Skip to main content

Pentingnya Uang Muka (Pelajaran Dari Penjual Nasi Pecel)

Saya tergelitik untuk menceritakan kejadian yang baru saja saya alami

Sejak kemarin saya asli ngidam pizza
Apalagi kalau bukan karena kakak saya yang dengan baiknya pamer kalau dia baru saja makan pizza
Setelah melalui negosiasi panjang,
Saya dan Indra memutuskan untuk makan Pizza setelah shalat tarawih

Indra menjemput saya di kos
Saya terpikir untuk sekalian membeli makan sahur
Mumpung sedang berada di luar, pikir saya

Karena teman-teman kos saya banyak yang mudik,
Alhasil hanya Mbak Irma dan saya yang berpuasa
Kami memutuskan untuk membeli nasi pecel
Oke, saya mulai menyusun rencana

Saya akan memesan di warung nasi pecel
Kemudian pergi ke Pizza Hut Kertajaya
Setelah itu, kembali ke warung pecel untuk mengambil pesanan
Daaaan, kembali ke kos
Hmmm, saya sudah membayangkan akan sahur dengan tempe bacem dan dadar jagung favorit saya


Tempe bacem, salah satu makanan favorit saya :)
 
Sesampainya di warung pecel Madiun dekat kos itu, pertanyaan pertama saya kepada Ibu penjualnya adalah:
"Ibu, nanti buka sampai jam berapa?"
"Jam setengah 12 mbak," jawab Ibu itu dengan mantap
Oke, saya pikir makan pizza nanti hanya akan menghabiskan waktu 1-1,5 jam
Berarti saya masih bisa mengambil pesanan saya setelah selesai makan pizza

Saya langsung memesan 2 porsi nasi pecel dan lauk sesuai titipan mbak Irma
Saya juga sudah berpesan kepada Ibu penjual nasi pecel itu bahwa saya akan mengambil pesanan tersebut sekitar 1-1,5 jam lagi karena saya harus pergi terlebih dulu
Beres, begitu pikir saya

Saya dan Indra langsung menuju Pizza Hut Kertajaya
Setelah puas menghabiskan pizza yang membuat perut saya bertambah buncit, kami pulang
Indra mengingatkan saya untuk mengambil pesanan nasi pecel tadi

Oke.
Ekspektasi saya adalah: saya langsung mendapat kresek berisi 2 bungkus nasi pecel, lalu saya membayar, dan cerita berakhir

"Tak pikir mbaknya nggak jadi, lupa ngambil pesenan," ujar Ibu itu ketika melihat saya memasuki warungnya
"Kan tadi saya udah bilang mau ngambil setelah urusan saya selesai," jawab saya santai
Saya melihat seluruh lauk sudah ludes, habis terjual
Yang tersisa hanya sayur pecel dan nasi

Saya masih belum menyadari maksud kalimat Ibu itu
Saya masih diam dan menunggu karena melihat dia sedang sibuk memberikan uang kembalian kepada pembeli lain
Oh, pasti dia mau menyelesaikan urusannya dengan pembeli lain dulu
Baru kemudian memberikan pesanan saya tadi,
Pikir saya dengan sangat naif

Saya masih berdiri dan menunggu
Beberapa lama kemudian, Ibu itu melihat ke arah saya sambil bertanya,
"Mbaknya mau lauk apa? Ini tinggal sayur aja.."

Yah, mampus!
Asli langsung bad feeling!

"Loh, pesenan saya tadi mana?" tanya saya dengan suara yang mulai meninggi
"Yaa udah dibeli orang. Saya pikir mbaknya nggak jadi. Lupa ngambil atau gimana. Mbaknya mau apa?" jawab Ibu itu dengan wajah tanpa rasa berdosa

"Saya tadi kan udah bilang, saya tinggal dulu. Nanti saya ambil," ujar saya ketus
Siapa suruh situ nggak merasa berdosa, batin saya kesal
"Ya tak pikir mbaknya lupa. Mbaknya mau sayur apa?" tanya Ibu itu lagi, masih dengan wajah tanpa rasa berdosa

