It's been so long since my last post. Yaa, the ups and downs have been so sickening. But here I am. Writing on my phone just to let you know what's inside my mind.
Saya tidak habis pikir. Bagaimana bisa ada orang yang sebegitu menyedihkannya karena bertahan (dan bangga) berada di zona nyaman . Saya sedang berbicara tentang para buruh pabrik tempat saya bekerja saat ini. Oke, sebelumnya saya klarifikasi terlebih dahulu. Postingan ini sama sekali tidak bermaksud untuk merendahkan atau mendiskreditken pihak tertentu. Saya hanya murni ingin bicara tentang zona nyaman. Toh selama saya masih bekerja untuk orang lain dan saya dibayar untuk itu, ya artinya saya pun seorang buruh. Jadi bukan berarti kata buruh itu berkonotasi negatif atau bernilai rendah ya.
Mungkin otak saya sudah terdistraksi dengan berbagai berita buruk mengenai para buruh. Sebut saja berita tentang buruh yang menuntut biaya perawatan wajah, cicilan motor dan lain-lain dimasukkan dalam standar hidup layak. Ya kalau motornya matic sejuta umat seperti punya saya sih fine. Lah kalau motornya ninja atau apapun lah itu mereknya yang dibanrol harga puluhan juta, yo nggawe o perusahaan dewe ae mari pak!
Serikat pekerja atau buruh itu berdemo mati-matian menuntut kenaikan upah minimum yang persentasenya fantastis dibanding tahun sebelumnya. Selama menuruti gaya hidup, upah seratus juta pun tidak akan pernah cukup. Lalu ketika upah naik drastis dan banyak pengusaha yang collapse atau memindahkan modalnya ke sektor lain, siapa yang rugi? Ya elu yang ikutan demo lah nyet! Presiden Serikatnya sih makin makmur berjaya. Kenapa? Ya karena iuran dari anggota sebanyak 1% akan tetap masuk ke kasnya. Anggaplah dengan hitungan UMK Surabaya 2016 ini. Berarti iuran per anggota yang masuk ke kas serikat adalah 1% × 3.045.000 = 30.450
Itu baru dari 1 orang, nying. Ya menurut ngana anggota serikat cuma seekor-dua ekor? Please, don't be that stupid.
Saya tergelak ketika membaca sebuah brosur dari salah satu Universitas swasta tadi siang. Dalam brosur tersebut dituliskan, hanya sedikit perusahaan keluarga yang mampu bertahan saat mencapai generasi ketiga. Kenapa? Ya sederhana karena generasi ketiga ini akan paling banyak berhadapan dengan orang-orang lama yang resisten terhadap perubahan. Segala macam perubahan akan dianggap sebagai ancaman terhadap zona nyaman. Mereka hanya berpikir bahwa semakin lama mereka bekerja di sebuah perusahaan, maka semakin banyak pula benefit yang harus mereka dapatkan. Mereka tidak berpikir, situasi dan tantangan setiap tahun akan terus bertambah dan menuntut kecepatan perubahan. Mereka tidak berpikir, seberapa besar kontribusi yang mereka berikan sehingga bisa menuntut ini dan itu.
Contoh nyata yang belum lama ini saya hadapi. Di perusahaan tempat saya bekerja dulu biasa memberikan THR sampai 2x gaji. Plus parsel dan ini-itu. Iya, itu dulu. Di saat kompetitor masih seujung kuku. Di saat ekonomi sedang maju. Di saat jumlah karyawan yang harus dipikirkan hanya seperempat dari jumlah saat ini. Lalu ketika tahun ini perusahaan menetapkan aturan SESUAI DENGAN PERMENAKER yaitu THR 1x gaji, maka muncullah kalimat-kalimat sakti semacam,
"DULU TUH NGGAK GINI". Dih. Gagal move on detected!
