Skip to main content

P A M I T (END)


Hari ini harus saya rayakan sebagai salah satu hari paling menguras air mata
Selain disaat Almarhumah Mama saya meninggal, ini adalah sebuah hari dimana saya merasakan kehilangan yang luar biasa

Setelah 1 tahun, akhirnya Tuhan mengabulkan doa saya
Mempertemukan kembali saya dengan dia
Kami bertemu setelah tidak saling berkabar sekian lama
Dan just in case you wonder, pertemuan ini sudah atas seizin pasangan saya

Hari ini, saya sudah ikhlas memaafkan dan melepaskan.
Percayalah, tidak pernah ada perpisahan yang menyenangkan.
Tetapi kadang hidup memberi pelajaran mengenai mana yang patut dipertahankan.

Hingga detik ini, saya biarkan diri saya menangis sepuasnya.
Iya, saya masih menangis dan merasakan sakit yang sungguh menyiksa.
Rasa marah, rindu, kecewa, benci, sedih yang sudah saya pendam selama 1 tahun belakangan kini semuanya tumpah begitu saja bersamaan dengan air mata.
Awalnya saya ingin terlihat tegar dan bersikap biasa
Saya ingin dia melihat bahwa saya masih dan selalu akan baik-baik saja
Tetapi pagi ini saat mata kami bertemu, dada saya terasa nyeri dan semua kenangan tentang 6 tahun perjuangan menyeruak tanpa jeda
Tidak apa-apa, kata saya.
Saya berikan waktu bagi hati saya untuk berduka dan menyesapi setiap luka.

Saya menangis bukan karena masih ada rasa.
Tetapi karena luapan kenangan selama 6 tahun yang tidak mungkin begitu saja terbuang sia-sia.

Kami sudah memilih jalan yang berbeda.
Saya berbahagia dengan pilihan saya, dan dia berbahagia dengan keberhasilannya membuktikan kepada saya bahwa pada akhirnya dia bisa.
Maafkan saya yang tidak bisa bersabar menunggumu berproses dan menggenggam tanganmu sampai hari itu tiba.
Akhirnya, garis finishmu menjadi nyata tepat di hari ulang tahun saya.
Meskipun saya tidak ada di sampingmu, kamu harus tahu bahwa saya ikut berbahagia.

Saya tahu bahwa saya belum menjadi pasangan yang sempurna
Pagi ini ketika melihat tangan dan bahumu, kembali saya terluka
Tangan itu adalah tangan yang pernah menggenggam erat tangan saya saat menangis mengerjakan skripsi dan berbagai cobaan lainnya
Tangan itu adalah tangan yang pernah menyeka banyak air mata saya
Tangan itu adalah tangan yang pernah memeluk saya dan meyakinkan bahwa semuanya akan bisa kita lewati bersama
Bahu itu pernah menjadi tempat bersandar ternyaman saat dunia seolah sedang tidak berpihak pada saya
Bagaimana saya bisa lupa?

Semoga kamu tetap menjadi sosok berhati mulia seperti dulu yang membuat saya jatuh cinta.
Kamu harus berbahagia.
Dan semoga kamu menemukan seseorang yang menjadi alasanmu untuk terus berkembang dan berjuang, saling menguatkan tanpa melukai ego.

Terimakasih untuk semua cinta yang pernah ada
Terimakasih untuk semua hadiah dan kejutan di setiap hari istimewa kita
Terimakasih untuk Mama Papamu yang sudah begitu baik kepada saya

Semoga perpisahan ini mendewasakan kita berdua

Saya pamit :')


Comments

Popular posts from this blog

Resolusi 2019: Mengurangi Benci

Saya memang tergolong orang yang selalu memiliki rencana atau target. Kalau ibarat sebuah permainan, setelah melewati level 1 maka saya akan berlanjut ke level 2, begitu seterusnya hingga permainan tersebut berakhir. Bicara tentang pergantian tahun, orang seringkali mengaitkan itu dengan resolusi. Sebagian besar orang akan memposting di sosial media apa saja resolusinya di tahun baru, yang kemudian akan di-amin-i oleh rekan yang membaca postingan tersebut. Saya? Percaya atau tidak, saya justru jarang memposting tentang resolusi. Hal itu bukan karena saya tidak memiliki resolusi. Bisa dibilang, ada dua alasan. Pertama, resolusi bagi saya adalah suatu hal yang pribadi. Sebut saja, sebuah janji kepada diri saya sendiri yang tidak perlu mendapat legitimasi. Kedua, resolusi saya seringkali berubah sewaktu-waktu (maha benar libra dengan segala kelabilannya wkwkwkwkwk). Tahun 2018 kemarin sejujurnya bukan tahun yang mudah bagi saya. Mungkin jika harus membuat perbandingan, porsi sed...

(NOT) AN INSTANT JUDGMENT

Saya sudah menggeluti bidang sumber daya manusia selama sekitar 7 tahun. Sebuah rentang waktu yang cukup lama untuk bertemu dengan orang dari berbagai latar belakang dan karakter. Seluruh perusahaan tempat saya bekerja menaruh tugas rekrutmen sebagai salah satu indikator pencapaian. Tidak heran, saya cukup familiar dengan metode interview dan juga beberapa alat tes, terutama tes kepribadian. Saya pribadi termasuk golongan orang yang percaya akan pengaruh faktor kepribadian dalam keberhasilan seseorang. Oleh karena itu, biasanya saat pelaksanaan psikotes akan lebih banyak digunakan tes kepribadian dibandingkan kecerdasan. Meskipun saya seorang sarjana psikologi, saya tidak sembarangan memberikan analisa atau interpretasi dari alat tes. Terutama jika alat tesnya adalah alat tes proyeksi, seperti misalnya tes grafis menggambar pohon, manusia. Ketika menempuh pendidikan strata 1 selama 3.5 tahun memang saya pernah mempelajari alat tes tersebut. Tapi sesuai dengan kode etik psikologi,...

Dieu

Allah Beri aku kekuatan untuk percaya Bahwa rencana-Mu pasti luar biasa Allah Aku tahu bahwa Engkau menggenggam hatiku Jangan biarkan hatiku jatuh pada yang tidak mencintai-Mu Allah Aku percaya bahwa Engkau mampu membolak-balikkan hatiku Maka jangan biarkan aku tenggelam dalam pilu Allah Jangan biarkan aku menyesapi kesedihan yang berlebihan Ajari aku merasa cukup dengan cinta-Mu saja Agar aku percaya bahwa tiada kehilangan melainkan akan Engkau ganti dengan yang lebih bermakna Allah, aku pasrah