Yak, sungguh pertanyaan yang semakin membuat saya ingin mencakar wajah Ibu dengan dandanan menor itu
Elo pikir gue kambing, yang cuma makan sayur doank?
Lagian, pede amat nawarin mau sayur apa
Emang sayur yang situ jual masih segentong, jadi banyak pilihan gitu?
Lha wong tinggal sisa gitu, kok yaa ditawarin

"Nggak usah, makasih," jawab saya dengan wajah yang saya yakin sangat jutek saking kesalnya
Saya langsung membalikkan badan dan meninggalkan warung pinggir jalan itu
Saya langsung kembali ke Indra dan menumpahkan seluruh kekesalan saya

Saya langsung kehilangan selera makan kalau mengingat wajah tanpa dosa ddari Ibu tadi
Setelah berusaha meredam emosi, akhirnya saya menuruti saran Indra untuk membeli cap cay dan nasi putih di ujung gang I sebagai menu sahur saya dan Mbak Irma

Karena harus mengantri cukup lama, kami duduk di kursi yang sudah disediakan di sana
Sambil menunggu, kami mengobrol

Kami kembali membahas kejadian menyebalkan itu
"Ya menurut Ay sih Ibu itu nggak salah juga. Namanya juga penjual, mana ada yang mau ambil risiko untuk rugi. Tiap orang kan beda-beda. Gimana kalo ada orang yang juga pesen kayak gitu, terus udah disisain, eeh ternyata orangnya lupa ngambil. Apalagi Ibu itu nggak kenal sama kita. Mana dia tahu kita bisa dipercaya atau nggak"

Kurang lebih itu yang  dikatakan Indra kepada saya
*hanya inti dari obrolan panjang kami saja yang saya tuliskan*

Saya baru sadar
Indra benar !

Saya dan Ibu penjual nasi pecel itu menggunakan sudut pandang yang berbeda
Dia sebagai penjual - seperti kata Indra - tentu tidak mau mengambil risiko untuk rugi
Sementara saya sebagai pembeli, tentu merasa kesal karena pesanan saya diberikan kepada orang lain begitu saja
Dan tentu saja, saya merasa mampu membayar pesanan itu sama seperti orang lain
Memang, kalau kedua belah pihak tetap ngotot mempertahankan sudut pandang masing-masing yaa sampai kiamat juga tidak akan menemukan solusinya

"Tadi Ay juga lupa ngingetin. Harusnya tadi bayar DP dulu, supaya Ibunya yakin kalo kita emang mau beli," ujar Indra dengan santai
#Eh !

Saya baru ngeh
Iya yaa, kenapa saya tidak terpikir untuk langsung membayar setelah memesan?
Kalau sudah membayar kan tidak ada alasan bagi Ibu itu untuk takut rugi
Toh kalaupun saya lupa mengambil pesanan saya, dia sudah mendapat uang duluan
Mau dijual lagi boleh, mau dimakan sendiri juga bisa

Hmm. Saya semakin sadar kalau menjadi seorang penjual itu tidak mudah
Pada dasarnya, saya adalah orang yang tidak berbakat dan tidak tertarik di bidang penjualan
Sales, marketing dan sebagainya, adalah bidang pekerjaan yang sudah jelas tidak akan saya pilih seumur hidup
Benar-benar "nggak gue banget"
Jadi tidak heran kalau saya tidak menaruh kepekaan sedikitpun pada masalah penjualan semacam itu

Tapi malam ini saya belajar
Menjadi penjual itu memang tidak mudah
Tapi menjadi pembeli yang cerdas juga tidak kalah susah
:-D

Selalu ada sudut pandang lain yang bisa kita gunakan dalam melihat sebuah permasalahan
Kalau seandainya tadi saya masih kekeuh menggunakan sudut pandang saya sebagai pembeli, sudah bisa dipastikan malam ini saya akan bad mood sampai besok pagi
Dan bahkan mungkin menyimpan dendam kesumat kepada Ibu penjual nasi pecel tadi

Tapi ketika saya sudah ikhlas dan belajar melihat dari sudut panjang si penjual,
Semua emosi yang tadi meluap-luap langsung hilang
:)

Jadi intinya, kalau mau pesan barang atau makanan apapun, lebih baik bayar di muka dulu
Supaya semuanya jelas
Si penjual tidak merasa was-was
Kita juga merasa aman karena barang pesanan kita pasti akan kita dapatkan

Marhaban Ya Ramadhan
Semoga pelajaran di malam awal Bulan Suci ini bisa membuat saya menjadi lebih sabar dan bijaksana
Amin :-P

Mumpung sedang menulis di blog yang waktunya bertepatan dengan awal Ramadhan,
saya sekalian mengucapkan yaa...

