Skip to main content

Goodbye Jekardah :`)

Hari Kamis sore minggu lalu,
Handphone saya berbunyi
Nomor yang muncul di layar adalah nomor area Jakarta

Dan ya, sekali lagi terbukti
Feeling saya tidak pernah salah

Telepon itu mengabarkan kalau saya diterima bekerja di salah satu perusahaan vendor telekomunikasi terbesar di Indonesia (bahkan mungkin dunia)
Gaji yang ditawarkan juga tidak main-main
Untuk standar seorang fresh graduate, siapapun yang mendengar gaji yang ditawarkan itu pasti spontan akan melongo dan menyuruh saya menerima tawaran pekerjaan itu

Sejak interview seminggu sebelumnya, saya sudah mendapat firasat kalau saya akan diterima di perusahaan ini
Dan sejak itu juga, saya sadar bahwa saya harus menyiapkan mental untuk meninggalkan kota Surabaya
Kota panas yang sudah memberikan banyak cerita dan kenyamanan bagi saya

You are free to call me crybaby
Yes, I am!
Logika saya mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja karena saya akan mendapatkan gaji yang cukup besar
Tapi hati saya merasa tidak ikhlas meninggalkan kota ini
Hati saya mengatakan bahwa ada banyak hal yang tidak bisa begitu saja saya lepas disini

Ah, sudahlah
Tidak perlu saya jabarkan secara rinci seluruh pergolakan batin yang saya alami selama beberapa hari itu
Di setiap sujud, saya menangis
Di setiap tempaan air wudhu, saya menangis
Di setiap momen memejamkan mata, saya pun kembali menangis
Who care?

Saya sadar
Semua pilihan ini ada di tangan saya
Saya lah yang berhak menentukan jalan hidup saya ke depan

Dan saya semakin menangis ketika dia berkata,
"Pikirkan semua faktor. Pikirkan untung-ruginya. Kalau perlu, buat list yang jelas. Pertimbangkan semua faktor dengan teliti, tapi keluarkan faktor `aku`. Kamu bisa tanpa aku. Kamu tidak harus selalu bergantung padaku. Aku tidak mau menjadi penghambatmu untuk maju. Aku tidak mau kamu stuck disini karena aku"

Setiap malam, saya bangun untuk berwudhu dan shalat istikharah
Tidak peduli setiap pagi mata saya menjadi bengkak akibat terlalu banyak menangis dan kurang istirahat

Tipe sensing  dan judging akut yang sudah mendarahdaging dalam kepribadian saya seolah membuat semuanya menjadi semakin rumit
Since we are a great planner, indeed.

Saya bersyukur memiliki Mas yang berani berbicara blak-blakan dan seringkali tepat sasaran
"Kalau kamu nggak yakin, ya nggak usah berangkat"
Jawab Mas Ucup santai ketika saya menceritakan kebimbangan saya
Dan SMS darinya yang menjelaskan tentang petunjuk setelah shalat istikharah juga masih saya simpan dengan rapi di inbox
"Bkn hny lwt mimpi,, petunjuk tuh macem2.. Bahkan bsa aja lwt perasaan tentram yg km rasakan.."

Dan hari Senin kemarin, keputusan saya sudah final
Saya tidak akan pindah ke Jakarta
Saya melepas tawaran pekerjaan itu

InsyaAllah, saya percaya bahwa akan ada kesempatan lain untuk saya
Saya percaya, keputusan itulah yang paling membuat hati saya tentram
Seperti kata Mas Ucup, gaji besar tidak berarti kebahagiaan kan?
:)

Maaf Jakarta
Saya tidak akan pernah bisa mencintai kamu seperti saya mencintai "Kota Panas" ini
=P

Hei you, a truly jobseeker
Be strong ya, ndha
Believe with all your heart, that in time you`ll find the perfect job
No time for giving up
Bismillah
=)

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi 2019: Mengurangi Benci

Saya memang tergolong orang yang selalu memiliki rencana atau target. Kalau ibarat sebuah permainan, setelah melewati level 1 maka saya akan berlanjut ke level 2, begitu seterusnya hingga permainan tersebut berakhir. Bicara tentang pergantian tahun, orang seringkali mengaitkan itu dengan resolusi. Sebagian besar orang akan memposting di sosial media apa saja resolusinya di tahun baru, yang kemudian akan di-amin-i oleh rekan yang membaca postingan tersebut. Saya? Percaya atau tidak, saya justru jarang memposting tentang resolusi. Hal itu bukan karena saya tidak memiliki resolusi. Bisa dibilang, ada dua alasan. Pertama, resolusi bagi saya adalah suatu hal yang pribadi. Sebut saja, sebuah janji kepada diri saya sendiri yang tidak perlu mendapat legitimasi. Kedua, resolusi saya seringkali berubah sewaktu-waktu (maha benar libra dengan segala kelabilannya wkwkwkwkwk). Tahun 2018 kemarin sejujurnya bukan tahun yang mudah bagi saya. Mungkin jika harus membuat perbandingan, porsi sed...

(NOT) AN INSTANT JUDGMENT

Saya sudah menggeluti bidang sumber daya manusia selama sekitar 7 tahun. Sebuah rentang waktu yang cukup lama untuk bertemu dengan orang dari berbagai latar belakang dan karakter. Seluruh perusahaan tempat saya bekerja menaruh tugas rekrutmen sebagai salah satu indikator pencapaian. Tidak heran, saya cukup familiar dengan metode interview dan juga beberapa alat tes, terutama tes kepribadian. Saya pribadi termasuk golongan orang yang percaya akan pengaruh faktor kepribadian dalam keberhasilan seseorang. Oleh karena itu, biasanya saat pelaksanaan psikotes akan lebih banyak digunakan tes kepribadian dibandingkan kecerdasan. Meskipun saya seorang sarjana psikologi, saya tidak sembarangan memberikan analisa atau interpretasi dari alat tes. Terutama jika alat tesnya adalah alat tes proyeksi, seperti misalnya tes grafis menggambar pohon, manusia. Ketika menempuh pendidikan strata 1 selama 3.5 tahun memang saya pernah mempelajari alat tes tersebut. Tapi sesuai dengan kode etik psikologi,...

Dieu

Allah Beri aku kekuatan untuk percaya Bahwa rencana-Mu pasti luar biasa Allah Aku tahu bahwa Engkau menggenggam hatiku Jangan biarkan hatiku jatuh pada yang tidak mencintai-Mu Allah Aku percaya bahwa Engkau mampu membolak-balikkan hatiku Maka jangan biarkan aku tenggelam dalam pilu Allah Jangan biarkan aku menyesapi kesedihan yang berlebihan Ajari aku merasa cukup dengan cinta-Mu saja Agar aku percaya bahwa tiada kehilangan melainkan akan Engkau ganti dengan yang lebih bermakna Allah, aku pasrah