Skip to main content

Momen Puncak: 7 Juli 2011

7 Juli 2011, hari yang perlu saya ingat sepanjang hidup saya.
SIDANG SKRIPSI
Suatu moment yang harus saya lewati untuk menambah panjang nama saya menjadi 
Fanny Widiyanti S.Psi
Suatu moment yang menuntut perjuangan melewati jalan yang panjang dan berliku
Suatu moment yang menuntut kesabaran dan ketekunan luar biasa

Ketika hari Selasa kemarin mengetahui dosen penguji saya, tidak ada rasa terkejut
Mungkin karena saya sudah menduga sejak lama bahwa beliau yang menjadi penguji saya

Hingga Rabu siang, tidak ada perasaan takut, tegang, dan sejenisnya
Yang ada hanya satu:
PASRAH

Sore hari sebelum berangkat ke kantor, saya berpamitan dengan teman dekat sekaligus teman kos saya, Novi
Sore itu juga dia akan pulang ke Banyuwangi
Saya memeluknya dan meminta doa agar sidang saya besok lancar
Seketika itu juga saya menangis
Detik itu juga muncul ketakutan yang luar biasa
Bayangan bahwa saya harus melewati moment itu sendirian
Bayangan jika saya harus sidang ulang...

Episode air mata itu ternyata tidak berhenti sampai di sana
Sampai di kantor, kegalauan makin menjadi-jadi
Didukung dengan kelelahan fisik dan beberapa hal yang merusak mood saya
Butiran air mata seolah memaksa untuk keluar
Rasa sesak yang luar biasa membuat ingin berteriak sekencang-kencangnya
Saya menangis lagi
Mati-matian saya berusaha menyembunyikan mata yang sembap

Malam itu saya berniat untuk menginap di kantor, mengingat tanggung jawab saya sebagai PIC dari proyek besar yang sedang digarap
Tapi banyak yang melarang dan menyuruh saya untuk pulang dan beristirahat, serta mempersiapkan segala sesuatu untuk sidang besok
Saya menurut dan memutuskan untuk pulang
Sejujurnya saat itu juga saya merasa bahwa kondisi fisik saya sudah mulai drop


Semangat saya untuk belajar pun hilang entah kemana
Yang ingin saya lakukan hanya memejamkan mata, tidur
Hingga pagi pun rasanya saya tidak bersemangat


3 jam sebelum sidang, baru saya membaca-baca kembali seluruh buku dan jurnal yang saya gunakan sebagai referensi dalam penelitian saya
Dan ketika itu, semakin banyak SMS yang masuk ke handphone saya
SMS yang memberikan dukungan dan doa bagi saya


Ah.
Detik itu juga saya menyadari makna suatu kalimat (atau teori) yang saya baca di salah satu jurnal ilmiah mengenai dukungan sosial
Dukungan yang adekuat terkadang juga bisa menjadi sumber beban bagi si penerima dukungan


Itu yang sempat saya rasakan
Ketakutan luar biasa
Bagaimana jika ternyata saya dinyatakan tidak lulus dan mengecewakan banyak orang?
Bagaimana jika saya tidak bisa memberikan yang terbaik seperti harapan mereka?
Otak saya tidak berhenti memvisualisasikan hal-hal negatif yang menyakitkan
Dan sumpah demi apapun yang bisa disumpahin
Such perturbing thinking made me lost my confidence =(


Tiba-tiba, saya teringat untuk mengirimkan pesan singkat kepada kedua subyek penelitian saya
Saya berniat untuk meminta doa restu, serta menanyakan kabar mereka dan ibunya
Subyek kedua membalas SMS saya dan mengatakan kalau ia dan ibunya baik-baik saja
Bahkan ia menceritakan bahwa ibunya saat ini sudah tidak perlu menerima suntikan insulin setiap pagi


Tidak lama kemudian, SMS balasan dari subyek pertama masuk ke handphone saya
"Waalaikumslm. Alhamdulillah kbr sy baek. Tp maaf sblmx blm sempet ngabarin + smg g ganggu jalanx sidangx fanny. Sbnrx ibu sdh meninggal dunia tgl 12 juni kmrn. Maaf y klo ibuq ad slh + g smpet ngabarin. Semangat bwt sidangx. Tetap berjuang dan jgn terganggu sidang. Jdkan berita ini sbg pelecut smgtmu"


