Skip to main content

Trauma

Pernah dengar kata trauma?
Pernah merasakan bagaimana mengerikannya?
 Saya tahu, dan sedang mengalaminya

Sejak kejadian kecelekaan sekitar seminggu lalu
Hari-hari mengendarai motor bagaikan mimpi buruk yang membuat hidup saya berwarna kelabu
Jantung berdegup kencang tiap melewati jalan itu
Tangan gemetar tiap kali ada kendaraan lain berjarak cukup dekat dan ingin menyalip
Mulut tidak berhenti mengucap istighfar, sedikit usaha menenangkan
Iya, seluar biasa itu

Sempat terpikir untuk tidak mau mengendarai motor dalam waktu dekat
Masih ada taksi atau angkot
Tapi niat itu keburu saya tutup rapat

Kenapa?
Karena saya tidak mau kalah dari ketakutan tanpa jeda
Karena saya tidak mau menghabiskan waktu untuk tenggelam dalam luka

Sehari setelah kecelakaan, saya memberanikan diri untuk ke kantor dengan mengendarai motor
Meskipun tangan gemetar
Meskipun air mata sesekali menetes, tapi saya tidak gentar

The limitation that we have is the only limitation of our mind
Kadang, musuh terbesar adalah diri sendiri
Ketakutan-ketakutan kita sendiri

Baiklah, saya kemarin salah hingga melukai diri sendiri
Tapi sekarang saya akan belajar untuk lebih hati-hati

Kau tahu apa yang saya rasakan tiap kali berhasil sampai di kantor dengan selamat?
Letupan kebahagiaan dan lega yang tidak terkira
Rasa syukur yang berlipat ganda

"Tuhan, aku berhasil melawan ketakutanku"
=)

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi 2019: Mengurangi Benci

Saya memang tergolong orang yang selalu memiliki rencana atau target. Kalau ibarat sebuah permainan, setelah melewati level 1 maka saya akan berlanjut ke level 2, begitu seterusnya hingga permainan tersebut berakhir. Bicara tentang pergantian tahun, orang seringkali mengaitkan itu dengan resolusi. Sebagian besar orang akan memposting di sosial media apa saja resolusinya di tahun baru, yang kemudian akan di-amin-i oleh rekan yang membaca postingan tersebut. Saya? Percaya atau tidak, saya justru jarang memposting tentang resolusi. Hal itu bukan karena saya tidak memiliki resolusi. Bisa dibilang, ada dua alasan. Pertama, resolusi bagi saya adalah suatu hal yang pribadi. Sebut saja, sebuah janji kepada diri saya sendiri yang tidak perlu mendapat legitimasi. Kedua, resolusi saya seringkali berubah sewaktu-waktu (maha benar libra dengan segala kelabilannya wkwkwkwkwk). Tahun 2018 kemarin sejujurnya bukan tahun yang mudah bagi saya. Mungkin jika harus membuat perbandingan, porsi sed...

(NOT) AN INSTANT JUDGMENT

Saya sudah menggeluti bidang sumber daya manusia selama sekitar 7 tahun. Sebuah rentang waktu yang cukup lama untuk bertemu dengan orang dari berbagai latar belakang dan karakter. Seluruh perusahaan tempat saya bekerja menaruh tugas rekrutmen sebagai salah satu indikator pencapaian. Tidak heran, saya cukup familiar dengan metode interview dan juga beberapa alat tes, terutama tes kepribadian. Saya pribadi termasuk golongan orang yang percaya akan pengaruh faktor kepribadian dalam keberhasilan seseorang. Oleh karena itu, biasanya saat pelaksanaan psikotes akan lebih banyak digunakan tes kepribadian dibandingkan kecerdasan. Meskipun saya seorang sarjana psikologi, saya tidak sembarangan memberikan analisa atau interpretasi dari alat tes. Terutama jika alat tesnya adalah alat tes proyeksi, seperti misalnya tes grafis menggambar pohon, manusia. Ketika menempuh pendidikan strata 1 selama 3.5 tahun memang saya pernah mempelajari alat tes tersebut. Tapi sesuai dengan kode etik psikologi,...

Dieu

Allah Beri aku kekuatan untuk percaya Bahwa rencana-Mu pasti luar biasa Allah Aku tahu bahwa Engkau menggenggam hatiku Jangan biarkan hatiku jatuh pada yang tidak mencintai-Mu Allah Aku percaya bahwa Engkau mampu membolak-balikkan hatiku Maka jangan biarkan aku tenggelam dalam pilu Allah Jangan biarkan aku menyesapi kesedihan yang berlebihan Ajari aku merasa cukup dengan cinta-Mu saja Agar aku percaya bahwa tiada kehilangan melainkan akan Engkau ganti dengan yang lebih bermakna Allah, aku pasrah