Skip to main content

Pengacara Wanna Be

Beberapa tahun lalu
Papa pernah meminta saya untuk masuk ke jurusan hukum
Alasannya sederhana dan cukup membuat saya memprotes keras
Saya cerewet, pandai bernegosiasi sekaligus mengintimidasi orang
Sungguh saya tidak paham apakah itu sebuah pujian atau sindiran terang-terangan

Saran dari Papa itu saya tolak mentah-mentah
Tanpa basa-basi dan tidak perlu berpikir ulang

Alasan saya?
Saya benci dengan hukum dan segala profesi yang terkait di dalamnya

No offense
Bagi saya yang merupakan orang awam, profesi seperti pengacara adalah sebuah profesi yang penuh dengan kepalsuan sekaligus keribetan
Seorang pengacara harus mau dan mampu membela kliennya di persidangan, even when he knows which is right or wrong
*pls tolong anak hukum yang baca tulisan ini jangan tersinggung*

Sepertinya Tuhan sedang bercanda
Saya dibuat merasakan bagaimana berada di posisi semacam pengacara yang sejak dulu saya cibir tanpa ampun

Saya berada di posisi yang mau-tidak-mau-suka-tidak-suka membuat saya harus berujar dalam hati, "That`s what you were hired for, fan"
Saya berada di posisi yang membuat saya harus menegosiasikan suatu hal yang sudah jelas melanggar undang-undang
Saya berada di posisi yang membuat saya menerima kalimat semacam, 
"Ibu jangan seenaknya gitu, donk. Karma itu ada lho, bu"
*elus dada*
*dada lee min ho*
*ya allah bukan muhrim*

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi 2019: Mengurangi Benci

Saya memang tergolong orang yang selalu memiliki rencana atau target. Kalau ibarat sebuah permainan, setelah melewati level 1 maka saya akan berlanjut ke level 2, begitu seterusnya hingga permainan tersebut berakhir. Bicara tentang pergantian tahun, orang seringkali mengaitkan itu dengan resolusi. Sebagian besar orang akan memposting di sosial media apa saja resolusinya di tahun baru, yang kemudian akan di-amin-i oleh rekan yang membaca postingan tersebut. Saya? Percaya atau tidak, saya justru jarang memposting tentang resolusi. Hal itu bukan karena saya tidak memiliki resolusi. Bisa dibilang, ada dua alasan. Pertama, resolusi bagi saya adalah suatu hal yang pribadi. Sebut saja, sebuah janji kepada diri saya sendiri yang tidak perlu mendapat legitimasi. Kedua, resolusi saya seringkali berubah sewaktu-waktu (maha benar libra dengan segala kelabilannya wkwkwkwkwk). Tahun 2018 kemarin sejujurnya bukan tahun yang mudah bagi saya. Mungkin jika harus membuat perbandingan, porsi sed...

(NOT) AN INSTANT JUDGMENT

Saya sudah menggeluti bidang sumber daya manusia selama sekitar 7 tahun. Sebuah rentang waktu yang cukup lama untuk bertemu dengan orang dari berbagai latar belakang dan karakter. Seluruh perusahaan tempat saya bekerja menaruh tugas rekrutmen sebagai salah satu indikator pencapaian. Tidak heran, saya cukup familiar dengan metode interview dan juga beberapa alat tes, terutama tes kepribadian. Saya pribadi termasuk golongan orang yang percaya akan pengaruh faktor kepribadian dalam keberhasilan seseorang. Oleh karena itu, biasanya saat pelaksanaan psikotes akan lebih banyak digunakan tes kepribadian dibandingkan kecerdasan. Meskipun saya seorang sarjana psikologi, saya tidak sembarangan memberikan analisa atau interpretasi dari alat tes. Terutama jika alat tesnya adalah alat tes proyeksi, seperti misalnya tes grafis menggambar pohon, manusia. Ketika menempuh pendidikan strata 1 selama 3.5 tahun memang saya pernah mempelajari alat tes tersebut. Tapi sesuai dengan kode etik psikologi,...

Dieu

Allah Beri aku kekuatan untuk percaya Bahwa rencana-Mu pasti luar biasa Allah Aku tahu bahwa Engkau menggenggam hatiku Jangan biarkan hatiku jatuh pada yang tidak mencintai-Mu Allah Aku percaya bahwa Engkau mampu membolak-balikkan hatiku Maka jangan biarkan aku tenggelam dalam pilu Allah Jangan biarkan aku menyesapi kesedihan yang berlebihan Ajari aku merasa cukup dengan cinta-Mu saja Agar aku percaya bahwa tiada kehilangan melainkan akan Engkau ganti dengan yang lebih bermakna Allah, aku pasrah