Saya terdiam. Handphone terlepas dari genggaman begitu saja.
Sepersekian detik kemudian, air mata saya sudah tidak dapat dikendalikan
Saya menangis sejadinya-jadinya
Kumpulan rasa sedih, terkejut, terpukul, dan takut
Rasanya baru beberapa hari yang lalu saya mewawancarai ibu SNT itu sebagai significant other dalam penelitian saya
Terkenang lagi ketika pertama kali kami mengobrol lewat telepon
Begitu juga ketika saya datang ke rumahnya untuk melakukan wawancara awal


Dan ketika itu juga, saya teringat Almarhum Bunda
Ibu SNT ini memiliki karakteristik kepribadian yang hampir mirip dengan Bunda
Sama-sama melankolis
Ketika mewawancarainya, saya merasa seolah sedang berbicara dengan Bunda


Ada sebuah kalimat Ibu SNT yang paling saya ingat
Kurang lebih begini:
"Saya itu sering mbak, kalo pas ke Rumah Sakit terus ditanya-tanyain sama mahasiswa kayak mbaknya gini. Mungkin lagi skripsi juga ya. Kalo ditanya-tanya gitu, ya saya jawab. Saya usahakan nggak mengecewakan yang tanya ke saya. Ya saya juga mikirin anak saya, mbak. Nanti kalo dia juga butuh tanya-tanya ke orang gitu buat TAnya, semoga ada yang bantu"


Subhanallah
Ibuuuuuuuuuuuuuu :((


Saya teringat Bunda yang dulu juga pernah mengungkapkan kalimat yang hampir mirip
Dulu Bunda sangat suka memasak
Masakannya sering menjadi favorit banyak orang
(dan kenapa bakat memasak itu tidak banyak menurun kepada saya)
Setiap kali memasak, Bunda tidak pernah lupa untuk berbagi
Berbagi dengan tetangga, mahasiswanya, tukang sampah, pembantu, dan banyak lagi


Saya ingat Bunda pernah berkata seperti ini:
"Bunda tuh nggak berharap dapat balasan apa-apa. Bunda cuma pengen berbagi sama orang lain. Doa Bunda cuma satu. Nanti kalo dua anak Bunda udah pada kuliah terus jauh dari Bunda, tetap ada orang yang sayang sama kalian dan mau berbagi"


Dada saya semakin sakit mengingat semua itu
Semua kenangan masa lalu bersama Bunda dan juga saat mewawancarai ibu SNT terus terbayang dalam pikiran saya
Saya tidak bisa meminta doa restu pada Ibu SNT lagi
Saya juga tidak bisa menelepon Bunda untuk memohon doa restunya
Kali ini saya harus berjuang sendiri
Teringat momen indah ketika Bunda mencium kening saya sambil berdoa sebelum saya berangkat ke sekolah untuk menghadapi ujian
Kali ini, saya harus pergi menghadapi sidang dengan bekal doa, sujud dan dzikir tiada henti


Saya sadar, mata saya masih sangat sembap sehabis menangis
Namun saya tidak punya banyak waktu untuk mengompres
Saya pasrah memasuki ruang sidang dengan kondisi mata sipit seperti itu


Syukur Alhamdulillah, saya punya teman-teman luar biasa yang setia menemani saya dalam momen penting seperti itu
Agus Salim dan Erwin Tri Susanto setia menemani, bahkan membantu saya untuk latihan presentasi
Begitu juga dengan Safinatul Wahidah
Teman-teman terbaik selama masa kuliah saya =)
*hug*


Kurang lebih 1,5 jam saya menghadapi segala pertanyaan dari tim penguji
Ada beberapa komentar dan pertanyaan yang membuat mental saya gonjang-ganjing huru-hara
Ada rasa lega luar biasa setelah waktu untuk tanya jawab selesai
Saya diminta keluar ruangan, sementara tim penguji akan berdiskusi mengenai hasil sidang saya


Saya keluar ruangan dengan lemas dan penuh keringat dingin, ditambah perut yang luar biasa terasa perih dan lidah yang terasa pahit
Efek tegang, dan juga karena saya belum makan apapun seharian itu
Fina memeluk saya
Seketika itu juga, air mata saya pecah (lagi)
Berkali-kali saya mengatakan pada Fina bahwa saya takut
Takut yang luar biasa
Momen menunggu pengumuman itu terasa seperti mencekik leher
Sakit !


