Setelah sekitar 8 tahun merasakan menjadi anak kos, ada 1 pelajaran penting yang saya dapat
Menghargai keberagaman
Sejak pertama kali ngekos di dekat kampus, saya mulai menemukan banyak perbedaan kebiasaan yang mencolok
Efek sering ditinggal orang tua dan mengurus rumah sendiri, saya jadi terbiasa mengatur semua barang dengan rapi dan kembali ke tempatnya
Saya juga terbiasa menjaga setiap barang, karena semurah apapun harga barang tersebut tetap butuh perjuangan untuk membelinya
Saya hafal betul susunan baju maupun barang lainnya di lemari saya
Dan hal itu pun masih berlanjut sampai saat ini
Jadi, jangan heran kalau saya bisa dengan mudah menyadari jika ada yang mengambil barang saya tanpa izin atau sekedar menggeser posisinya
Di kantor, saya pernah beberapa kali menginterogasi OB karena menyadari bahwa jumlah kertas yang tersisa di printer saya berkurang, air mineral botol di laci saya berkurang, kopi sachet yang berkurang, file database yang bergeser susunannya, dan masih banyak lagi
Salah satu OB di kantor lama saya sudah hafal dengan sifat saya yang satu ini, dan dia selalu mengirimkan SMS meminta izin jika akan membuka lemari atau meminta stok makanan saya
Saya tidak suka mengusik milik orang lain, jadi saya juga tidak ingin milik saya diusik
Life rule is sometimest just as simple as that, right?
Saya jengah ketika memiliki teman kos yang suka mengambil es batu atau air dingin milik orang lain tanpa izin
Bahkan setiap kali ada yang tidak beres di kos, dia selalu menjadi tersangka pertama
"INI PASTI KERJAANNYA BIG MAM"
Ps: Don`t ask me why we call her big, right? I do believe you already knew why :p
Saya jengah dengan kebiasaannya tidak mengembalikan barang yang dipinjam, atau bahkan mengembalikan dengan kondisi yang lebih buruk dari saat awal
Bunda mengajarkan saya bahwa kita harus mengembalikan barang milik orang lain minimal sesuai dengan kondisi awal, atau bahkan lebih baik
Saya pernah melihat bunda menyampul dengan sangat rapi menggunakan plastik untuk sebuah buku yang dipinjamnya
Dan hal itu juga yang saya tiru
Melihat orang yang memiliki buku merasa bahagia karena bukunya kembali dengan lebih rapi merupakan suatu kepuasan tersendiri
Tidak, saya tidak sesempurna itu
Saya pun pernah merusakkan (atau lebih tepatnya menjatuhkan) barang mahal milik pacar seperti hard disk
Ya meskipun pacar saya tidak marah dan tidak meminta saya untuk mengganti karena hard disk yang lepas itu masih bisa diselotip dan masih berfungsi dengan normal
But after all, beside my carelessness behaviour, I still have the courage to tell him that it was my fault and I`m ready to take the consequences
Saya pernah merasakan kos sekamar berdua dengan orang lain
Dan sungguh, saya tidak akan pernah mau mengulanginya lagi (kecuali dengan suami)
Misalnya ketika saya ingin belajar atau mengerjakan tugas dini hari, saya akan memilih untuk keluar kamar dan belajar di ruang tamu
Alasan saya sederhana. Saya berhak untuk belajar di kamar, tapi teman sekamar saya juga berhak untuk beristirahat tanpa ada gangguan
Saya tetap memegang prinsip toleransi itu meskipun teman sekamar saya beberapa kali belajar dan mengerjakan tugas di kamar sampai dini hari, tentunya dengan keributan kecil dan lampu menyala (Fyi, saya tidak bisa tidur dengan lampu menyala)
Saya pun tetap memegang prinsip toleransi itu meskipun teman sekamar saya beberapa kali berbincang di telepon hingga larut malam dan tertawa cekikikan sehingga membuat saya tidak bisa tidur
Bertoleransi itu terkadang melelahkan, bukan?
