Skip to main content

Sekelebat Perbandingan

Bulan April hampir berakhir
Dan saya terjebak pada satu ruang yang memaksa saya untuk berpikir

Apa saja target saya di tahun ini?
Apa saja usaha saya agar target tercapai?
Sudah sejauh mana progressnya di 4 bulan awal ini?

"Yaelah, fan. Hidup lo nggak selow amat sih. Dibawa santai aja keleus."

Jadi gini, bro. Hidup memang terus mengalir
Tapi apa lo mau kalau mengalirnya ke comberan?
Santai bukan berarti tidak berpikir
Santai bukan berarti tidak berubah

Saya hanya takut jika saya mengulangi ketololan yang sama dengan dia
Iya. 
Dia yang pernah mengatakan bahwa penghalang utama kemajuannya adalah ketidakmampuan memanage waktu dengan bijaksana
Tapi nyatanya, sampai negara api menyerang ya kelakuannya tetap seperti itu-itu saja
Tidak ada yang berubah dengan skala prioritasnya
Yang ada hanyalah jutaan alibi, "aku sudah berusaha" tapi ketika ditanya "lalu mana progressnya?" hanya bisa diam seribu bahasa

Kan anying kan...

Dan saya mulai dihantui dengan pikiran:
"Kalo lo tetep nggak berubah juga, fan, berarti lo sama tololnya dengan dia-yang-tidak-boleh-disebut-lagi-namanya!"
FAK!

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi 2019: Mengurangi Benci

Saya memang tergolong orang yang selalu memiliki rencana atau target. Kalau ibarat sebuah permainan, setelah melewati level 1 maka saya akan berlanjut ke level 2, begitu seterusnya hingga permainan tersebut berakhir. Bicara tentang pergantian tahun, orang seringkali mengaitkan itu dengan resolusi. Sebagian besar orang akan memposting di sosial media apa saja resolusinya di tahun baru, yang kemudian akan di-amin-i oleh rekan yang membaca postingan tersebut. Saya? Percaya atau tidak, saya justru jarang memposting tentang resolusi. Hal itu bukan karena saya tidak memiliki resolusi. Bisa dibilang, ada dua alasan. Pertama, resolusi bagi saya adalah suatu hal yang pribadi. Sebut saja, sebuah janji kepada diri saya sendiri yang tidak perlu mendapat legitimasi. Kedua, resolusi saya seringkali berubah sewaktu-waktu (maha benar libra dengan segala kelabilannya wkwkwkwkwk). Tahun 2018 kemarin sejujurnya bukan tahun yang mudah bagi saya. Mungkin jika harus membuat perbandingan, porsi sed...

(NOT) AN INSTANT JUDGMENT

Saya sudah menggeluti bidang sumber daya manusia selama sekitar 7 tahun. Sebuah rentang waktu yang cukup lama untuk bertemu dengan orang dari berbagai latar belakang dan karakter. Seluruh perusahaan tempat saya bekerja menaruh tugas rekrutmen sebagai salah satu indikator pencapaian. Tidak heran, saya cukup familiar dengan metode interview dan juga beberapa alat tes, terutama tes kepribadian. Saya pribadi termasuk golongan orang yang percaya akan pengaruh faktor kepribadian dalam keberhasilan seseorang. Oleh karena itu, biasanya saat pelaksanaan psikotes akan lebih banyak digunakan tes kepribadian dibandingkan kecerdasan. Meskipun saya seorang sarjana psikologi, saya tidak sembarangan memberikan analisa atau interpretasi dari alat tes. Terutama jika alat tesnya adalah alat tes proyeksi, seperti misalnya tes grafis menggambar pohon, manusia. Ketika menempuh pendidikan strata 1 selama 3.5 tahun memang saya pernah mempelajari alat tes tersebut. Tapi sesuai dengan kode etik psikologi,...

Dieu

Allah Beri aku kekuatan untuk percaya Bahwa rencana-Mu pasti luar biasa Allah Aku tahu bahwa Engkau menggenggam hatiku Jangan biarkan hatiku jatuh pada yang tidak mencintai-Mu Allah Aku percaya bahwa Engkau mampu membolak-balikkan hatiku Maka jangan biarkan aku tenggelam dalam pilu Allah Jangan biarkan aku menyesapi kesedihan yang berlebihan Ajari aku merasa cukup dengan cinta-Mu saja Agar aku percaya bahwa tiada kehilangan melainkan akan Engkau ganti dengan yang lebih bermakna Allah, aku pasrah