Dan ketika saya dipanggil masuk kembali ke dalam ruangan, saya tidak hentinya berkata pada diri saya sendiri,
"Kamu harus siap apapun keputusannya nanti, fan"


Setelah melalui penggonjlokan yang panjang dan membuat wajah saya sangat bersemu merah saking malu, ketua penguji mulai memberitahukan keputusan sidang itu


Lucunya, cara beliau memberitahukan keputusan bahwa saya lulus itu (entah kenapa) membuat saya...
Mmm, saya bingung memilih kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi saat itu


Yang jelas, saya bingung
Pikiran saya penuh dengan tanda tanya,
"Jadi, inti dari omongan Ibu barusan itu apa? Saya lulus atau tidak?"
Bahkan ketika beliau dan ketiga penguji lain memberikan selamat sambil mencium pipi saya, saya masih seperti orang linglung yang bingung harus bagaimana
Tidak ada rasa bahagia
Tidak ada rasa sedih
Hambar !
Mati rasa !


Saya diminta untuk menandatangani sebuah surat pernyataan bermaterai
Dan saya pernah diberitahu bahwa penandatangan semacam itu menandakan bahwa kita sudah lulus
Tapi entah kenapa
Perasaan saya tetap kosong
Tidak ada greget apapun
Tidak ada rasa lega, bahagia
Benar-benar mati rasa


Bahkan ketika Pak Komar seorang staff akademik bertanya mengenai hasil sidang, saya menjawab dengan tatapan kosong
"Nggak tau Pak. Saya juga bingung ini saya lulus apa nggak."


Pak Komar yang sangat baik hati berusaha meyakinkan saya kalau keputusan itu sudah jelas:
SAYA LULUS
Saya hanya tertawa datar dan tetap dengan ekspresi bodoh


Melihat saya yang masih terlihat tidak karuan, Pak Komar mengatakan satu hal yang membuat saya merasa sangat dihargai
" Dari awal saya sudah tau kalau kamu pasti lulus. Dari cara kamu latihan presentasi, penampilanmu, sikapmu, semuanya membuat saya yakin kalau kamu pasti lulus. Selamat ya, sudah lulus dengan nilai yang sangat baik. Jarang lho, ada yang nilainya bisa setinggi kamu"
*terimakasih Pak Komar*


Suasana hati saya yang masih morat-marit tidak karuan harus mendapat ujian lagi
Reaksi Papa tentang kelulusan saya, serta sikap dari seseorang yang membuat saya sangat terpukul dan ingin berteriak
Kemudian ditambah lagi dengan sebuah komentar tidak enak mengenai sidang saya, yang disampaikan oleh seseorang yang bahkan tidak hadir dalam sidang saya itu
Lucu sekali kamu, mas.
Saya yang ketika itu sedang di puncak emosi langsung mengeluarkan kata-kata sadis (mungkin menurut orang yang tidak punya perasaan seperti dia sih, kalimat itu biasa saja)
"Eh kamu yang belum SARJANA. Nggak usah banyak omong deh ya"


Lengkap sudah kekesalan saya hari itu
Semakin besar pula keinginan untuk memaki orang-orang yang membuat saya kesal
Status mood langsung berubah jadi: SENGGOL BACOK !


Saya langsung ke kantor untuk menyelesaikan banyak tugas
Sayangnya, tekanan tugas justru membuat saya semakin lemah
Saya pikir, ada kaitannya dengan faktor hormonal juga (dasar cewek!)
Saya memutuskan untuk keluar dari sekre, dan menelepon teman saya, namun tidak ada yang mengangkat
Tidak lama kemudian, ternyata saya ditelepon oleh Novi
Saya menceritakan seluruh unek-unek saya sambil menangis
Saya luapkan semuanya
Sedikit lega setelah menceritakan perasaan saya kepadanya
Namun ternyata, hal itu tidak sepenuhnya mengurangi "kegalauan" bodoh saya
Saya masih ingin menangis sepuasnya


Dan, kelanjutannya sudah bisa ditebak
Saya memberikan stempel pada hasil tes klien sambil berlinang air mata, dan berulang kali mengusapnya dengan tisu
Saya tau tidak seharusnya saya membawa suasana negatif seperti itu di kantor
Tapi itu benar-benar hari yang berat untuk saya setelah seharian penuh menghadapi tekanan emosional bertubi-tubi
Saya tahu mata saya semakin sipit dan perih
Terserah !


