasalahan otomatis harus saya selesaikan seorang diri. Saya tidak terbiasa menanyakan pendapat orang lain mengenai masalah-masalah yang rumit (bukan berarti tidak pernah curhat, sih. Pernah, tapi jarang. Kecuali saya benar-benar mempercayai orang tersebut).

Kondisi ini membuat saya tanpa sadar membangun banyak barrier dengan orang lain. Kondisi ini membuat saya merasa tidak nyaman “berbagi” dengan orang lain, termasuk pasangan saya. Saya masih seringkali takjub dengan teman saya yang bisa terbuka dengan pasangannya mengenai masalah keuangan sehingga pacarnya mengetahui kapan dia tidak memiliki uang untuk membayar makan malam. Saya pernah ditanya seperti itu dan ujung-ujungnya kami bertengkar karena saya tetap ngotot tidak mau memberitahukan sisa uang yang saya miliki (meskipun saat itu duit saya sejujurnya sudah hampir habis tak bersisa).
*dear mantan, gue bukan ngomongin tentang lo kok*

Itu baru masalah sederhana. Masih ada banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lain yang tidak saya jawab karena saya merasa bahwa itu adalah ranah privacy saya yang tidak bisa diganggu gugat. Ada perasaan insecure ketika saya harus menceritakan bagian “dalam” dari diri saya ke orang lain. 

Dalam otak saya selalu terbersit pertanyaan, apakah dia bisa menyimpan rahasia yang saya ceritakan ini? Apakah dia bisa memberikan saran dan solusi dengan cara yang bisa saya terima? Percayalah, saya pernah menjadi semakin introvert karena merasa bahwa pasangan saya tidak bisa merespon dengan benar setiap cerita yang saya sampaikan (niat curhat selalu berujung pada perdebatan konyol yang melelahkan dan membuat saya berpikir, lain kali gua nggak perlu cerita ke elo kalo ujung-ujungnya kayak begini)
*dear mantan, please jangan ge-er. Gua nggak ngebahas tentang lo*

Saat masih berpacaran, kondisi semacam itu masih bisa teredam dengan adanya jarak. Jarak dalam arti kami tidak tinggal serumah, akan lebih mudah untuk mengalihkan pikiran terhadap hal lain. Tapi bagaimana jika sudah menikah dan tinggal serumah bahkan sekamar – sekasur? Bangun tidur yang diliat dia. Mau tidur, dia lagi. Ngana mau lari?

Saya juga tidak jarang mengetahui masalah rumah tangga teman atau saudara saya dalam hal finansial. Hal yang bagi hampir semua makhluk di bumi merupakan hal yang sangat sensitif. Bagaimana kita bisa berbagi dengan pasangan mengenai masalah keuangan. Bagaimana sebagai seorang istri bisa menerima dengan ridho berapapun nafkah halal yang diberikan oleh suaminya. Saya pernah menangis diam-diam ketika mengetahui bahwa salah satu saudara saya hanya mendapat jatah uang bulanan sekitar satu juta rupiah dari suaminya. Oke, dengan kondisi tanggungan 3 orang anak. TI – GA!

Otak saya mendadak ngilu membayangkan uang satu juta rupiah dibagi untuk 4 orang. Bukannya saya bermaksud mengecilkan Sang Maha Pemberi Rezeki. Hanya saja, segala sesuatu haruslah dipikirkan dengan baik terutama jika hal itu menyangkut kehidupan orang lain.

Saya juga pernah mendengar cerita tentang seorang teman saya yang suaminya berhenti bekerja begitu saja, lalu memilih untuk ikut MLM yang (maaf) sudah jelas palsu. Teman saya yang berprofesi sebagai model ini akhirnya banting tulang bekerja dari satu fashion show ke fashion show lain untuk membiayai kehidupannya sendiri. Saya tidak habis pikir mengapa mereka masih bertahan dalam ikatan semacam itu. Untuk saat ini, entah karena idealisme atau karena belum menikah, saya (mungkin) akan memilih untuk berpisah jika dalam kondisi semacam itu. Tapi, apakah pernikahan hanya dilihat dari sisi materi? Ini pernikahan atau transaksi?

Menikah juga bukan hanya perkara menyatukan dua insan. Pernikahan juga merupakan sebuah penyatuan dua buah keluarga yang bisa jadi sangat berbeda. dalam ajaran agama yang saya anut, jelas disebutkan bahwa surga seorang istri terletak pada suaminya. Namun surga seorang suami, sampai kapanpun adalah ibunya. Dan lagi-lagi saya yang skeptis ini dihantui oleh berbagai drama tentang mertua. Apakah nanti saya mampu meredam keegoisan saya ketika pada suatu saat suami saya harus mendahulukan ibunya? Saya harus mengabdi kepada suami, sementara suami tetap harus mengabdi kepada ibunya. Saya yang berkorban, tetapi saya dinomorduakan?

Saya adalah anak piatu. Dengan kondisi tidak memiliki ibu, saya diam-diam menyimpan harapan agar kelak mendapatkan mertua yang bisa menyayangi saya seperti anaknya sendiri. Seorang mertua yang akan dengan bangga memperkenalkan saya sebagai menantunya disaat acara kumpul keluarga atau arisan. Seorang mertua yang tidak akan mempermasalahkan seburuk apapun masa lalu saya. Seorang mertua yang akan berpesan kepada anak lelakinya agar tidak menyakiti hati saya karena sudah terlalu banyak luka yang saya terima.

