27 tahun, memasuki usia dan linimasa dimana banyak berseliweran kalimat,
"JANGAN LUPA UNDANGANNYA YA"
YHA.
Dulu. Dulu sekali, saat masih menempuh kuliah di Psikologi.
Ada beberapa teman saya yang sudah menikah di usia dini
Saat itu, sempat terlintas di pikiran saya,
"Eh kok aku nggak diundang ya?"
Lucu sih kalau mengingat pemikiran semacam itu
Saya merasa cukup dekat, setidaknya sering mengerjakan tugas bersama, duduk berdekatan saat kuliah dengan teman saya itu
Namun saat dia menikah, saya bahkan baru mengetahui kabar pernikahannya melalui facebook
Seiring berjalannya waktu, saya semakin menyadari bahwa menyiapkan pernikahan bukanlah hal yang mudah
Akan ada banyak kekurangan, seolah ketidaksempurnaan selalu memiliki celah
Saya mulai sering mendengar berbagai keriweuhan menyiapkan pernikahan dari teman dekat, atau bahkan saudara
Mulai dari konsumsi untuk pengajian, rias pengantin, katering, seragam untuk keluarga, undangan, sovenir, perintilan dekorasi dan masih banyak hal lainnya
Belum lagi masalah keterbatasan dana sehingga ada banyak budget yang harus dipangkas sedemikian rupa
Dalam kondisi serba panik semacam itu, ya wajar saja jika akan ada banyak orang yang terlewat diberikan undangan
Undangan biasanya diprioritaskan untuk keluarga besar, saudara, rekan kerja, sahabat, baru kemudian ke teman-teman semasa sekolah atau kuliah
Dan lagi, budget mengenai undangan tentu sudah dipikirkan dengan sangat matang
Sekarang mari coba dihitung
Biaya katering untuk 1 orang tamu undangan saja bisa mencapai minimal enam puluh ribu rupiah (sepengetahuan saya harga tersebut adalah harga untuk katering dengan menu yang sangat ala kadarnya ya *sigh* )
Mengundang 300 orang saja sudah memakan biaya delapan belas juta rupiah
Dari angka 300 itu, bisa jadi 150 orangnya adalah keluarga besar dari kedua belah pihak
Jadi hanya tersisa slot sekitar 150 undangan untuk teman dan rekan kerja
Itu baru biaya katering, belum souvenir, hiburan saat acara dan lain-lain
* elap keringet *
Jadi sekarang setelah saya memahami keriweuhan menyiapkan pernikahan, saya hampir tidak pernah lagi mengucapkan kalimat "jangan lupa undangannya ya" saat mengetahui teman saya akan menikah
Saya lebih memilih menggantinya dengan kalimat,
"Barakallah. Semoga dilancarkan semua persiapannya sampai hari H dan diberi kesehatan ya"
Ya memang sih, segala biaya yang sudah dikeluarkan akan sedikit banyak kembali karena adanya amplop dari para tamu undangan
Tetapi uang tersebut kan bukan merupakan jumlah yang pasti dan (biasanya) paling banyak hanya mengcover setidaknya separuh dari total biaya yang dikeluarkan
Bicara tentang amplop atau istilah jawanya "buwuhan" ini saya juga memiliki pandangan sendiri sih
Jadi setiap kali memberikan amplop ke pernikahan teman atau saudara, saya tidak pernah menuliskan nama saya di amplop tersebut
Sebagai seorang HRD di kantor, saya juga sering menerima undangan entah pernikahan atau khitanan
Dan karena saya cukup jarang menghadiri acaranya, jadi biasanya saya hanya menitipkan amplop yang berisi sejumlah uang dan tanpa nama
Uniknya adalah tradisi di kantor jika si empunya hajat mengetahui ada titipan amplop, keesokan harinya dia akan membawa sejumlah kue dan minuman untuk dibagikan kepada staff atau karyawan yang menitipkan amplop
Saya hampir tidak pernah mendapat kue seperti itu karena memang saya tidak pernah menuliskan nama di amplop
Banyak yang mengira saya memang sengaja tidak pernah memberikan amplop
Tapi saya pikir ya terserah saja
Toh itu hak mereka untuk berasumsi sesederhana itu
Jadi kalau ditanya kenapa saya tidak pernah menuliskan nama di amplop, ya jawabannya sederhana
Karena uang dalam amplop tersebut saya niatkan menjadi hadiah atau dalam Islam disebut hibah
Jika saya menuliskan nama di amplop dengan niat agar diberikan kue sebagai ucapan terimakasih, maka statusnya berubah menjadi hutang
