Skip to main content

Pengacara

Jadi, bagaimana rasanya menjadi pengangguran?

Saya rasa istilah pengangguran itu kurang tepat
Mungkin lebih tepat kalau dibilang pengangguran banyak acara
Istilah gaulnya, pengacara

Mulai minggu ini, saya sudah mulai fokus mencari kerja
Ya, sekaligus beberapa informasi beasiswa
Beberapa teman yang tahu permasalahan saya semuanya menyarankan saya untuk melanjutkan studi magister profesi psikologi

Saya menikmati hari-hari bisa bangun jam tujuh pagi
Saya menikmati hari-hari bisa menyiapkan makan untuk diri sendiri
Saya menikmati hari-hari bisa mencuci baju sendiri
Saya menikmati hari-hari bisa menata kamar agar lebih rapi
Saya menikmati hari-hari bisa menelepon atau sekedar chatting dengan kawan lama yang selama ini sering terabaikan karena sibuk sendiri
Saya menikmati hari-hari bisa sholat tepat waktu dan dilanjutkan dengan mengaji
Saya menikmati hari-hari bisa membaca buku sesuka hati
Dan yang terpenting, saya menikmati hari-hari bisa berdialog dengan hati kecil saya sendiri

Saya sudah berhenti mempertanyakan
Saya tidak lagi menangis sesenggukan

Maka benarlah teori 5 tahap kedukaan dari Kubler Ross
Saya sudah melewati tahap penyangkalan
Saya sudah melewati tahap marah
Saya sudah melewati tahap bargaining
Saya sudah melewati tahap depresi
Dan kini saya tiba di tahap penerimaan

Saya tidak akan bohong
Terkadang jika mengingat kejadian itu, masih ada perih yang menggunung
Lukanya belum sembuh benar
Tapi, bukan berarti saya tidak bisa melanjutkan hidup
Keyakinan kepada Allah, Tuhan saya yang Esa mengalahkan segalanya

Dia Yang Maha Memiliki Maksud
Dia Yang Maha Mengetahui yang terbaik bagi hamba-Nya
Dia Yang Maha Adil
Dia Yang Maha Memudahkan
Dia Yang Maha Pemberi Rizki

Saya tidak boleh takut kalau tidak akan mendapat rizki
Saya justru takut jika tidak bersyukur atas setiap rizki yang Dia beri baik besar maupun kecil
Saya justru takut jika tidak bisa bersabar jika Dia menunda sebentar rizki saya

Saya percaya, Dia adalah tempat mengadu yang terbaik

Jadi, beginilah saya
Menikmati hidup dengan banyak acara sesuka hati saya
Menikmati hidup dengan mencari kerja
Menikmati hidup dengan membaca semua buku yang selama ini teronggok manis di meja

Hallo, dunia sederhana tanpa banyak aturan kerja
=)

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi 2019: Mengurangi Benci

Saya memang tergolong orang yang selalu memiliki rencana atau target. Kalau ibarat sebuah permainan, setelah melewati level 1 maka saya akan berlanjut ke level 2, begitu seterusnya hingga permainan tersebut berakhir. Bicara tentang pergantian tahun, orang seringkali mengaitkan itu dengan resolusi. Sebagian besar orang akan memposting di sosial media apa saja resolusinya di tahun baru, yang kemudian akan di-amin-i oleh rekan yang membaca postingan tersebut. Saya? Percaya atau tidak, saya justru jarang memposting tentang resolusi. Hal itu bukan karena saya tidak memiliki resolusi. Bisa dibilang, ada dua alasan. Pertama, resolusi bagi saya adalah suatu hal yang pribadi. Sebut saja, sebuah janji kepada diri saya sendiri yang tidak perlu mendapat legitimasi. Kedua, resolusi saya seringkali berubah sewaktu-waktu (maha benar libra dengan segala kelabilannya wkwkwkwkwk). Tahun 2018 kemarin sejujurnya bukan tahun yang mudah bagi saya. Mungkin jika harus membuat perbandingan, porsi sed...

(NOT) AN INSTANT JUDGMENT

Saya sudah menggeluti bidang sumber daya manusia selama sekitar 7 tahun. Sebuah rentang waktu yang cukup lama untuk bertemu dengan orang dari berbagai latar belakang dan karakter. Seluruh perusahaan tempat saya bekerja menaruh tugas rekrutmen sebagai salah satu indikator pencapaian. Tidak heran, saya cukup familiar dengan metode interview dan juga beberapa alat tes, terutama tes kepribadian. Saya pribadi termasuk golongan orang yang percaya akan pengaruh faktor kepribadian dalam keberhasilan seseorang. Oleh karena itu, biasanya saat pelaksanaan psikotes akan lebih banyak digunakan tes kepribadian dibandingkan kecerdasan. Meskipun saya seorang sarjana psikologi, saya tidak sembarangan memberikan analisa atau interpretasi dari alat tes. Terutama jika alat tesnya adalah alat tes proyeksi, seperti misalnya tes grafis menggambar pohon, manusia. Ketika menempuh pendidikan strata 1 selama 3.5 tahun memang saya pernah mempelajari alat tes tersebut. Tapi sesuai dengan kode etik psikologi,...

Dieu

Allah Beri aku kekuatan untuk percaya Bahwa rencana-Mu pasti luar biasa Allah Aku tahu bahwa Engkau menggenggam hatiku Jangan biarkan hatiku jatuh pada yang tidak mencintai-Mu Allah Aku percaya bahwa Engkau mampu membolak-balikkan hatiku Maka jangan biarkan aku tenggelam dalam pilu Allah Jangan biarkan aku menyesapi kesedihan yang berlebihan Ajari aku merasa cukup dengan cinta-Mu saja Agar aku percaya bahwa tiada kehilangan melainkan akan Engkau ganti dengan yang lebih bermakna Allah, aku pasrah