Skip to main content

Maaf Untuk Papa

Jumat kemarin, aku sibuk mengurus segala persyaratan yudisium
Fiuuuh!
Begini tho ribetnya orang yang mau lulus
Mengurus surat keterangan ini-itu kesana-kemari
Terimakasih untuk my little brother Erwin yang sudah mengantarkan ke rektorat untuk foto ijazah :)

Aku diberikan selembar formulir pendaftaran yudisum beserta transkrip nilai dari Pak Rustam
Aku memandangi transkrip nilai itu sambil berkata dalam hati
"Ini lho, perjuanganku selama 4 tahun"

Jujur, ketika itu ada rasa kecewa
Kecewa pada diri sendiri

Aku gagal memenuhi harapan Papa untuk melihat putrinya lulus dengan predikat
CUM LAUDE
Maaf, Pah :(
Maybe I should try harder...

Ada rasa kesal pada diriku sendiri
Aku benci segala sesuatu yang "nanggung"
Dan itu juga yang terjadi pada Indeks Prestasi Kumulatifku
Hanya mampu berada pada level tiga koma empat sekian
Hanya kurang nol koma nol sekian dari predikat cum laude
Miris :((

Mau tidak mau, aku mengenang kembali perjalanan panjang selama 4 tahun ini
Aku seringkali jatuh sakit pada momen yang tidak tepat (baca: UAS)
Belajar terlalu ngoyo, akhirnya sakit dan tidak fokus saat ujian
Bodohnya >,<

Belum lagi last minutes syndrome yang sering menjadi bagian penyelesaian tugas
Hell, yeah.

Ingin sekali mengulangi semangatku di semester 2
Itu benar-benar semester paling gemilangku dalam perjalanan pendidikan strata satu ini
Hampir seluruh mata kuliah yang aku tempuh di semester itu mendapat nilai A
Mencapai IP yang nyaris sempurna
3,88
Bisa kubayangkan bagaimana bahagianya Papa saat menerima kiriman KHSku semester itu :)

Ada banyak nilai mata kuliah yang membuatku sangat puas dan bangga seperti Konseling, dan Konstruksi Alat Ukur yang mampu mencapai nilai sempurna A
Ada juga nilai yang membuatku miris dan ingin menangis
Seperti Psikodiagnostik 6 yang hanya mendapat B
Seluruh tugas mingguan di mata kuliah itu aku kerjakan dengan sangat baik
Tidak ada nilai tugasku yang di bawah AB
Aku menikmati tugas mingguan yang terkait dengan segala macam alat tes kepribadian itu
Namun sayang
Ketika UTS, aku sakit dan tidak belajar dengan maksimal
Prosentase penilaian yang tidak seimbang antara tugas dengan UTS membuat nilai akhirku pada mata kuliah itu anjlok
Miris rasanya
Apalagi ketika tahu ada temanku yang 3 kali tidak mengumpulkan tugas mingguan berhasil mendapat nilai akhir AB karena dia belajar keras saat UTS
Sempat terpikir, "tau gitu nggak usah ngerjain tugas mingguan ya. Yang nggak ngumpul juga nilainya cuma dipotong sedikit. Mending belajar buat UTS aja. Cukup."
Aku berusaha ikhlas
Ya sudah lah. Memang dia berjodoh dengan nilai AB itu
Toh dengan semua tugas mingguan yang aku kerjakan dengan rapi, aku sudah mendapat banyak pelajaran

Ada banyak orang yang berkata padaku,
"Halah, IPK itu cuma berguna mengantarkanmu lolos seleksi administrasi. Sudah, itu saja"
"Dunia kerja itu beda dari dunia kuliah. IPK tidak akan banyak berpengaruh"
Intinya, IPK itu bukan segalanya !

Oke, fine.
Aku akui, IPK bukan segalanya
Dan ada benarnya juga, itu hanya akan mengantarkanku lolos seleksi administrasi ketika melamar kerja
Tunggu dulu
Hanya?

Ah, entah kenapa aku kurang setuju
Bagiku, IPK bukan hanya sekedar penentu untuk seleksi administrasi
Namun terlepas dari semua itu, IPK adalah sebuah bentuk pertanggungjawabanku
Pertanggungjawaban kepada Papaku sebagai orangtua sekaligus orang yang membiayai kuliahku
Pertanggungjawaban kepada orang-orang tersayang yang tidak pernah berhenti memberikan doa, semangat, dan dukungan bagiku
Pertanggungjawaban kepada orang-orang yang telah menaruh harapan besar padaku

IPK bukan sekedar penentu seleksi administrasi
Tapi itu juga menunjukkan seberapa besar tanggung jawabku pada pendidikan yang aku jalani
Itu menunjukkan seberapa besar dedikasiku pada bidang yang aku tekuni
Itu menunjukkan perjuangan panjang melewati segala rintangan
Itu menunjukkan ketekunan mempelajari segala hal baru
Jadi, tidak ada kata hanya sekedar penentu seleksi administrasi !

