Masih teringat jelas percakapan di Ramadhan tahun lalu...
"Kamu kenapa nggak tarawih di masjid bareng sama mbak, Mama, Papa?"
"Ngantuk. Imamnya lama"
Saya menarik nafas, menahan jengkel dan kecewa di ubun-ubun.
"Terus kalo nanti kita udah nikah, kamu bakal ngebiarin aku tarawih sendirian ke Masjid? Terus siapa yang jadi imam buat aku sama anak-anakku?"
Percakapan ditutup dengan kalimat "terserah kamu deh. Aku capek ngasih tau kamu" dan muka jutek.
Percakapan selama beberapa hari awal Ramadhan tahun ini...
"Kemarin tarawih?"
"Iya, tarawih. Tapi sama Papa Mama di rumah. Soalnya pas mau ke Masjid, masih bingung cari sarung. Jadinya telat deh. Ya udah, akhirnya jamaah bertiga"
"Sayang, nanti kita nonton The Fault In Our Star ya jam 8.15. Ayah jemput di kantor jam 5, habis itu kita buka puasa. Masih sempat tarawih kan? Nanti kita langsung ke masjid deket kos ya"
Semoga, aku tidak salah menilai perubahanmu. Semoga aku tidak salah memilih "partner belajar" yang tidak lelah untuk berubah menjadi lebih baik. Iya, semua butuh proses seperti katamu dulu. Dan saya berdoa supaya kita tidak bosan untuk saling mengingatkan.
Karena pada saatnya nanti, ketika kamu mengucap ijab qabul, maka seluruh tanggung jawab tentangku beralih kepadamu. Maka semesta menjadi saksi bahwa kamu akan menanggung dosaku dan dosa anak-anak kita kelak. Bagaimana mungkin kamu menanggung dosa orang lain, sementara ibadahmu sendiri belum istiqomah?
Terimakasih kamu, yang tidak pernah lelah berjalan bersama
=)

Comments
Post a Comment