Niat saya sejak awal tulus memberikan sebagai hadiah, bukan hutang yang harus dikembalikan dalam bentuk kue atau apapun
(untuk lebih jelasnya bisa membaca salah satu artikel di sini. Wallahu `alam)
Saya pernah membahas masalah tersebut dengan salah satu rekan saya di kantor
Dia berkata bahwa amplop yang kita berikan bukanlah sedekah yang harus disembunyikan jumlahnya
Lagipula, akan ada perasaan sungkan jika orang yang memiliki hajat merasa bahwa kita tidak menghadiri undangannya bahkan tidak menitipkan amplop (meskipun sebenarnya menitipkan amplop tetapi tanpa nama)
Ya kembali lagi kepada prinsip masing-masing dan kepercayaan individu
Saya tidak masalah jika yang memiliki hajat merasa seperti itu
Toh saya yakin, ada banyak amplop yang juga tidak berisi nama sehingga tidak bisa langsung berasumsi bahwa saya tidak memberikan amplop
Saya justru khawatir jika misalnya saya memberikan amplop berisi uang seratus ribu rupiah dan saya berikan nama sehingga yang memiliki hajat tahu bahwa saya menyumbang sebesar itu
Lalu suatu hari tiba giliran saya yang memiliki hajat
Dan waktu itu, ternyata Allah sedang menguji dia dengan kondisi finansial yang kurang baik sehingga tidak mungkin memberikan amplop berisi seratus ribu rupiah sama seperti yang pernah saya berikan
Bisa dibayangkan bagaimana perasaannya saat itu?
(dan uniknya, setahu saya tradisi balas-membalas amplop memang lumrah di masyarakat Jawa bahkan ada teman saya yang sampai berhutang 300 ribu rupiah karena pernah diberi amplop sebesar itu oleh rekan kerjanya)
Itulah mengapa saya tidak pernah menuliskan nama dalam setiap amplop yang saya berikan
Saya tidak ingin pemberian saya dianggap sebagai hutang yang harus dibayar dengan jumlah sama suatu hari nanti
Hadiah ya hadiah, bukan untuk dikembalikan dengan jumlah yang sepadan
Demikian curahan hati wanita berusia 27 tahun yang semakin banyak mendapat undangan pernikahan dan semakin pusing menghitung biaya persiapan mendaftar S2 sekaligus perintilan pernikahan
Sekian dan terima amplop
* EH *
"JANGAN LUPA UNDANGANNYA YA"
YHA.
Dulu. Dulu sekali, saat masih menempuh kuliah di Psikologi.
Ada beberapa teman saya yang sudah menikah di usia dini
Saat itu, sempat terlintas di pikiran saya,
"Eh kok aku nggak diundang ya?"
Lucu sih kalau mengingat pemikiran semacam itu
Saya merasa cukup dekat, setidaknya sering mengerjakan tugas bersama, duduk berdekatan saat kuliah dengan teman saya itu
Namun saat dia menikah, saya bahkan baru mengetahui kabar pernikahannya melalui facebook
Seiring berjalannya waktu, saya semakin menyadari bahwa menyiapkan pernikahan bukanlah hal yang mudah
Akan ada banyak kekurangan, seolah ketidaksempurnaan selalu memiliki celah
Saya mulai sering mendengar berbagai keriweuhan menyiapkan pernikahan dari teman dekat, atau bahkan saudara
Mulai dari konsumsi untuk pengajian, rias pengantin, katering, seragam untuk keluarga, undangan, sovenir, perintilan dekorasi dan masih banyak hal lainnya
Belum lagi masalah keterbatasan dana sehingga ada banyak budget yang harus dipangkas sedemikian rupa
Dalam kondisi serba panik semacam itu, ya wajar saja jika akan ada banyak orang yang terlewat diberikan undangan
Undangan biasanya diprioritaskan untuk keluarga besar, saudara, rekan kerja, sahabat, baru kemudian ke teman-teman semasa sekolah atau kuliah
Dan lagi, budget mengenai undangan tentu sudah dipikirkan dengan sangat matang
Sekarang mari coba dihitung
Biaya katering untuk 1 orang tamu undangan saja bisa mencapai minimal enam puluh ribu rupiah (sepengetahuan saya harga tersebut adalah harga untuk katering dengan menu yang sangat ala kadarnya ya *sigh* )
Mengundang 300 orang saja sudah memakan biaya delapan belas juta rupiah
Dari angka 300 itu, bisa jadi 150 orangnya adalah keluarga besar dari kedua belah pihak
Jadi hanya tersisa slot sekitar 150 undangan untuk teman dan rekan kerja
Itu baru biaya katering, belum souvenir, hiburan saat acara dan lain-lain
* elap keringet *