=)
Setiap orang punya hak yang sama
Tapi, toleransi dan empati adalah belajar mengenai bagaimana hakmu tidak menjadi penyebab hilangnya hak orang lain
Saya percaya, sesederhana itu
Sama seperti kita memperdebatkan antara perokok dan non-perokok
Perokok memang memiliki hak untuk merokok, tetapi non-perokok juga berhak menghirup udara bersih tanpa kontaminasi asap beracun dari rokok
Bertolerasi itu sebenarnya menyenangkan, asal bukan ego yang dikedepankan
=)
Akhir-akhir ini di kos saya juga merasakan sedikit ketidaknyamanan
Sebenarnya saya bukan tipikal orang yang suka mencari masalah apalagi pendendam
Tapi untuk mbak kos yang satu ini, kelakuannya memang semacam tabokable
Dimulai dengan kesalahannya memakai teflon saya (tanpa izin) dan dengan menggunakan sutil (aduh maaf, saya tidak menemukan padanan kata lain. Intinya alat yang digunakan untuk menggoreng lah) berbahan stainless steel
Ngana main aja sama paus di Antartika kalau nggak tahu teflon hanya boleh dipakai dengan sutil berbahan kayu atau nylon yang lembut dan tidak akan menggores
Ps: please, tolong. Jangan tanya saya apakah memang benar ada paus di Antartika !
Lain cerita kalau teflon yang digunakan adalah teflon yang berbahan dasar diamond seperti yang saya lihat iklannya di salah satu TV Shop dengan harga yang fantastis
Kemudian yang juga membuat saya cukup jengah adalah kebiasaannya tidak mencuci piring setelah makan atau memasak
Saya pernah menemukan panci bekas dia memasak mie dan telur tergeletak begitu saja di dekat kompor dan dikerubungi oleh semut
Saya juga berkali-kali menemukan dia dengan seenaknya menaruh piring-piring dan mangkok (percayalah ketika saya menggunakan bentuk jamak dalam kalimat tadi, dia memang menaruh lebih dari 1 piring dan mangkok) di wastafel cuci piring dengan kondisi sampah bekas makanan dan tissue masih dibiarkan di atas piring
Fyi, jarak dari wastafel cuci piring ke tempat sampah tidak lebih dari 3 meter
Mungkin dia lelah, atau mungkin juga dia khawatir lemak di tubuhnya yang subur akan berkurang nol koma lima ons kalau dia berjalan beberapa langkah ke tempat sampah
Tidak hanya piring dan mangkok, dia juga pernah menaruh rice cooker miliknya di wastafel cuci piring
Fyi, rice cooker miliknya berukuran sangat besar dan memenuhi seluruh wastafel
Untuk ukuran anak kos yang hidup sendiri, saya agak kagum dengan rice cooker miliknya
Oke, mari berpikir positif. Mungkin dia memasak nasi untuk warga sekampung dengan rice cooker sebesar itu
Yang menyebalkan, wastafel menjadi penuh sehingga orang lain tidak akan mungkin bisa mencuci piring di sana
Saya yang merasa kesal melihat itu langsung memindahkan rice cookernya ke lantai
Jikalau barang pribadi miliknya saja seringkali diabaikan, bisa dibayangkan kan bagaimana nasib barang milik orang lain?
Dia seringkali memakai barang milik orang lain atau barang umum dan tidak segera mengembalikan atau membersihkan
Pernah saat saya akan memasak, saya tidak menemukan ulekan kecil yang memang disediakan untuk dipakai bersama
Setelah saya bertanya ke ibu kos, saya diberitahu bahwa mbak itu kemarin membuat sambal dan sepetinya ulekan yang berisi sambal masih dia biarkan di kamarnya
Dia juga kerap memakai panci, wajan dan barang umum lain lalu tidak segera mencuci dan mengembalikan ke tempatnya
Tidakkah dia berpikir bahwa orang lain di kos ini juga memiliki hak yang sama untuk memakai barang itu?
Dia juga pernah merendam bajunya di ember (milik umum) selama beberapa hari sehingga teman kos yang lain tidak bisa mencuci
Menyebalkan, bukan?
Dia juga sudah beberapa kali mengunci pintu kos dan membiarkan kuncinya menggantung di dalam sehingga orang dari luar tidak bisa masuk
Saya pernah menjadi korbannya
Ketika itu jam 3 pagi saya bangun untuk sahur dan akan mengambil susu di kulkas
Pintu tidak bisa saya buka karena kuncinya dibiarkan menggantung di dalam
Untung saya hanya gagal minum susu
Seandainya saat itu menu makanan sahur saya ada di kulkas dan saya tidak jadi sahur karena tidak bisa membuka pintu, sudah bisa dipastikan saya tidak akan segan menggedor jendela kamarnya dan menghadiahkan sejumlah sumpah serapah atas ketidakpeduliannya terhadap orang lain (meskipun saat itu jam 3 pagi)
Kalau terjadi sekali, boleh beralasan lupa
Tapi kalau terjadi lebih dari sekali dan korbannya juga berbeda-beda?
Itu namanya tolol dan tidak memikirkan orang lain
Now you know why I hate her so much and never talk to her anymore, right?
