Skip to main content

Surat Untuk Allah

Aku sudah berusaha

Iya, aku memang kecewa
Aku benci ketika gagal
Tidak. Tolong jangan berpikir aku hanya "sekedar" membenci kegagalan
Bukan itu yang membuatku tidak mampu mentoleransi kegagalan

Aku bisa menerima kegagalan
Kalau aku tahu bahwa aku sudah melakukan yang terbaik

Dan dalam kondisi ini,
I have to admit that I didn`t give my best
=(

Ada orang yang selalu mengingatkanku
"Hasil akhir itu bukan tanggung jawab kita. Tugas kita hanya melakukan yang TERBAIK"

Nah, itu!
Itu dia masalahnya!
Aku sadar bahwa kegagalan itu pantas aku terima karena kecerobohanku sendiri
Aku yang tidak yakin akan kemampuanku sendiri
Aku yang tidak mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik
Ah, sudah
Aku tidak ingin membuat perasaanku semakin kacau

Malam ini menjadi waktu yang sempurna bagiku
Ya, sempurna untuk merenung
Malam ini, malam terakhir aku berusia 21 tahun
Seharusnya aku bisa lebih dewasa
Seharusnya aku bisa lebih bijaksana

Allah Tuhanku Yang Maha Mengetahui segala isi hati
Izinkan aku sekali lagi memohon kemudahan darimu
Maafkan aku yang kemarin khilaf
Aku tidak sepenuhnya percaya bahwa Engkau sudah memilihkan yang terbaik untukku

Allah
Tolong kuatkan langkahku
Ajari aku untuk ikhlas menerima semua takdirmu
Engkau lebih tahu mana yang terbaik untukku

Dalam sujudku, aku pasrah
:)

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi 2019: Mengurangi Benci

Saya memang tergolong orang yang selalu memiliki rencana atau target. Kalau ibarat sebuah permainan, setelah melewati level 1 maka saya akan berlanjut ke level 2, begitu seterusnya hingga permainan tersebut berakhir. Bicara tentang pergantian tahun, orang seringkali mengaitkan itu dengan resolusi. Sebagian besar orang akan memposting di sosial media apa saja resolusinya di tahun baru, yang kemudian akan di-amin-i oleh rekan yang membaca postingan tersebut. Saya? Percaya atau tidak, saya justru jarang memposting tentang resolusi. Hal itu bukan karena saya tidak memiliki resolusi. Bisa dibilang, ada dua alasan. Pertama, resolusi bagi saya adalah suatu hal yang pribadi. Sebut saja, sebuah janji kepada diri saya sendiri yang tidak perlu mendapat legitimasi. Kedua, resolusi saya seringkali berubah sewaktu-waktu (maha benar libra dengan segala kelabilannya wkwkwkwkwk). Tahun 2018 kemarin sejujurnya bukan tahun yang mudah bagi saya. Mungkin jika harus membuat perbandingan, porsi sed...

(NOT) AN INSTANT JUDGMENT

Saya sudah menggeluti bidang sumber daya manusia selama sekitar 7 tahun. Sebuah rentang waktu yang cukup lama untuk bertemu dengan orang dari berbagai latar belakang dan karakter. Seluruh perusahaan tempat saya bekerja menaruh tugas rekrutmen sebagai salah satu indikator pencapaian. Tidak heran, saya cukup familiar dengan metode interview dan juga beberapa alat tes, terutama tes kepribadian. Saya pribadi termasuk golongan orang yang percaya akan pengaruh faktor kepribadian dalam keberhasilan seseorang. Oleh karena itu, biasanya saat pelaksanaan psikotes akan lebih banyak digunakan tes kepribadian dibandingkan kecerdasan. Meskipun saya seorang sarjana psikologi, saya tidak sembarangan memberikan analisa atau interpretasi dari alat tes. Terutama jika alat tesnya adalah alat tes proyeksi, seperti misalnya tes grafis menggambar pohon, manusia. Ketika menempuh pendidikan strata 1 selama 3.5 tahun memang saya pernah mempelajari alat tes tersebut. Tapi sesuai dengan kode etik psikologi,...

Dieu

Allah Beri aku kekuatan untuk percaya Bahwa rencana-Mu pasti luar biasa Allah Aku tahu bahwa Engkau menggenggam hatiku Jangan biarkan hatiku jatuh pada yang tidak mencintai-Mu Allah Aku percaya bahwa Engkau mampu membolak-balikkan hatiku Maka jangan biarkan aku tenggelam dalam pilu Allah Jangan biarkan aku menyesapi kesedihan yang berlebihan Ajari aku merasa cukup dengan cinta-Mu saja Agar aku percaya bahwa tiada kehilangan melainkan akan Engkau ganti dengan yang lebih bermakna Allah, aku pasrah