Skip to main content

3B

Teruntuk anakku kelak,

Nak, ada yang mengatakan bahwa tugas terakhir bagi orang tua adalah memilihkan jodoh terbaik untuk anaknya
Coba bayangkan saja
Selama ini dalam memilih makanan, pakaian, pendidikan, dan begitu banyak hal lainnya saja kami selalu berusaha memilihkan yang terbaik
Apalagi memilihkan jodoh, yang berkorelasi dengan ibadah seumur hidup

Darah suku Jawa yang mengalir dalam tubuhmu akan selalu membawa kita kembali pada satu pedoman penting dalam memilih jodoh:
"Bibit, Bebet, Bobot"
Pedoman itu menjadi sebuah SOP mutlak yang berlaku dalam adat budaya kita sebagai orang Jawa
Pedoman yang terlihat sederhana, namun bisa menyimpan banyak bencana

Pengalaman hidup dan berbagai masalah yang pernah Ibu lewati bisa saja mengubah pandangan Ibu mengenai konsep tersebut
Ibu ingin yang terbaik untukmu, tapi Ibu juga percaya bahwa kamu tahu yang terbaik untukmu

Maafkan Ibu yang memiliki pemikiran berbeda dengan adat budaya kita, Nak
Bukannya Ibu tidak memahami atau menerima konsep bibit bebet bobot yang sudah berlaku sekian lama
Hanya saja Ibu merasa bahwa dengan meyakini dan mempraktikkan konsep tersebut seutuhnya, maka kita sedang "mengecilkan" Tuhan yang mampu mengubah segalanya

Konsep bibit bebet bobot mengisyaratkan tentang hal-hal yang sempurna
Tetapi jangan lupa, tidak ada istilah sempurna bagi manusia

Ibu percaya sebuah konsep sederhana
Bahwa setiap manusia dilahirkan ke dunia dengan keunikan yang berbeda-beda
Dan bahwa kita memiliki kemampuan untuk memilih bagaimana jalan hidup kita

Bagaimana jika nanti ternyata kamu jatuh cinta dengan anak seorang petani biasa, atau pedagang kecil di pasar yang penghasilan per harinya tidak seberapa?
Apakah lantas Ibu harus menolak pilihanmu karena merasa bahwa keluarganya tidak sepadan dengan keluarga kita?
Jikalau Ibu berpikiran demikian, tolong ingatkan Ibu kembali mengenai sebuah ayat sederhana dalam kitab suci kita, "Tidak akan pernah mencium bau surga seseorang yang dalam hatinya tersimpan kesombongan barang sedikit saja"

Mari kita coba lihat dengan perumpaan lainnya
Ketika ibu akan memasak atau membuat sebuah kue, Ibu pasti akan menggunakan bahan-bahan berkualitas terbaik agar hasilnya sempurna
Tetapi ketika Ibu mengganti satu saja komponen utama dengan kualitas rendah, misalnya telur busuk, maka hasilnya tidak akan sempurna atau bahkan tidak layak kita sebut sebagai makanan
Tapi apakah hal itu berlaku juga pada manusia?
Jika teori tersebut kita sematkan pada manusia, maka Ibu pikir kita tidak lagi mampu mempercayai kemampuan manusia untuk berubah dan kekuasaan Tuhan untuk mewujudkannya
Seorang anak tidak pernah bisa memilih ingin dilahirkan dari orang tua yang seperti apa
Dan kalau pun bisa memilih, tentu tidak ada yang ingin dilahirkan oleh orang tua yang hidup dalam kekurangan atau berperilaku buruk
Ibu ingat ada salah seorang teman Ibu yang berkata, "Lahir dalam keadaan miskin adalah takdir, namun mati dalam keadaan miskin adalah pilihan"
Maka tidak ada yang tidak mungkin jika manusia mau berusaha, terlepas dari kondisi apapun ia bermula

Nak, sekali lagi ingatlah bahwa Ibu selalu menginginkan yang terbaik untukmu
Namun jika keinginan Ibu untuk memberikan yang terbaik itu lantas membuat Ibu harus merendahkan anak orang lain, maka kamu mungkin saja akan berubah membenci Ibu di sisa hidupmu

Nak, Ibu tidak ingin perbedaan pendapat menjadikan kita berjarak
Ibu ingin kita duduk bersama dan saling bercerita, jangan menghindar atau mengelak