Saya paham mengenai keberagaman
Setiap orang berasal dari keluarga yang berbeda dan tentunya pola asuh yang berbeda
Akibatnya juga sudah jelas terbaca
Kebiasaan yang berbeda, batas bertoleransi yang berbeda
Tapi untuk hal-hal sederhana yang berhubungan dengan kepentingan hidup bersama, bukankah seharusnya kita terbiasa bertenggang rasa?
Tuhan,
Terimakasih telah memberikan saya Bunda yang galak dan selalu nyinyir mengenai kebiasaan memikirkan orang lain
Kelak saya juga akan mendidik anak saya agar tidak menjadi muslimah yang menyebalkan
Kelak saya akan mengajarkan kepada anak saya bahwa saat tinggal bersama dengan orang lain akan ada banyak aturan yang berubah dan mengalami penyesuaian
Kelak saya akan mengajarkan kepada anak saya bahwa menjadi pintar itu penting, tapi mampu bersosialisasi dan menghargai kepentingan orang lain itu jauh lebih menyenangkan
Saya tidak akan mampu mengubah orang lain menjadi seperti apa yang saya mau
Sampai kapanpun dia (mungkin) akan tetap menyebalkan seperti itu
Jadi daripada membuang waktu untuk menasehati orang yang tidak mau peduli, lebih baik saya mengontrol diri agar tidak melakukan hal yang merugikan kepentingan umum dan keliru
Tuhan
Berikan aku kekuatan untuk mengubah apa yang mampu aku ubah, mengikhlaskan apa yang tidak mampu aku ubah
Dan berikan aku kebijaksanaan untuk membedakan keduanya
Selamat bertoleransi dan belajar menghargai
=)
Dia juga pernah merendam bajunya di ember (milik umum) selama beberapa hari sehingga teman kos yang lain tidak bisa mencuci
Menyebalkan, bukan?
Dia juga sudah beberapa kali mengunci pintu kos dan membiarkan kuncinya menggantung di dalam sehingga orang dari luar tidak bisa masuk
Saya pernah menjadi korbannya
Ketika itu jam 3 pagi saya bangun untuk sahur dan akan mengambil susu di kulkas
Pintu tidak bisa saya buka karena kuncinya dibiarkan menggantung di dalam
Untung saya hanya gagal minum susu
Seandainya saat itu menu makanan sahur saya ada di kulkas dan saya tidak jadi sahur karena tidak bisa membuka pintu, sudah bisa dipastikan saya tidak akan segan menggedor jendela kamarnya dan menghadiahkan sejumlah sumpah serapah atas ketidakpeduliannya terhadap orang lain (meskipun saat itu jam 3 pagi)
Kalau terjadi sekali, boleh beralasan lupa
Tapi kalau terjadi lebih dari sekali dan korbannya juga berbeda-beda?
Itu namanya tolol dan tidak memikirkan orang lain
Now you know why I hate her so much and never talk to her anymore, right?
Saya paham mengenai keberagaman
Setiap orang berasal dari keluarga yang berbeda dan tentunya pola asuh yang berbeda
Akibatnya juga sudah jelas terbaca
Kebiasaan yang berbeda, batas bertoleransi yang berbeda
Tapi untuk hal-hal sederhana yang berhubungan dengan kepentingan hidup bersama, bukankah seharusnya kita terbiasa bertenggang rasa?
Tuhan,
Terimakasih telah memberikan saya Bunda yang galak dan selalu nyinyir mengenai kebiasaan memikirkan orang lain
Kelak saya juga akan mendidik anak saya agar tidak menjadi muslimah yang menyebalkan
Kelak saya akan mengajarkan kepada anak saya bahwa saat tinggal bersama dengan orang lain akan ada banyak aturan yang berubah dan mengalami penyesuaian
Kelak saya akan mengajarkan kepada anak saya bahwa menjadi pintar itu penting, tapi mampu bersosialisasi dan menghargai kepentingan orang lain itu jauh lebih menyenangkan
Saya tidak akan mampu mengubah orang lain menjadi seperti apa yang saya mau
Sampai kapanpun dia (mungkin) akan tetap menyebalkan seperti itu
Jadi daripada membuang waktu untuk menasehati orang yang tidak mau peduli, lebih baik saya mengontrol diri agar tidak melakukan hal yang merugikan kepentingan umum dan keliru
Tuhan
Berikan aku kekuatan untuk mengubah apa yang mampu aku ubah, mengikhlaskan apa yang tidak mampu aku ubah
Dan berikan aku kebijaksanaan untuk membedakan keduanya
Selamat bertoleransi dan belajar menghargai
=)
Comments
Post a Comment