Skip to main content

I`m (not) a Psychologyst

Saya bersyukur kuliah di Psikologi
Kuliah di fakultas itu memang merupakan mimpi saya sejak dulu
Ada ketertarikan luar biasa untuk mempelajari perilaku manusia yang dinamis

Bukan hanya teorinya saja
Tetapi juga praktik
Yang utama, praktik bertoleransi
:)

Ketika menulis sebuah esai diri atau biodata, saya selalu menuliskan kelemahan saya: moody
Artinya sederhana
Mood saya mudah berubah tanpa permisi
Mungkin bagi orang lain, hal itu merupakan kelemahan
Tapi menurut saya, ada sisi lain yang bisa saya angkat sebagai nilai positif

Orang bilang, moody itu sifat yang buruk
Saya bilang, moody itu tantangan
Tantangan bagaimana saya bisa mengontrol segala perasaan negatif yang sering muncul tiba-tiba
Tantangan bagaimana saya berdamai dengan hati saya sendiri
Tantangan bagaimana saya menemukan hal-hal sederhana yang bisa membantu saya meredakan segala emosi negatif
Karena atas nama profesionalisme, tidak ada istilah moody, jendral !

Banyak yang beranggapan, orang moody itu aneh
Hei. Bukankah dalam hidup ini selalu akan ada masanya dimana kita ingin sendiri, ingin berdamai dengan gejolak emosi pribadi?
Bukankah dalam hidup ini kita memang butuh satu ruang pribadi yang termanifestasi dalam jeda meskipun singkat?

Entah disadari atau tidak
Sifat moody itu membuat saya belajar untuk lebih bertoleransi
Dalam lingkungan kerja di perusahaan besar semacam ini, tekanan kerja tidak bisa dipungkiri
Dan di sini, saya semakin belajar
Ketika akan berbicara dengan seseorang, observasi dulu
Estimasi bagaimana suasana hatinya ketika itu
Kalau memang suasana hatinya sedang tidak baik, maka hanya ada 2 pilihan
Bicara dengan menggunakan tata bahasa yang baik dan siap dengan segala konsekuensi responnya, atau pergi menjauh dulu hingga suasana membaik

Before you speak, think. Cause you could never take back your words.
People may forget what you did to them. But, they could never forget the way you make them feel

Tidak hanya itu, saya pun juga bersyukur karena memilih peminatan klinis
Orang klinis itu katanya skeptis
Segala sesuatunya dipikir dari berbagai sisi, menggali segala kemungkinan
Haram hukumnya menerima segala macam data mentah-mentah tanpa bertanya ini-itu hingga narasumber muak

Pernah suatu ketika saya bercerita pada teman saya, tentang seseorang yang mengkritik berbagai post di blog saya ini
Tulisan saya mencerminkan arogansi, katanya

"Fan, tiap orang itu memang ditakdirkan untuk nyinyir. Mereka akan berkomentar a,b,c,d, dst. Then why bothered? Mereka bebas memberikan opininya ketika membaca tulisanmu, dan jangan heran jika mereka memberikan opini dalam sudut pandang outsider. Itulah bedanya kamu sebagai sarjana psikologi dan dia yang bukan. Kita dilatih untuk tidak sembarangan memberikan komentar. Kita digembleng untuk berempati, berpikir bagaimana jika kita yang berada di posisi orang tersebut. Kita dihajar dengan skill untuk bertanya tanpa menghakimi. Berbahagialah untuk itu, fan. Seandainya dia yang mengalami kejadian yang kamu tuliskan itu, belum tentu dia bisa lebih bijaksana dalam mengontrol kalimat-kalimat nyinyir yang muncul berwujud tweet, status, atau post"

Duh, Gusti
Tuntutan menjadi seorang sarjana psikologi itu berat
Dianggap tahu ini-itu tentang manusia
Dituntut super ndewo untuk memberikan penilaian tentang kepribadian seseorang dalam sekerlingan mata

"Kamu kan sarjana psikologi. Harusnya bisa lebih sabar donk. Nggak boleh marah-marah"
Jadi, kalau kamu seorang sarjana pendidikan dokter, kamu nggak boleh sakit?
Bloody hell!

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi 2019: Mengurangi Benci

Saya memang tergolong orang yang selalu memiliki rencana atau target. Kalau ibarat sebuah permainan, setelah melewati level 1 maka saya akan berlanjut ke level 2, begitu seterusnya hingga permainan tersebut berakhir. Bicara tentang pergantian tahun, orang seringkali mengaitkan itu dengan resolusi. Sebagian besar orang akan memposting di sosial media apa saja resolusinya di tahun baru, yang kemudian akan di-amin-i oleh rekan yang membaca postingan tersebut. Saya? Percaya atau tidak, saya justru jarang memposting tentang resolusi. Hal itu bukan karena saya tidak memiliki resolusi. Bisa dibilang, ada dua alasan. Pertama, resolusi bagi saya adalah suatu hal yang pribadi. Sebut saja, sebuah janji kepada diri saya sendiri yang tidak perlu mendapat legitimasi. Kedua, resolusi saya seringkali berubah sewaktu-waktu (maha benar libra dengan segala kelabilannya wkwkwkwkwk). Tahun 2018 kemarin sejujurnya bukan tahun yang mudah bagi saya. Mungkin jika harus membuat perbandingan, porsi sed...

(NOT) AN INSTANT JUDGMENT

Saya sudah menggeluti bidang sumber daya manusia selama sekitar 7 tahun. Sebuah rentang waktu yang cukup lama untuk bertemu dengan orang dari berbagai latar belakang dan karakter. Seluruh perusahaan tempat saya bekerja menaruh tugas rekrutmen sebagai salah satu indikator pencapaian. Tidak heran, saya cukup familiar dengan metode interview dan juga beberapa alat tes, terutama tes kepribadian. Saya pribadi termasuk golongan orang yang percaya akan pengaruh faktor kepribadian dalam keberhasilan seseorang. Oleh karena itu, biasanya saat pelaksanaan psikotes akan lebih banyak digunakan tes kepribadian dibandingkan kecerdasan. Meskipun saya seorang sarjana psikologi, saya tidak sembarangan memberikan analisa atau interpretasi dari alat tes. Terutama jika alat tesnya adalah alat tes proyeksi, seperti misalnya tes grafis menggambar pohon, manusia. Ketika menempuh pendidikan strata 1 selama 3.5 tahun memang saya pernah mempelajari alat tes tersebut. Tapi sesuai dengan kode etik psikologi,...

Dieu

Allah Beri aku kekuatan untuk percaya Bahwa rencana-Mu pasti luar biasa Allah Aku tahu bahwa Engkau menggenggam hatiku Jangan biarkan hatiku jatuh pada yang tidak mencintai-Mu Allah Aku percaya bahwa Engkau mampu membolak-balikkan hatiku Maka jangan biarkan aku tenggelam dalam pilu Allah Jangan biarkan aku menyesapi kesedihan yang berlebihan Ajari aku merasa cukup dengan cinta-Mu saja Agar aku percaya bahwa tiada kehilangan melainkan akan Engkau ganti dengan yang lebih bermakna Allah, aku pasrah