Bisa saja, ada kelebihan dalam dirinya yang membuatmu jatuh cinta namun Ibu tidak mampu melihatnya karena terlanjur terperangkap dalam praduga
Tidak apa-apa, ceritakan saja
Agar Ibu bisa melihat dia dari sudut pandang yang berbeda
Bisa saja, ada kelemahan Ibu yang kamu lihat, dan lalu kamu menemukan dia sebaliknya
Bisa saja, dia memang melengkapimu dengan cara yang istimewa
Kalau begitu, mengapa kita tidak berdoa bersama?
Jika memang dia adalah jodoh terbaik untukmu, mari kita berdoa agar hati ibu dilembutkan untuk menerima
Dan jika dia bukan jodoh terbaik untukmu, mari kita berdoa agar hatimu pun dilembutkan dan diberikan kekuatan untuk merelakan

Nak, seiring berjalannya waktu kamu akan tahu bahwa manusia adalah kumpulan dari segala pilihan yang dibuatnya
Kamu tidak lupa kan, bahwa Ibu selalu percaya dengan pilihanmu karena Ibu tahu kamu akan siap menerima segala konsekuensinya
Itulah saat dimana Ibu menyebutmu dewasa

Menikah tidak hanya sekadar perkara cinta
Menikah adalah sebuah ibadah seumur hidup yang tidak mudah, namun akan menjadi jalan ke surga
Dan seperti yang pernah Ibu ceritakan, menikahlah dengan orang yang tidak akan lelah untuk selalu diajak belajar bersama sampai kalian menua


Salam cinta,
Ibu yang akan tetap menjadi orang Jawa dan berpikiran terbuka

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi 2019: Mengurangi Benci

Saya memang tergolong orang yang selalu memiliki rencana atau target. Kalau ibarat sebuah permainan, setelah melewati level 1 maka saya akan berlanjut ke level 2, begitu seterusnya hingga permainan tersebut berakhir. Bicara tentang pergantian tahun, orang seringkali mengaitkan itu dengan resolusi. Sebagian besar orang akan memposting di sosial media apa saja resolusinya di tahun baru, yang kemudian akan di-amin-i oleh rekan yang membaca postingan tersebut. Saya? Percaya atau tidak, saya justru jarang memposting tentang resolusi. Hal itu bukan karena saya tidak memiliki resolusi. Bisa dibilang, ada dua alasan. Pertama, resolusi bagi saya adalah suatu hal yang pribadi. Sebut saja, sebuah janji kepada diri saya sendiri yang tidak perlu mendapat legitimasi. Kedua, resolusi saya seringkali berubah sewaktu-waktu (maha benar libra dengan segala kelabilannya wkwkwkwkwk). Tahun 2018 kemarin sejujurnya bukan tahun yang mudah bagi saya. Mungkin jika harus membuat perbandingan, porsi sed...

(NOT) AN INSTANT JUDGMENT

Saya sudah menggeluti bidang sumber daya manusia selama sekitar 7 tahun. Sebuah rentang waktu yang cukup lama untuk bertemu dengan orang dari berbagai latar belakang dan karakter. Seluruh perusahaan tempat saya bekerja menaruh tugas rekrutmen sebagai salah satu indikator pencapaian. Tidak heran, saya cukup familiar dengan metode interview dan juga beberapa alat tes, terutama tes kepribadian. Saya pribadi termasuk golongan orang yang percaya akan pengaruh faktor kepribadian dalam keberhasilan seseorang. Oleh karena itu, biasanya saat pelaksanaan psikotes akan lebih banyak digunakan tes kepribadian dibandingkan kecerdasan. Meskipun saya seorang sarjana psikologi, saya tidak sembarangan memberikan analisa atau interpretasi dari alat tes. Terutama jika alat tesnya adalah alat tes proyeksi, seperti misalnya tes grafis menggambar pohon, manusia. Ketika menempuh pendidikan strata 1 selama 3.5 tahun memang saya pernah mempelajari alat tes tersebut. Tapi sesuai dengan kode etik psikologi,...

Dieu

Allah Beri aku kekuatan untuk percaya Bahwa rencana-Mu pasti luar biasa Allah Aku tahu bahwa Engkau menggenggam hatiku Jangan biarkan hatiku jatuh pada yang tidak mencintai-Mu Allah Aku percaya bahwa Engkau mampu membolak-balikkan hatiku Maka jangan biarkan aku tenggelam dalam pilu Allah Jangan biarkan aku menyesapi kesedihan yang berlebihan Ajari aku merasa cukup dengan cinta-Mu saja Agar aku percaya bahwa tiada kehilangan melainkan akan Engkau ganti dengan yang lebih bermakna Allah, aku pasrah