Skip to main content

Ramadhan Dulu Dan Sekarang

Masih teringat jelas percakapan di Ramadhan tahun lalu...

"Kamu kenapa nggak tarawih di masjid bareng sama mbak, Mama, Papa?"
"Ngantuk. Imamnya lama"
Saya menarik nafas, menahan jengkel dan kecewa di ubun-ubun.
"Terus kalo nanti kita udah nikah, kamu bakal ngebiarin aku tarawih sendirian ke Masjid? Terus siapa yang jadi imam buat aku sama anak-anakku?"

Percakapan ditutup dengan kalimat "terserah kamu deh. Aku capek ngasih tau kamu" dan muka jutek.

Percakapan selama beberapa hari awal Ramadhan tahun ini...

"Kemarin tarawih?"
"Iya, tarawih. Tapi sama Papa Mama di rumah. Soalnya pas mau ke Masjid, masih bingung cari sarung. Jadinya telat deh. Ya udah, akhirnya jamaah bertiga"

"Sayang, nanti kita nonton The Fault In Our Star ya jam 8.15. Ayah jemput di kantor jam 5, habis itu kita buka puasa. Masih sempat tarawih kan? Nanti kita langsung ke masjid deket kos ya"

Semoga, aku tidak salah menilai perubahanmu. Semoga aku tidak salah memilih "partner belajar" yang tidak lelah untuk berubah menjadi lebih baik. Iya, semua butuh proses seperti katamu dulu. Dan saya berdoa supaya kita tidak bosan untuk saling mengingatkan.

Karena pada saatnya nanti, ketika kamu mengucap ijab qabul, maka seluruh tanggung jawab tentangku beralih kepadamu. Maka semesta menjadi saksi bahwa kamu akan menanggung dosaku dan dosa anak-anak kita kelak. Bagaimana mungkin kamu menanggung dosa orang lain, sementara ibadahmu sendiri belum istiqomah?

Terimakasih kamu, yang tidak pernah lelah berjalan bersama
=)


Comments

Popular posts from this blog

Resolusi 2019: Mengurangi Benci

Saya memang tergolong orang yang selalu memiliki rencana atau target. Kalau ibarat sebuah permainan, setelah melewati level 1 maka saya akan berlanjut ke level 2, begitu seterusnya hingga permainan tersebut berakhir. Bicara tentang pergantian tahun, orang seringkali mengaitkan itu dengan resolusi. Sebagian besar orang akan memposting di sosial media apa saja resolusinya di tahun baru, yang kemudian akan di-amin-i oleh rekan yang membaca postingan tersebut. Saya? Percaya atau tidak, saya justru jarang memposting tentang resolusi. Hal itu bukan karena saya tidak memiliki resolusi. Bisa dibilang, ada dua alasan. Pertama, resolusi bagi saya adalah suatu hal yang pribadi. Sebut saja, sebuah janji kepada diri saya sendiri yang tidak perlu mendapat legitimasi. Kedua, resolusi saya seringkali berubah sewaktu-waktu (maha benar libra dengan segala kelabilannya wkwkwkwkwk). Tahun 2018 kemarin sejujurnya bukan tahun yang mudah bagi saya. Mungkin jika harus membuat perbandingan, porsi sed...

(NOT) AN INSTANT JUDGMENT

Saya sudah menggeluti bidang sumber daya manusia selama sekitar 7 tahun. Sebuah rentang waktu yang cukup lama untuk bertemu dengan orang dari berbagai latar belakang dan karakter. Seluruh perusahaan tempat saya bekerja menaruh tugas rekrutmen sebagai salah satu indikator pencapaian. Tidak heran, saya cukup familiar dengan metode interview dan juga beberapa alat tes, terutama tes kepribadian. Saya pribadi termasuk golongan orang yang percaya akan pengaruh faktor kepribadian dalam keberhasilan seseorang. Oleh karena itu, biasanya saat pelaksanaan psikotes akan lebih banyak digunakan tes kepribadian dibandingkan kecerdasan. Meskipun saya seorang sarjana psikologi, saya tidak sembarangan memberikan analisa atau interpretasi dari alat tes. Terutama jika alat tesnya adalah alat tes proyeksi, seperti misalnya tes grafis menggambar pohon, manusia. Ketika menempuh pendidikan strata 1 selama 3.5 tahun memang saya pernah mempelajari alat tes tersebut. Tapi sesuai dengan kode etik psikologi,...

Dieu

Allah Beri aku kekuatan untuk percaya Bahwa rencana-Mu pasti luar biasa Allah Aku tahu bahwa Engkau menggenggam hatiku Jangan biarkan hatiku jatuh pada yang tidak mencintai-Mu Allah Aku percaya bahwa Engkau mampu membolak-balikkan hatiku Maka jangan biarkan aku tenggelam dalam pilu Allah Jangan biarkan aku menyesapi kesedihan yang berlebihan Ajari aku merasa cukup dengan cinta-Mu saja Agar aku percaya bahwa tiada kehilangan melainkan akan Engkau ganti dengan yang lebih bermakna Allah, aku pasrah