Mari kita buat analogi sederhana. Sama seperti halnya mereka merawat anak. Apakah kebutuhan anak setiap tahun sama? Tentu tidak. Saat masih TK, cukup dibawakan bekal roti dan susu mungkin sudah cukup. Tapi ketika sudah SD, bisa jadi ada tambahan uang saku karena ingin jajan di kantin seperti teman-temannya. Sama seperti perusahaan. Apakah kebutuhan dulu dan sekarang sama? Ya jelas tidak. Yang buruh tahu hanyalah perusahaan mendapat banyak order karena pengiriman selalu berjalan setiap hari. Tapi pernahkah berpikir bahwa harga bahan baku terus melambung mengikuti kurs dollar sementara harga jual barang hasil produksi tidak bisa dinaikkan karena mengikuti permintaan pasar? Ya bukan salah mereka juga sih kalau tidak bisa berpikir seluas itu. Tapi toh ya, bagi saya rasanya tetap saja menyebalkan.
Saya pun juga mencoba memahami mengapa pikiran mereka bisa sesempit itu. Alasannya mungkin sederhana. Ya karena mereka hingga saat ini masih bersetia di zona nyaman. Mereka tidak tahu bagaimana kerasnya persaingan di dunia kerja karena mereka sudah belasan bahkan puluhan tahun bekerja di perusahaan yang sama. Mereka tidak peduli dengan berapa ratus bahkan ribuan orang yang terpaksa di PHK karena perusahaan collapse atau efisiensi.
Seandainya mereka tahu, ada banyak orang di luar sana yang berdoa siang malam agar bisa menggantikan posisi mereka. Mereka tidak tahu ada berapa banyak orang di luar sana yang rela bekerja apa saja, dibayar berapa saja, demi memenuhi kebutuhan hidup yang semakin banyak. Lalu kamu yang masih diberi rezeki bekerja di satu perusahaan dan mendapat penghasilan tetap masih berani menuntut ini-itu?
Memangnya kamu punya spesialisasi atau keahlian apa yang membuat kamu sebegitu pedenya menuntut ini-itu? Saya selalu berpikir, apa yang bisa saya lakukan untuk meningkatkan kompetensi saya. Apa yang bisa saya lakukan agar saya memiliki "nilai jual" lebih? Karena saya tahu "harga" saya, jadi ya prinsip saya sederhana saja. Saya akan mengubah apa yang bisa saya ubah. Untuk hal yang tidak bisa saya ubah, ya lepaskan. Merasa tidak dihargai perusahaan, ya tinggalkan. Hidup sudah berat. Jangan ditambah dengan menggerutu dan menghina perusahaan yang menjadi ladang penghasilan. Selama kamu masih butuh buahnya, jangan pernah mencela pohonnya.
Saya tidak bicara bahwa pekerjaan buruh yang notabene mengutamakan tenaga itu lebih mudah atau bahkan lebih rendah daripada pekerjaan yang mengutamakan pikiran atau otak. Tidak. Semuanya sama saja. Ini hanya perkara materi yang dijual. Poin saya adalah, diferensiasi. Apa yang membedakan kamu dengan orang lain? Apa yang menjadi nilai lebih bagi dirimu dibanding orang lain? WHAT MAKES YOU SPECIAL AND IRREPLACEABLE?
Zona nyaman memang menyenangkan. Tapi tidak akan ada yang tumbuh dan berkembang dalam ketiadaan tantangan dan stagnan.
Saya sepenuhnya menyadari. Tulisan ini merupakan refleksi dari pengalaman yang pernah saya lalui. Mereka yang tidak pernah merasakan luka mendalam karena harus kehilangan pekerjaan secara tiba-tiba tanpa ada peringatan. Mereka yang tidak pernah berpikir bahwa rezeki tidak akan tertukar dan gaya hidup tidak akan pernah sejalan dengan kepuasan.
Semoga Tuhan membersihkan pikiran dari serakah dan segala keinginan untuk menuntut yang melebihi hak hingga menggugurkan berkah.
Mungkin, kamu akan paham makna bersyukur ketika kamu sudah kehilangan banyak hal yang tidak terukur.
