Putus cinta disaat sedang cinta-cintanya itu sakitnya luar biasa !
Sekitar 5 atau 6 tahun yang lalu, saya pernah berpacaran dengan salah seorang teman
Teman yang entah kenapa tiba-tiba bisa menjadi dekat tanpa ada rencana
Saya dan dia tidak sekota
LDR istilah kerennya
Saya di Surabaya, dia di Jakarta
Sama-sama kuliah di universitas ternama
Sama-sama sibuk dengan urusan kuliah dan aktivitas sosial yang berjubel banyaknya
Saya tidak tahu kegilaan macam apa yang membuat saya pada akhirnya memilih bertahan
Saya juga tidak tahu kebodohan macam apa yang membuat saya mulai yakin padanya dan dengan otomatis menciptakan berbagai angan-angan
Dia sibuk dengan dunianya
Saya sibuk menahan rasa kecewa karena terabaikan begitu saja
Dia sibuk dengan teman-temannya
Saya sibuk menahan rindu dan berharap dia menelepon meskipun hanya semenit saja
Di tengah kegalauan karena merasa tidak dianggap dan tidak berharga
Saya dengan gilanya justru memutuskan untuk bertahan dengan dia
Saya menata hati dan pikiran untuk tetap percaya
Meskipun berat dan harus membayar dengan berliter-liter air mata
Seingat saya, kami jarang bertengkar
Tapi disaat saya sedang berjuang mempertahankan, dia memilih pergi dan meninggalkan
Putus cinta disaat sedang cinta-cintanya itu sakitnya luar biasa
Dan seingat saya sepanjang sejarah percintaan, dia adalah lelaki yang membuat saya membutuhkan waktu untuk move on paling lama
Ternyata kondisi itu tidak hanya berlaku dalam dunia cinta
Tapi juga dalam dunia kerja
Saya dulu memang pernah berkata bahwa saya tidak akan lama bekerja di Mandala
Memang saya sudah berencana untuk melanjutkan studi dan meninggalkan kerja
Tapi saya tidak menyangka
Tuhan mengijabah doa saya dengan cara yang tidak terduga
Tidak ada peringatan atau teguran
Tidak ada sanksi atau pembinaan
Saya dikeluarkan
Secara teori, saya (diminta) mengundurkan diri
Secara riil, saya menerima semua kompensasi pemecatan tanpa kesalahan
Saya baru tahu betapa kejamnya politik dunia kerja
Saya baru sadar bahwa menyingkirkan orang lain untuk mencapai tujuan pribadi adalah hal yang biasa
Saya menangis sejadi-jadinya dan mencecar atasan saya, bahkan Direktur HRD
Saya berhak tahu alasan mengapa saya diperlakukan seperti ini
Semua data dan argumen yang saya siapkan menjadi percuma
Karena saya bahkan tidak diberi banyak ruang gerak untuk bicara
Saya tetap bersikeras menuntut penjelasan yang masuk akal
Tapi jawaban-jawaban yang saya terima justru semakin menjatuhkan mental
Itu perintah tidak terbantahkan dari Direktur Utama, kami hanya menjalankan eksekusi
Semua melempar bola
Tidak ada yang dengan berani dan tegas menjelaskan poin-poin kesalahan saya
"Menurut beliau, kamu terlalu junior"
Jadi, salah saya jika berusia dua puluh lima?"
Sejujurnya, saya sudah tahu siapa yang diam-diam menghembuskan angin komplain tentang saya
Saya tahu, tapi saya ingin mendengar langsung
Dan nyatanya hingga kemarin saya berusaha mengkonfrontasi si pelaku, dia tetap tidak bergeming dan mengelak bahwa ini adalah ulahnya
Yeah, sometimes shit happens
Sejujurnya, saya belum ikhlas
Bukan karena saya tidak percaya bahwa Tuhan telah menyiapkan rejeki yang lebih baik di tempat lain
Tapi karena ada terlalu banyak hal yang belum saya selesaikan
Dan saya hanya memiliki waktu dua minggu sampai akhir Desember
2 bulan terakhir saya sedang bekerja keras dengan staff recruiter saya yang baru
Kami berjuang mengatur kembali pola kerja dan menyelaraskan visi dengan cabang
Kami berbagi tugas dan saling melengkapi
Dan saya mulai merasakan perubahannya
Pimpinan cabang yang dulunya melihat sinis ke arah saya, saat ini sudah bisa berdiskusi panjang lebar dengan saya di telepon hingga 1 jam
Pimpinan cabang yang dulunya sering menyindir saya di meeting, saat ini sudah bisa tertawa akrab dan mau mengajak saya ikut mengobrol di warung kopi
Iya, saya mulai jatuh cinta dan yakin pada pekerjaan ini
Tapi ternyata, pukulan telak itu harus saya terima
Saya kehilangan pekerjaan disaat sedang cinta-cintanya
Saya kehilangan pekerjaan, disaat sedang membangun sistem yang dulu belum pernah ada
Banyak yang bilang saya bodoh karena masih tetap bekerja keras di minggu-minggu terakhir ini
Ada yang bilang saya tidak punya harga diri
Ada yang bilang, saya bekerja terlalu pakai hati
Beberapa hari lalu saya bertemu dengan salah seorang rekan di kantor lama
Kami mengobrol banyak hal
"Kalo aku jadi kamu, begitu uang ditransfer aku langsung kabur. Buat apa kamu mikirin kerjaanmu sampai segitunya? Emangnya mereka mikirin kamu? Kalau mereka mikirin kamu, harusnya mereka nggak ngambil keputusan itu. Lihat secara global. Ini hanyalah sebuah sistem. Orang keluar-masuk di sistem adalah hal yang biasa. Nggak ada kamu, Mandala nggak bakal runtuh kok. Orang kerja itu ya cuma ada dua. Kalo nggak pinter kerja, ya pinter politik. Kamu tahu BJ Habibie? Siapa yang tidak kenal dia? Siapa yang tidak mengakui kalau dia pintar, bahkan jenius? Tapi, berapa lama dia jadi Presiden? Hanya sebentar, fan. Itulah dashyatnya politik. Dan sialnya, lawanmu kali ini adalah orang yang kemampuan politiknya tinggi"
Tuhan
Aku percaya, skenario-Mu selalu sempurna
Tidak ada satu hal pun yang terjadi dalam hidupku tanpa campur tangan-Mu
Apa yang baik menurutku, belum tentu baik menurut-Mu
Apa yang buruk menurutku, belum tentu buruk menurut-Mu
Aku pasrahkan semuanya kepada-Mu
Comments
Post a Comment