Skip to main content

Satu Pelukan

"Kamu tahu? Setiap hari aku mikirin kamu. Kamu sudah makan apa belum? Kamu makan apa hari ini? Uangmu tinggal berapa? Apa yang kamu kerjakan seharian ini? Apa yang kamu lakukan kalau bosan di kamar? Kamu terbiasa bekerja dengan segudang aktivitas dan kesibukan kesana-kemari. Sementara sekarang, kamu hanya di kamar. Siapa yang menemani kamu kalau kamu sedang bosan? Siapa yang setiap hari menyapamu dengan ucapan selamat pagi dan mendapat senyum manis yang tidak akan pernah aku lupa? Iya. Kamu dulu terbiasa menghabiskan setiap pagi di kantor. Bertemu dengan banyak orang yang akan menyapamu "Selamat pagi, Ibu HRD" lalu kamu jawab dengan sebuah senyuman manis yang menyenangkan. Aku khawatir. Iya. Sangat khawatir. Sampai kapan kamu bisa bertahan hidup dengan sisa uangmu sekarang? Sampai kapan kamu akan betah menghabiskan waktu seperti ini. Nggak, aku bukannya menuduh kamu nggak bahagia. Tapi aku tahu kamu. Aku hafal sifat dan kebiasaanmu. Dan aku tahu, kamu akan bosan tanpa pekerjaan. Iya, aku mikirin kamu sampai sebegitunya. Setiap hari."

Aku diam
Tanpa perlawanan
Membiarkan satu demi satu air mata menetes tanpa ampun

Beri aku satu pelukan yang menenangkan 

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi 2019: Mengurangi Benci

Saya memang tergolong orang yang selalu memiliki rencana atau target. Kalau ibarat sebuah permainan, setelah melewati level 1 maka saya akan berlanjut ke level 2, begitu seterusnya hingga permainan tersebut berakhir. Bicara tentang pergantian tahun, orang seringkali mengaitkan itu dengan resolusi. Sebagian besar orang akan memposting di sosial media apa saja resolusinya di tahun baru, yang kemudian akan di-amin-i oleh rekan yang membaca postingan tersebut. Saya? Percaya atau tidak, saya justru jarang memposting tentang resolusi. Hal itu bukan karena saya tidak memiliki resolusi. Bisa dibilang, ada dua alasan. Pertama, resolusi bagi saya adalah suatu hal yang pribadi. Sebut saja, sebuah janji kepada diri saya sendiri yang tidak perlu mendapat legitimasi. Kedua, resolusi saya seringkali berubah sewaktu-waktu (maha benar libra dengan segala kelabilannya wkwkwkwkwk). Tahun 2018 kemarin sejujurnya bukan tahun yang mudah bagi saya. Mungkin jika harus membuat perbandingan, porsi sed...

(NOT) AN INSTANT JUDGMENT

Saya sudah menggeluti bidang sumber daya manusia selama sekitar 7 tahun. Sebuah rentang waktu yang cukup lama untuk bertemu dengan orang dari berbagai latar belakang dan karakter. Seluruh perusahaan tempat saya bekerja menaruh tugas rekrutmen sebagai salah satu indikator pencapaian. Tidak heran, saya cukup familiar dengan metode interview dan juga beberapa alat tes, terutama tes kepribadian. Saya pribadi termasuk golongan orang yang percaya akan pengaruh faktor kepribadian dalam keberhasilan seseorang. Oleh karena itu, biasanya saat pelaksanaan psikotes akan lebih banyak digunakan tes kepribadian dibandingkan kecerdasan. Meskipun saya seorang sarjana psikologi, saya tidak sembarangan memberikan analisa atau interpretasi dari alat tes. Terutama jika alat tesnya adalah alat tes proyeksi, seperti misalnya tes grafis menggambar pohon, manusia. Ketika menempuh pendidikan strata 1 selama 3.5 tahun memang saya pernah mempelajari alat tes tersebut. Tapi sesuai dengan kode etik psikologi,...

Dieu

Allah Beri aku kekuatan untuk percaya Bahwa rencana-Mu pasti luar biasa Allah Aku tahu bahwa Engkau menggenggam hatiku Jangan biarkan hatiku jatuh pada yang tidak mencintai-Mu Allah Aku percaya bahwa Engkau mampu membolak-balikkan hatiku Maka jangan biarkan aku tenggelam dalam pilu Allah Jangan biarkan aku menyesapi kesedihan yang berlebihan Ajari aku merasa cukup dengan cinta-Mu saja Agar aku percaya bahwa tiada kehilangan melainkan akan Engkau ganti dengan yang lebih bermakna Allah, aku pasrah