Saya tidak habis pikir. Bagaimana bisa ada orang yang sebegitu menyedihkannya karena bertahan (dan bangga) berada di zona nyaman . Saya sedang berbicara tentang para buruh pabrik tempat saya bekerja saat ini. Oke, sebelumnya saya klarifikasi terlebih dahulu. Postingan ini sama sekali tidak bermaksud untuk merendahkan atau mendiskreditken pihak tertentu. Saya hanya murni ingin bicara tentang zona nyaman. Toh selama saya masih bekerja untuk orang lain dan saya dibayar untuk itu, ya artinya saya pun seorang buruh. Jadi bukan berarti kata buruh itu berkonotasi negatif atau bernilai rendah ya.
Mungkin otak saya sudah terdistraksi dengan berbagai berita buruk mengenai para buruh. Sebut saja berita tentang buruh yang menuntut biaya perawatan wajah, cicilan motor dan lain-lain dimasukkan dalam standar hidup layak. Ya kalau motornya matic sejuta umat seperti punya saya sih fine. Lah kalau motornya ninja atau apapun lah itu mereknya yang dibanrol harga puluhan juta, yo nggawe o perusahaan dewe ae mari pak!
Serikat pekerja atau buruh itu berdemo mati-matian menuntut kenaikan upah minimum yang persentasenya fantastis dibanding tahun sebelumnya. Selama menuruti gaya hidup, upah seratus juta pun tidak akan pernah cukup. Lalu ketika upah naik drastis dan banyak pengusaha yang collapse atau memindahkan modalnya ke sektor lain, siapa yang rugi? Ya elu yang ikutan demo lah nyet! Presiden Serikatnya sih makin makmur berjaya. Kenapa? Ya karena iuran dari anggota sebanyak 1% akan tetap masuk ke kasnya. Anggaplah dengan hitungan UMK Surabaya 2016 ini. Berarti iuran per anggota yang masuk ke kas serikat adalah 1% × 3.045.000 = 30.450
Itu baru dari 1 orang, nying. Ya menurut ngana anggota serikat cuma seekor-dua ekor? Please, don't be that stupid.
Saya tergelak ketika membaca sebuah brosur dari salah satu Universitas swasta tadi siang. Dalam brosur tersebut dituliskan, hanya sedikit perusahaan keluarga yang mampu bertahan saat mencapai generasi ketiga. Kenapa? Ya sederhana karena generasi ketiga ini akan paling banyak berhadapan dengan orang-orang lama yang resisten terhadap perubahan. Segala macam perubahan akan dianggap sebagai ancaman terhadap zona nyaman. Mereka hanya berpikir bahwa semakin lama mereka bekerja di sebuah perusahaan, maka semakin banyak pula benefit yang harus mereka dapatkan. Mereka tidak berpikir, situasi dan tantangan setiap tahun akan terus bertambah dan menuntut kecepatan perubahan. Mereka tidak berpikir, seberapa besar kontribusi yang mereka berikan sehingga bisa menuntut ini dan itu.
Contoh nyata yang belum lama ini saya hadapi. Di perusahaan tempat saya bekerja dulu biasa memberikan THR sampai 2x gaji. Plus parsel dan ini-itu. Iya, itu dulu. Di saat kompetitor masih seujung kuku. Di saat ekonomi sedang maju. Di saat jumlah karyawan yang harus dipikirkan hanya seperempat dari jumlah saat ini. Lalu ketika tahun ini perusahaan menetapkan aturan SESUAI DENGAN PERMENAKER yaitu THR 1x gaji, maka muncullah kalimat-kalimat sakti semacam,
"DULU TUH NGGAK GINI". Dih. Gagal move on detected!