Senang rasanya ketika mengetahui dua orang sahabat dekatku berhasil lulus dengan predikat cum laude
Selamat ya sayangku Aghnis Fauziah yang menjadi wisudawan terbaik dan juga Novi Herlina, Windha Aprilia yang berhasil lulus dengan predikat cum laude :)
Tapi ada rasa sedih juga
Seharusnya aku bisa berusaha lebih kerasa seperti mereka bertiga

Anyway, aku merasa bersyukur sekali bisa mempunyai teman seperti mereka
Novi, Aghnis, Erwin, Agus, Fina, Rizky, Windha
Aku seringkali termotivasi untuk mengerjakan tugas
Aku seringkali tertular semangat mereka
Aku selalu punya teman untuk berdiskusi
Aku merasa bangga dengan mereka
Dan aku bahagia karena aku tidak salah memilih teman
Terimakasih untuk persahabatan serta diskusi yang indah selama 4 tahun ini :)

PKL Psikologi Anak dan Remaja Khusus di Malang
Ki-Ka: Windha, Vira, Novi, Fina, Aghnis, Rizky, Tia, Aku
Kangen kuliah bareng lagi, duduk berdampingan, jalan-jalan, ke Perpus sampai sore membahas banyak hal dengan kalian
Gonna miss you, terribly :*
Sebelum lulus, yuk kita kumpul-kumpul lagi
Sangat amat sangat kangen kalian :*

Papa...
Maaf belum bisa memberikan yang terbaik untukmu
Maaf karena aku gagal mewujudkan impianmu
Inilah yang terbaik yang mampu aku berikan




Kakak...
Terimakasih untuk segala perhatian dan kasih sayang untukku
Terimakasih untuk kesabaran mendengarkan segala keluh kesah dan tangisanku
Terimakasih untuk segala dukungan dan doa yang tidak pernah berhenti
I Love you, unconditionally :*



Bunda...
Walaupun bunda tidak ada di sampingku selama 4 tahun ini
Aku tahu, bunda selalu mendoakanku dari surga
Nanti setelah semua urusanku di Surabaya selesai, aku ingin berdoa di hadapan makammu dengan membawa gelar Sarjana Psikologi
Semua itu aku persembahkan untukmu, Bunda
Jangan pernah lelah mendoakan putri kecilmu yaa, Bunda :)

Terimakasih juga untuk my best ever partner, Indra Mulya yang tidak pernah berhenti mengingatkanku untuk bersyukur, dan selalu bersyukur
Jangan hanya melihat orang-orang yang nilainya ada di atas
Sesekali coba melihat mereka yang ada di bawah
Dan semua itu bisa membantuku untuk belajar bersyukur
(sangat bersyukur juga untuk nilai skripsiku yang hampir mencapai sempurna, sementara teman-teman yang lain hanya mampu meraih BC bahkan C)

Allah Ya Rabbi,
terimakasih untuk segala pertolongan dan kemudahan yang Engkau berikan padaku
terimakasih untuk segala karuniamu yang tidak terhingga
Semoga Engkau memberikan kemudahan bagiku untuk meraih impian selanjutnya
Amin =)





Comments

Popular posts from this blog

Resolusi 2019: Mengurangi Benci

Saya memang tergolong orang yang selalu memiliki rencana atau target. Kalau ibarat sebuah permainan, setelah melewati level 1 maka saya akan berlanjut ke level 2, begitu seterusnya hingga permainan tersebut berakhir. Bicara tentang pergantian tahun, orang seringkali mengaitkan itu dengan resolusi. Sebagian besar orang akan memposting di sosial media apa saja resolusinya di tahun baru, yang kemudian akan di-amin-i oleh rekan yang membaca postingan tersebut. Saya? Percaya atau tidak, saya justru jarang memposting tentang resolusi. Hal itu bukan karena saya tidak memiliki resolusi. Bisa dibilang, ada dua alasan. Pertama, resolusi bagi saya adalah suatu hal yang pribadi. Sebut saja, sebuah janji kepada diri saya sendiri yang tidak perlu mendapat legitimasi. Kedua, resolusi saya seringkali berubah sewaktu-waktu (maha benar libra dengan segala kelabilannya wkwkwkwkwk). Tahun 2018 kemarin sejujurnya bukan tahun yang mudah bagi saya. Mungkin jika harus membuat perbandingan, porsi sed...

(NOT) AN INSTANT JUDGMENT

Saya sudah menggeluti bidang sumber daya manusia selama sekitar 7 tahun. Sebuah rentang waktu yang cukup lama untuk bertemu dengan orang dari berbagai latar belakang dan karakter. Seluruh perusahaan tempat saya bekerja menaruh tugas rekrutmen sebagai salah satu indikator pencapaian. Tidak heran, saya cukup familiar dengan metode interview dan juga beberapa alat tes, terutama tes kepribadian. Saya pribadi termasuk golongan orang yang percaya akan pengaruh faktor kepribadian dalam keberhasilan seseorang. Oleh karena itu, biasanya saat pelaksanaan psikotes akan lebih banyak digunakan tes kepribadian dibandingkan kecerdasan. Meskipun saya seorang sarjana psikologi, saya tidak sembarangan memberikan analisa atau interpretasi dari alat tes. Terutama jika alat tesnya adalah alat tes proyeksi, seperti misalnya tes grafis menggambar pohon, manusia. Ketika menempuh pendidikan strata 1 selama 3.5 tahun memang saya pernah mempelajari alat tes tersebut. Tapi sesuai dengan kode etik psikologi,...

Dieu

Allah Beri aku kekuatan untuk percaya Bahwa rencana-Mu pasti luar biasa Allah Aku tahu bahwa Engkau menggenggam hatiku Jangan biarkan hatiku jatuh pada yang tidak mencintai-Mu Allah Aku percaya bahwa Engkau mampu membolak-balikkan hatiku Maka jangan biarkan aku tenggelam dalam pilu Allah Jangan biarkan aku menyesapi kesedihan yang berlebihan Ajari aku merasa cukup dengan cinta-Mu saja Agar aku percaya bahwa tiada kehilangan melainkan akan Engkau ganti dengan yang lebih bermakna Allah, aku pasrah