Sejujurnya, banyak mendengar cerita tentang masalah rumah tangga semacam itu membuat saya menjadi paranoid.
Sanggupkah saya berbagi dengan orang lain disaat saya belasan tahun terbiasa mandiri?
Sanggupkah saya meredam ego saya dan mengabdi kepada suami saya kelak?
Sanggupkah saya tetap menghormati dia sebagai pemimpin saya jikalau seandainya nanti saya memiliki penghasilan yang lebih tinggi darinya?
Sanggupkah saya mengalah dan mengubur semua mimpi saya jika seandainya suami saya kelak meminta saya untuk menjadi ibu rumah tangga dan menerima segala nafkah halal yang dia berikan? Sanggupkah saya berbagi segala ketakutan dan kecemasan saya kepada orang yang sama setiap hari? Bisakah dia menerima saya dan segala pikiran buruk yang berkecamuk?
Bisakah pelukannya menenangkan saya disaat gundah?
Bisakah kecupan hangatnya di kening setiap akan berangkat kerja menjadi penyejuk hari saya?

Jangan terkejut dengan banyaknya pertanyaan dan keraguan dalam kepala saya. Saya pernah menjadi korban ketidakharmonisan dalam rumah tangga yang membuat masa kecil saya penuh dengan kenangan buruk. Jadi, tidak perlu berceramah kepada saya tentang pentingnya menyegerakan menikah. 

Karena ibadah yang akan dihisab tidak hanya menikah dan berbakti kepada suami. Beri saya waktu untuk memantaskan diri dan berdamai dengan keributan dalam hati. Mungkin, sekadar doa dalam diam akan menjadi hadiah yang terbaik daripada menasehati seolah kamulah yang ahli.

*catatan hati seorang wanita galau yang bosan ditanya kapan menikah di saat masih banyak hal yang ingin dicapai sebelum menikah dan langsung depresi melihat biaya sewa gedung dan ketring*


Comments

Popular posts from this blog

Resolusi 2019: Mengurangi Benci

Saya memang tergolong orang yang selalu memiliki rencana atau target. Kalau ibarat sebuah permainan, setelah melewati level 1 maka saya akan berlanjut ke level 2, begitu seterusnya hingga permainan tersebut berakhir. Bicara tentang pergantian tahun, orang seringkali mengaitkan itu dengan resolusi. Sebagian besar orang akan memposting di sosial media apa saja resolusinya di tahun baru, yang kemudian akan di-amin-i oleh rekan yang membaca postingan tersebut. Saya? Percaya atau tidak, saya justru jarang memposting tentang resolusi. Hal itu bukan karena saya tidak memiliki resolusi. Bisa dibilang, ada dua alasan. Pertama, resolusi bagi saya adalah suatu hal yang pribadi. Sebut saja, sebuah janji kepada diri saya sendiri yang tidak perlu mendapat legitimasi. Kedua, resolusi saya seringkali berubah sewaktu-waktu (maha benar libra dengan segala kelabilannya wkwkwkwkwk). Tahun 2018 kemarin sejujurnya bukan tahun yang mudah bagi saya. Mungkin jika harus membuat perbandingan, porsi sed...

(NOT) AN INSTANT JUDGMENT

Saya sudah menggeluti bidang sumber daya manusia selama sekitar 7 tahun. Sebuah rentang waktu yang cukup lama untuk bertemu dengan orang dari berbagai latar belakang dan karakter. Seluruh perusahaan tempat saya bekerja menaruh tugas rekrutmen sebagai salah satu indikator pencapaian. Tidak heran, saya cukup familiar dengan metode interview dan juga beberapa alat tes, terutama tes kepribadian. Saya pribadi termasuk golongan orang yang percaya akan pengaruh faktor kepribadian dalam keberhasilan seseorang. Oleh karena itu, biasanya saat pelaksanaan psikotes akan lebih banyak digunakan tes kepribadian dibandingkan kecerdasan. Meskipun saya seorang sarjana psikologi, saya tidak sembarangan memberikan analisa atau interpretasi dari alat tes. Terutama jika alat tesnya adalah alat tes proyeksi, seperti misalnya tes grafis menggambar pohon, manusia. Ketika menempuh pendidikan strata 1 selama 3.5 tahun memang saya pernah mempelajari alat tes tersebut. Tapi sesuai dengan kode etik psikologi,...

Dieu

Allah Beri aku kekuatan untuk percaya Bahwa rencana-Mu pasti luar biasa Allah Aku tahu bahwa Engkau menggenggam hatiku Jangan biarkan hatiku jatuh pada yang tidak mencintai-Mu Allah Aku percaya bahwa Engkau mampu membolak-balikkan hatiku Maka jangan biarkan aku tenggelam dalam pilu Allah Jangan biarkan aku menyesapi kesedihan yang berlebihan Ajari aku merasa cukup dengan cinta-Mu saja Agar aku percaya bahwa tiada kehilangan melainkan akan Engkau ganti dengan yang lebih bermakna Allah, aku pasrah