Mari kita buat analogi sederhana. Sama seperti halnya mereka merawat anak. Apakah kebutuhan anak setiap tahun sama? Tentu tidak. Saat masih TK, cukup dibawakan bekal roti dan susu mungkin sudah cukup. Tapi ketika sudah SD, bisa jadi ada tambahan uang saku karena ingin jajan di kantin seperti teman-temannya. Sama seperti perusahaan. Apakah kebutuhan dulu dan sekarang sama? Ya jelas tidak. Yang buruh tahu hanyalah perusahaan mendapat banyak order karena pengiriman selalu berjalan setiap hari. Tapi pernahkah berpikir bahwa harga bahan baku terus melambung mengikuti kurs dollar sementara harga jual barang hasil produksi tidak bisa dinaikkan karena mengikuti permintaan pasar? Ya bukan salah mereka juga sih kalau tidak bisa berpikir seluas itu. Tapi toh ya, bagi saya rasanya tetap saja menyebalkan.
Saya pun juga mencoba memahami mengapa pikiran mereka bisa sesempit itu. Alasannya mungkin sederhana. Ya karena mereka hingga saat ini masih bersetia di zona nyaman. Mereka tidak tahu bagaimana kerasnya persaingan di dunia kerja karena mereka sudah belasan bahkan puluhan tahun bekerja di perusahaan yang sama. Mereka tidak peduli dengan berapa ratus bahkan ribuan orang yang terpaksa di PHK karena perusahaan collapse atau efisiensi.
Seandainya mereka tahu, ada banyak orang di luar sana yang berdoa siang malam agar bisa menggantikan posisi mereka. Mereka tidak tahu ada berapa banyak orang di luar sana yang rela bekerja apa saja, dibayar berapa saja, demi memenuhi kebutuhan hidup yang semakin banyak. Lalu kamu yang masih diberi rezeki bekerja di satu perusahaan dan mendapat penghasilan tetap masih berani menuntut ini-itu?
Memangnya kamu punya spesialisasi atau keahlian apa yang membuat kamu sebegitu pedenya menuntut ini-itu? Saya selalu berpikir, apa yang bisa saya lakukan untuk meningkatkan kompetensi saya. Apa yang bisa saya lakukan agar saya memiliki "nilai jual" lebih? Karena saya tahu "harga" saya, jadi ya prinsip saya sederhana saja. Saya akan mengubah apa yang bisa saya ubah. Untuk hal yang tidak bisa saya ubah, ya lepaskan. Merasa tidak dihargai perusahaan, ya tinggalkan. Hidup sudah berat. Jangan ditambah dengan menggerutu dan menghina perusahaan yang menjadi ladang penghasilan. Selama kamu masih butuh buahnya, jangan pernah mencela pohonnya.
Saya tidak bicara bahwa pekerjaan buruh yang notabene mengutamakan tenaga itu lebih mudah atau bahkan lebih rendah daripada pekerjaan yang mengutamakan pikiran atau otak. Tidak. Semuanya sama saja. Ini hanya perkara materi yang dijual. Poin saya adalah, diferensiasi. Apa yang membedakan kamu dengan orang lain? Apa yang menjadi nilai lebih bagi dirimu dibanding orang lain? WHAT MAKES YOU SPECIAL AND IRREPLACEABLE?
Zona nyaman memang menyenangkan. Tapi tidak akan ada yang tumbuh dan berkembang dalam ketiadaan tantangan dan stagnan.
Saya sepenuhnya menyadari. Tulisan ini merupakan refleksi dari pengalaman yang pernah saya lalui. Mereka yang tidak pernah merasakan luka mendalam karena harus kehilangan pekerjaan secara tiba-tiba tanpa ada peringatan. Mereka yang tidak pernah berpikir bahwa rezeki tidak akan tertukar dan gaya hidup tidak akan pernah sejalan dengan kepuasan.
Semoga Tuhan membersihkan pikiran dari serakah dan segala keinginan untuk menuntut yang melebihi hak hingga menggugurkan berkah.
Mungkin, kamu akan paham makna bersyukur ketika kamu sudah kehilangan banyak hal yang tidak terukur.
Comments
Post a Comment