Selamat Menjalankan Ibadah Puasa teman-teman
Mohon maaf lahir dan batin
Maaf jika sarkasme saya seringkali menyakitkan
Maaf jika fluktuasi suasana hati saya seringkali membuat merasa tidak nyaman
Semoga Ramadhan kali ini bisa membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik
Amin :)

Terimakasih karena Engkau masih memberikanku kesempatan sekali lagi untuk bertemu dengan Bulan Ramadhan, Ya Rabb :)

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi 2019: Mengurangi Benci

Saya memang tergolong orang yang selalu memiliki rencana atau target. Kalau ibarat sebuah permainan, setelah melewati level 1 maka saya akan berlanjut ke level 2, begitu seterusnya hingga permainan tersebut berakhir. Bicara tentang pergantian tahun, orang seringkali mengaitkan itu dengan resolusi. Sebagian besar orang akan memposting di sosial media apa saja resolusinya di tahun baru, yang kemudian akan di-amin-i oleh rekan yang membaca postingan tersebut. Saya? Percaya atau tidak, saya justru jarang memposting tentang resolusi. Hal itu bukan karena saya tidak memiliki resolusi. Bisa dibilang, ada dua alasan. Pertama, resolusi bagi saya adalah suatu hal yang pribadi. Sebut saja, sebuah janji kepada diri saya sendiri yang tidak perlu mendapat legitimasi. Kedua, resolusi saya seringkali berubah sewaktu-waktu (maha benar libra dengan segala kelabilannya wkwkwkwkwk). Tahun 2018 kemarin sejujurnya bukan tahun yang mudah bagi saya. Mungkin jika harus membuat perbandingan, porsi sed...

(NOT) AN INSTANT JUDGMENT

Saya sudah menggeluti bidang sumber daya manusia selama sekitar 7 tahun. Sebuah rentang waktu yang cukup lama untuk bertemu dengan orang dari berbagai latar belakang dan karakter. Seluruh perusahaan tempat saya bekerja menaruh tugas rekrutmen sebagai salah satu indikator pencapaian. Tidak heran, saya cukup familiar dengan metode interview dan juga beberapa alat tes, terutama tes kepribadian. Saya pribadi termasuk golongan orang yang percaya akan pengaruh faktor kepribadian dalam keberhasilan seseorang. Oleh karena itu, biasanya saat pelaksanaan psikotes akan lebih banyak digunakan tes kepribadian dibandingkan kecerdasan. Meskipun saya seorang sarjana psikologi, saya tidak sembarangan memberikan analisa atau interpretasi dari alat tes. Terutama jika alat tesnya adalah alat tes proyeksi, seperti misalnya tes grafis menggambar pohon, manusia. Ketika menempuh pendidikan strata 1 selama 3.5 tahun memang saya pernah mempelajari alat tes tersebut. Tapi sesuai dengan kode etik psikologi,...

Dieu

Allah Beri aku kekuatan untuk percaya Bahwa rencana-Mu pasti luar biasa Allah Aku tahu bahwa Engkau menggenggam hatiku Jangan biarkan hatiku jatuh pada yang tidak mencintai-Mu Allah Aku percaya bahwa Engkau mampu membolak-balikkan hatiku Maka jangan biarkan aku tenggelam dalam pilu Allah Jangan biarkan aku menyesapi kesedihan yang berlebihan Ajari aku merasa cukup dengan cinta-Mu saja Agar aku percaya bahwa tiada kehilangan melainkan akan Engkau ganti dengan yang lebih bermakna Allah, aku pasrah