Jadi sekarang setelah saya memahami keriweuhan menyiapkan pernikahan, saya hampir tidak pernah lagi mengucapkan kalimat "jangan lupa undangannya ya" saat mengetahui teman saya akan menikah
Saya lebih memilih menggantinya dengan kalimat,
"Barakallah. Semoga dilancarkan semua persiapannya sampai hari H dan diberi kesehatan ya"
Ya memang sih, segala biaya yang sudah dikeluarkan akan sedikit banyak kembali karena adanya amplop dari para tamu undangan
Tetapi uang tersebut kan bukan merupakan jumlah yang pasti dan (biasanya) paling banyak hanya mengcover setidaknya separuh dari total biaya yang dikeluarkan
Bicara tentang amplop atau istilah jawanya "buwuhan" ini saya juga memiliki pandangan sendiri sih
Jadi setiap kali memberikan amplop ke pernikahan teman atau saudara, saya tidak pernah menuliskan nama saya di amplop tersebut
Sebagai seorang HRD di kantor, saya juga sering menerima undangan entah pernikahan atau khitanan
Dan karena saya cukup jarang menghadiri acaranya, jadi biasanya saya hanya menitipkan amplop yang berisi sejumlah uang dan tanpa nama
Uniknya adalah tradisi di kantor jika si empunya hajat mengetahui ada titipan amplop, keesokan harinya dia akan membawa sejumlah kue dan minuman untuk dibagikan kepada staff atau karyawan yang menitipkan amplop
Saya hampir tidak pernah mendapat kue seperti itu karena memang saya tidak pernah menuliskan nama di amplop
Banyak yang mengira saya memang sengaja tidak pernah memberikan amplop
Tapi saya pikir ya terserah saja
Toh itu hak mereka untuk berasumsi sesederhana itu
Jadi kalau ditanya kenapa saya tidak pernah menuliskan nama di amplop, ya jawabannya sederhana
Karena uang dalam amplop tersebut saya niatkan menjadi hadiah atau dalam Islam disebut hibah
Jika saya menuliskan nama di amplop dengan niat agar diberikan kue sebagai ucapan terimakasih, maka statusnya berubah menjadi hutang
Niat saya sejak awal tulus memberikan sebagai hadiah, bukan hutang yang harus dikembalikan dalam bentuk kue atau apapun
(untuk lebih jelasnya bisa membaca salah satu artikel di sini. Wallahu `alam)
Saya pernah membahas masalah tersebut dengan salah satu rekan saya di kantor
Dia berkata bahwa amplop yang kita berikan bukanlah sedekah yang harus disembunyikan jumlahnya
Lagipula, akan ada perasaan sungkan jika orang yang memiliki hajat merasa bahwa kita tidak menghadiri undangannya bahkan tidak menitipkan amplop (meskipun sebenarnya menitipkan amplop tetapi tanpa nama)
Ya kembali lagi kepada prinsip masing-masing dan kepercayaan individu
Saya tidak masalah jika yang memiliki hajat merasa seperti itu
Toh saya yakin, ada banyak amplop yang juga tidak berisi nama sehingga tidak bisa langsung berasumsi bahwa saya tidak memberikan amplop
Saya justru khawatir jika misalnya saya memberikan amplop berisi uang seratus ribu rupiah dan saya berikan nama sehingga yang memiliki hajat tahu bahwa saya menyumbang sebesar itu
Lalu suatu hari tiba giliran saya yang memiliki hajat
Dan waktu itu, ternyata Allah sedang menguji dia dengan kondisi finansial yang kurang baik sehingga tidak mungkin memberikan amplop berisi seratus ribu rupiah sama seperti yang pernah saya berikan
Bisa dibayangkan bagaimana perasaannya saat itu?
(dan uniknya, setahu saya tradisi balas-membalas amplop memang lumrah di masyarakat Jawa bahkan ada teman saya yang sampai berhutang 300 ribu rupiah karena pernah diberi amplop sebesar itu oleh rekan kerjanya)
Itulah mengapa saya tidak pernah menuliskan nama dalam setiap amplop yang saya berikan
Saya tidak ingin pemberian saya dianggap sebagai hutang yang harus dibayar dengan jumlah sama suatu hari nanti
Hadiah ya hadiah, bukan untuk dikembalikan dengan jumlah yang sepadan
Demikian curahan hati wanita berusia 27 tahun yang semakin banyak mendapat undangan pernikahan dan semakin pusing menghitung biaya persiapan mendaftar S2 sekaligus perintilan pernikahan
Sekian dan terima amplop
* EH *
Comments
Post a Comment