Skip to main content

Resolusi 2019: Mengurangi Benci


Saya memang tergolong orang yang selalu memiliki rencana atau target. Kalau ibarat sebuah permainan, setelah melewati level 1 maka saya akan berlanjut ke level 2, begitu seterusnya hingga permainan tersebut berakhir. Bicara tentang pergantian tahun, orang seringkali mengaitkan itu dengan resolusi. Sebagian besar orang akan memposting di sosial media apa saja resolusinya di tahun baru, yang kemudian akan di-amin-i oleh rekan yang membaca postingan tersebut.

Saya? Percaya atau tidak, saya justru jarang memposting tentang resolusi. Hal itu bukan karena saya tidak memiliki resolusi. Bisa dibilang, ada dua alasan. Pertama, resolusi bagi saya adalah suatu hal yang pribadi. Sebut saja, sebuah janji kepada diri saya sendiri yang tidak perlu mendapat legitimasi. Kedua, resolusi saya seringkali berubah sewaktu-waktu (maha benar libra dengan segala kelabilannya wkwkwkwkwk).

Tahun 2018 kemarin sejujurnya bukan tahun yang mudah bagi saya. Mungkin jika harus membuat perbandingan, porsi sedih lebih banyak dibanding porsi bahagia. Tetapi saya bersyukur setidaknya saya mampu menjalaninya dengan santai, dan menerima semua naik-turun itu sebagai bagian dari perjalanan hidup saya. Pertambahan usia mungkin membuat saya lebih memilah mana yang harus saya pikirkan secara mendalam, dan mana yang cukup diperhatikan sebentar lalu ditinggalkan dalam diam. Dengan dinamika emosi yang saya hadapi selama 3 tahun belakangan ini, saya akhirnya menemukan sesuatu yang pantas dijadikan resolusi 2019. Satu kalimat, dua kata: mengurangi benci.
Ada sebuah hal besar yang terjadi dalam hidup saya selama 3 tahun belakangan. Sebuah hal yang tidak perlu saya ceritakan secara gamblang kepada orang yang tidak berkepentingan. Sebuah hal yang membuat kepercayaan diri saya jatuh hingga ke titik terendah, dan membuat saya kembali mempertanyakan tentang relasi saya dengan beberapa orang signifikan. Di luar dugaan, hingga detik ini ternyata saya masih memilih untuk bertahan. Entah karena saya tidak sanggup melepaskan, atau karena terlalu lelah untuk mencari pengganti yang sepadan.

Sungguh merupakan suatu kebohongan jika saya katakan bahwa saya baik-baik saja dan luka di hati saya sudah sembuh. Tidak, kaca yang sudah retak tidak akan pernah kembali utuh.
Berbagai kalimat yang bernada merendahkan membuat saya seringkali teringat dengan Almarhum Mama. Jika seandainya beliau masih hidup, apakah dia akan berbahagia dengan keputusan saya? Apakah beliau akan mendukung keputusan saya untuk bertahan meskipun begitu banyaknya penghinaan?

Memikirkan hal itu membuat saya ingin melakukan kontemplasi lebih jauh. Setiap orang terlahir dari rahim Ibu yang penuh dengan cinta kasih. Dan seolah menjadi sebuah aturan baku, tidak akan ada orang tua yang rela jika buah hatinya dihina atau direndahkan oleh siapa pun, dengan alasan apa pun. Saya membayangkan perjuangan kedua orang tua, dimulai dari ketika anaknya masih berada dalam kandungan, mempertaruhkan nyawa saat melahirkan, hingga bekerja keras untuk memenuhi segala kebutuhan anaknya. Dalam setiap sujud, dalam setiap doa, orang tua akan selalu menyebut nama anaknya dan diiringi dengan berbagai harapan baik. Lalu bagaimana bisa orang lain yang tidak ikut merasakan perjuangan justru memberikan penghinaan dan merendahkan?

Saya pun akhirnya menyadari, bahwa resolusi terbaik bagi saya di tahun 2019 ini adalah mengurangi benci. Setiap kali saya merasa kesal dengan seseorang dan hendak meluapkan amarah saya, saya akan kembali mengingat bahwa dia-yang-membuat-saya-kesal-setengah-mati memiliki orang tua yang sangat mencintainya dan menganggapnya sebagai harta terbaik. Sama seperti Almarhumah Mama yang dulu sering memberi makan untuk orang lain dengan harapan bahwa kedua anaknya kelak tidak akan kelaparan meskipun kekurangan karena selalu dibantu oleh orang lain, mungkin nanti Allah berkehendak karma baik atas tindakan saya akan berbalik kepada anak saya di masa depan.
Jadi, mari belajar mengurangi benci dan memberikan lebih banyak ruang untuk berbahagia dalam hati. Semoga 2019 menjadi lebih memiliki arti.

Salam hangat,
Fanny


Ps: kalau postingan ini mau dicapture lagi untuk bahan berghibah, silakan lho mbak :P

Comments

Popular posts from this blog

(NOT) AN INSTANT JUDGMENT

Saya sudah menggeluti bidang sumber daya manusia selama sekitar 7 tahun. Sebuah rentang waktu yang cukup lama untuk bertemu dengan orang dari berbagai latar belakang dan karakter. Seluruh perusahaan tempat saya bekerja menaruh tugas rekrutmen sebagai salah satu indikator pencapaian. Tidak heran, saya cukup familiar dengan metode interview dan juga beberapa alat tes, terutama tes kepribadian. Saya pribadi termasuk golongan orang yang percaya akan pengaruh faktor kepribadian dalam keberhasilan seseorang. Oleh karena itu, biasanya saat pelaksanaan psikotes akan lebih banyak digunakan tes kepribadian dibandingkan kecerdasan. Meskipun saya seorang sarjana psikologi, saya tidak sembarangan memberikan analisa atau interpretasi dari alat tes. Terutama jika alat tesnya adalah alat tes proyeksi, seperti misalnya tes grafis menggambar pohon, manusia. Ketika menempuh pendidikan strata 1 selama 3.5 tahun memang saya pernah mempelajari alat tes tersebut. Tapi sesuai dengan kode etik psikologi,...

Dieu

Allah Beri aku kekuatan untuk percaya Bahwa rencana-Mu pasti luar biasa Allah Aku tahu bahwa Engkau menggenggam hatiku Jangan biarkan hatiku jatuh pada yang tidak mencintai-Mu Allah Aku percaya bahwa Engkau mampu membolak-balikkan hatiku Maka jangan biarkan aku tenggelam dalam pilu Allah Jangan biarkan aku menyesapi kesedihan yang berlebihan Ajari aku merasa cukup dengan cinta-Mu saja Agar aku percaya bahwa tiada kehilangan melainkan akan Engkau ganti dengan yang lebih bermakna Allah, aku pasrah