Saya menyelesaikan beberapa pekerjaan di kantor hingga pukul 9 malam
Rasanya ingin segera sampai di kos
Mandi, membaringkan badan di kasur, menangis sepuasnya
Nista banget yaa, pelampiasannya hanya menangis saja !


Sesampai di kos, saya disambut oleh ucapan semangat dan pelukan dari teman-teman kos saya, Kanti, Rida, Hanif, dan Vinka
Ah, terimakasih =)


Jujur, tidak ada rasa bangga ketika begitu banyak orang mengucapkan selamat atas gelar S.Psi yang baru saya raih
Bukannya saya tidak menghargai jerih payah selama kurang lebih 3 bulan itu
Entah. Saya juga tidak tahu.
Seolah masih ada yang mengganjal dalam hati saya


"Bunda, ucapan selamat itu untukmu", 
Begitu ujar saya dalam hati setiap kali menerima ucapan selamat atas kelulusan saya


Saya tidak akan merasa lega hingga saya berhasil menyelesaikan REVISI skripsi ini, yang diberi batas waktu hingga Rabu minggu depan
Setelah saya mengumpulkan revisi, barulah saya boleh sedikit merasa lega


Terimakasih untuk seluruh SMS dan telepon yang memberikan doa dan dukungan serta ucapan selamat bagi saya
Terimakasih juga untuk segala wall dan tweet yang langsung menambahkan gelar S.Psi pada nama saya =)
Terimakasih untuk segala kalimat suportif dan bantuan konkrit selama proses pengerjaan skripsi saya
Terimakasih untuk banyak pihak yang tidak berhenti meyakinkan saya kalau saya pasti mampu menyelesaikan skripsi ini
Mohon maaf kalau saya jadi sering merepotkan :P
Mohon maaf kalau saya jadi sering terkesan egois
Mohon maaf kalau saya jadi terlalu sering mengurung diri di kamar dari pagi hingga pagi lagi
Mohon maaf jika ada yang tersinggung atas sarkasme saya, terutama ketika suasana hati saya sedang buruk atau diserang kepanikan karena mengejar deadline


Semoga, ilmu yang saya dapatkan selama 4 tahun menempuh pendidikan di strata 1 ini dapat bermanfaat bagi diri saya sendiri, dan juga lingkungan saya
Semoga, gelar S.Psi ini tidak membuat saya tinggi hati dan berhenti belajar karena merasa pintar
Semoga kelulusan saya nanti dapat membuka berbagai kemudahan dalam langkah saya mengejar segala cita-cita dan merealisasikan mimpi-mimpi
Semoga saya bisa menjadi orang yang lebih berguna bagi orang di sekitar saya
Semoga pengalaman dan perjuangan selama menempuh kuliah serta proses penyelesaian skripsi ini dapat membuat saya menjadi pribadi yang lebih baik dan mampu menghargai setiap proses yang saya lewati


Bunda, putri kecilmu sudah melewati satu ujian berat lagi
Semoga ini bisa membuatmu bangga dan tersenyum bahagia dari surga :`)


Ibu SNT, semoga diampuni segala dosanya dan diberikan tempat terbaik di sisi Allah
Semoga perjuangan ibu melawan penyakit kanker payudara itu mendapat balasan dari Allah
Semoga Mbak DS dan kedua kakaknya bisa menjadi lebih kompak dan saling menjaga setelah kepergian Ibu
Semoga sebentar lagi Mbak DS bisa menghadapi sidang TAnya dengan sukses dan meraih gelar sarjana, sehingga membuat Ibu bangga


Allah...
Terimakasih atas segala kemudahan yang Engkau berikan padaku
Terimakasih atas nikmat yang tidak pernah putus untukku
Terimakasih atas segala ujian yang Engkau berikan, agar menjadikanku lebih kuat
Sujud syukur atas segala karunia-Mu, Ya Rabb
=)


Best regard,
fanny

Comments

  1. semangat ya Fan!
    alhamdulillah kamu sudah melewati klimaks, sekarang tinggal menuju anti klimaks dari dia yang berinisial "S". hehe :D

    ReplyDelete
  2. Makasiiihh banget cintaa. Ayoo, kamu tetap jaga semangat yaaa, supaya segera menyusul. Ikhlas dgn takdir Allah, cint :)

    ReplyDelete

Post a Comment