Saya sudah menggeluti bidang sumber daya manusia selama
sekitar 7 tahun. Sebuah rentang waktu yang cukup lama untuk bertemu dengan
orang dari berbagai latar belakang dan karakter. Seluruh perusahaan tempat saya
bekerja menaruh tugas rekrutmen sebagai salah satu indikator pencapaian. Tidak
heran, saya cukup familiar dengan metode interview dan juga beberapa alat tes,
terutama tes kepribadian. Saya pribadi termasuk golongan orang yang percaya
akan pengaruh faktor kepribadian dalam keberhasilan seseorang. Oleh karena itu,
biasanya saat pelaksanaan psikotes akan lebih banyak digunakan tes kepribadian
dibandingkan kecerdasan.
Meskipun saya seorang sarjana psikologi, saya tidak
sembarangan memberikan analisa atau interpretasi dari alat tes. Terutama jika
alat tesnya adalah alat tes proyeksi, seperti misalnya tes grafis menggambar
pohon, manusia. Ketika menempuh pendidikan strata 1 selama 3.5 tahun memang
saya pernah mempelajari alat tes tersebut. Tapi sesuai dengan kode etik
psikologi, seorang sarjana psikologi tidak dibenarkan memberikan interpretasi
alat tes. Hal itu harus dilakukan oleh psikolog.
Mungkin banyak yang bertanya-tanya mengapa psikotes
dilakukan dengan menggunakan lebih dari 1 alat tes. Hal tersebut biasanya
dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan bahan pembanding. Jika alat tes
pertama mengatakan hasilnya A, apakah benar hasil yang sama akan muncul pada
tes kedua. Ribet? Iya. Karena kita sedang membicarakan tentang manusia, bukan
sekadar memilih warna.
Saya ingat dulu seorang dosen saya pernah berkata bahwa jika
seorang dokter melakukan malpraktik, maka risikonya adalah nyawa pasien. Jika pasien
meninggal, end of story. Tidak ada
kelanjutannya. Namun jika seorang psikolog melakukan malpraktik, klien memang
tidak akan kehilangan nyawa. Namun klien bisa memegang konsep diri yang salah
seumur hidupnya karena kesalahan interpretasi. Sebagai contoh, dosen saya
tersebut pernah didiagnosa sebagai anak berkebutuhan khusus, padahal nyatanya
tidak. Beruntung dosen saya dan orang tuanya tidak serta merta mempercayai diagnosa
tersebut dan mencari psikolog pembanding. Bayangkan jika mereka menyerah dan
mempercayai diagnosa tersebut sepanjang hidupnya.
Belakangan ini saya menjadi agak terganggu dengan maraknya
penjualan secara bebas alat tes psikologi. Bahkan dalam salah satu komunitas
HRD yang saya ikuti, alat tes tersebut dijual per paket. Sebagian besar alat
tesnya sudah tidak asing bagi saya karena sudah saya pelajari sejak kuliah dan
saya gunakan dalam dunia kerja. Saya merasa miris karena tidak semua HRD dalam
grup tersebut adalah sarjana psikologi. Padahal dalam setiap cover alat tes
akan jelas tertulis: PENGGUNAAN TERBATAS OLEH PSIKOLOG (yang artinya bahkan
seorang sarjana psikologi pun sebenarnya tidak berhak).
Alat tes psikologi itu ibarat stetoskop, tensimeter, atau termometer
dalam dunia medis. Jika kita menggunakan alat-alat tersebut, memang akan
memunculkan sebuah angka atau hasil. Namun angka/hasil tersebut tidak serta
merta membawa kita pada sebuah kesimpulan. Diperlukan beberapa tes lanjutan
untuk mencapai sebuah kesimpulan. Jika termometer menunjukkan bahwa suhu badan
pasien adalah 37.2 derajat celcius, bukan berarti dokter bisa langsung
menyimpulkan bahwa pasien tersebut terkena demam berdarah. Tentu akan
diperlukan beberapa tes lagi dan juga interview kepada pasien atau keluarganya
untuk benar-benar memastikan diagnosa tersebut. Jadi, tidak boleh terjadi
sebuah penilaian instan yang pada akhirnya akan berakibat fatal.
Saya seringkali merenung bagaimana bisa orang-orang yang
tidak memiliki latar belakang psikologi tersebut menggunakan alat tes dengan
bebas dan memberikan interpretasi. Bagaimana jika terjadi kesalahan diagnosa? Siapa
yang mau bertanggungjawab?
Mungkin pemikiran saya terlalu sederhana. Saya tahu bahwa
kita bebas mempelajari apa saja yang kita mau. Namun sebagai orang yang
berpendidikan, ada baiknya kita belajar menghargai kode etik profesi
masing-masing. Ada banyak hal yang tidak bisa kita terabas begitu saja. Saya paham
bahwa tindakan tersebut juga didasari oleh tuntutan dari pekerjaan. Tapi jika
kita mempertimbangkan dampak jangka panjangnya, mungkin kita bisa menjadi lebih
bijaksana.
Saya percaya, manusia adalah makhluk yang kompleks. Dan saya
juga percaya bahwa untuk dapat melakukan penilaian yang kompleks, tidak bisa
dilakukan dengan instan.
Comments
Post a Comment