Aku bahagia, kembali dipertemukan dengan Ramadhan
Aku bersyukur, masih diberi umur
Tapi
Lagi-lagi ada satu hal yang mengganjal dalam hati
Mungkin, lebaran nanti aku akan sendiri (lagi)
Tahun kemarin, pertama kalinya aku berlebaran di keluarga Kediri tanpa Kakak
Iya
Dia yang sudah berkeluarga, harus berlebaran di rumah mertua
Lebaran pertamanya dengan keluarga baru
Kakak memang sempat menawari saya untuk ikut berlebaran di sana
Tapi saya menolak
Siapa yang akan berziarah ke makam Bunda dan membaca Yasin di sana kalau bukan saya
Lagipula, biarlah dia merasakan lebaran dengan keluarga barunya tanpa saya
Tahun ini, sepertinya akan sama seperti tahun lalu
Kami sempat mengobrol lewat BBM beberapa hari lalu
Saya menanyakan rencana mudiknya
Memang beberapa bulan lalu sempat ada wacana bahwa tahun ini ia dan suaminya akan ikut mudik ke Kediri
Mengingat lebaran yang tinggal sebentar lagi dan tiket mudik pasti sudah ludes, saya berusaha mencari kepastian darinya
"Kamu jadi lebaran di mana?"
"Belum tau"
"Lah, kok belum tau? Ini kan udah mepet lebaran, neng. Tiket pasti udah pada abis. Kalian kan harusnya udah ngerencanain dari jauh-jauh hari"
"Fun, sekarang kondisinya udah beda. Aku udah nikah. Dan kamu tau sendiri kan, jadwal kerjanya Kak Nan itu ajaib, nggak kayak orang normal. Malam lebaran tahun lalu aja dia masih kerja. Aku nggak bisa mutusin sekarang karena belum tau Kak Nan liburnya kapan. Aku harus ngikutin jadwalnya dia, karena nggak mungkin aku lebaran di tempat yang beda dari suamiku"
Iya
Dia benar
Sekarang situasinya sudah berbeda
Dia sudah punya prioritas yang berbeda
Bukan lagi saya
Dan saya memang sudah seharusnya menyiapkan hati untuk berlebaran tanpa dia
Dan saya memang sudah seharusnya menyiapkan hati untuk berlebaran tanpa dia
'Saya lalu membuka kembali sebuah catatan yang saya tulis di handphone
Catatan yang saya tulis sehari menjelang pernikahan kakak saya
Bunda...
Besok putri pertamamu mennikah
Iya, Bunda
Dia sudah memilih lelaki yang akan menjadi imam dalam sisa hidupnya
Kamu di surga berbahagia kan, Bunda?
Bunda...
Aku kangen.
Kangen sekangen-kangennya.
Aku membayangkan bagaiman bahagianya dirimu jika menyaksikan ini
Aku membayangkan nasihat perkawinan apa yang akan kamu sampaikan untuk putri pertamamu
Bunda...
Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan perasaanku saat ini
Aku bahagia
Iya, aku bahagia
Aku tidak perlu khawatir lagi dengan kakak
Mulai besok akan ada lelaki yang selalu siap menjaganya
Aku tidak perlu merasa bersalah karena terlalu sibuk dengan urusanku sehingga tidak memiliki waktu untuknya
Aku bahagia karena dia akan memiliki keluarga baru yang begitu menyayanginya
Tapi Bunda...
Keegoisanku membuat air mata ini tidak sanggup kubendung
Ada rasa sesak ketika membayangkan bahwa lebaran besok, aku akan sendirian
Tidak ada lagi kakak yang biasanya kuajak berbagi kerinduan tentangmu
Aku sendiri, Bunda...
Maka begitulah aku di lebaran tahun lalu
Diam menyimpan semua rasa rindu
Menghabiskan waktu untuk menyendiri dan berdoa untuk masa depan yang masih abu-abu
Rencana Tuhan itu lucu
Kadang ada banyak hal yang bisa berubah begitu saja tanpa banyak babibu
Jadi, tahun lalu aku berdoa agar di tahun berikutnya aku bisa berlebaran di kota baru tempatku menuntut ilmu, atau di kota baru tempatku berkumpul dengan keluarga baru
Mungkin, tahun ini doaku masih sama seperti itu
:`)
Comments
Post a Comment