Skip to main content

Politik dan Agama

Saya sangat tidak tertarik dengan pembicaraan mengenai politik
Tetapi sejak momen Pilpres kemarin, suasana politik semakin terasa mencekik
Berbagai perdebatan di media sosial diperkeruh dengan banyaknya berita dari berbagai sumber yang dipertanyakan kebenarannya, dan dibumbui dengan banyaknya orang yang mudah terpancing tanpa mencari bukti

Saya semakin gerah manakala 4 November kemarin terjadi aksi dengan tuduhan penistaan
Penistaan agama
YHA !

Linimasa saya dipenuhi dengan tautan berbagai artikel baik yang pro maupun kontra
Banyak teman saya yang juga ikut memberikan opini dan kejelasan pihak
Baik yang dilandasi dengan analisa maupun memperkeruh suasana semata

Sebelumnya, saya dengan rendah hati mengakui kedangkalan ilmu saya
Saya bukanlah ahli agama, ahli tafsir maupun ahli bahasa
Saya memiliki banyak kekurangan yang bisa menjadi bahan cela
Dan saya juga bukanlah pendukung Ahok sebagai pemimpin Jakarta
Karena kalaupun dia kembali menjadi Gubernur, tidak akan berdampak apa-apa bagi saya
KTP saya masih tercatat sebagai KTP propinsi Bali, dan saya juga tinggal di Surabaya

Saya hanya penasaran akan 1 hal
Para ulama serta jamaahnya yang kemarin ikut berdemo itu sudah menonton video pidato Ahok secara full atau belum?
Atau jangan-jangan, hanya menonton sepotong dan disertai dengan transkrip provokatif tidak lengkap hasil karya Buni Yani?

Jangan panas ketika aksi kemarin dikatakan memiliki banyak tujuan politis
Karena realita yang ada menunjukkan bahwa ada banyak orang yang ikut aksi kemarin karena mendapat imbalan sejumlah uang
Tetapi, saya juga tidak menutup mata bahwa ada banyak peserta aksi yang memang berangkat dengan tujuan Lillahi ta` ala
Wallahu `alam
Kita tidak pernah tahu dalamnya isi hati seseorang karena hanya Allah Yang Maha Mengetahui

Sebagai orang yang beberapa tahun terakhir mengajar di materi verbal, baru kali ini saya lihat kata "pakai" memiliki makna yang sangat signifikan
Kata tersebut mengubah obyek menjadi subyek sehingga memicu kemarahan para muslim tanpa bertabayyun

Jadi ketika ada yang memposting, "kalian yang menghina aksi kemarin, memangnya siapa kalian? Seberapa jauh ilmu kalian dibanding para ulama yang mengikuti aksi tersebut?" saya hanya bisa tertawa dan membatin
"Duh, Uda. Memiliki pengetahuan yang banyak mengenai ilmu agama sehingga mendapat gelar ulama tidak menjamin pemahannya dalam tata bahasa juga lebih baik."

Banyak tulisan yang bermunculan mengenai pembahasan kata awliya` yang menjadi dilema dalam Surat Al-Maidah 51
Bahkan, pengertian kata tersebut saja masih menjadi perdebatan di kalangan ahli tafsir dan ulama sendiri
Terus ngana yang dengan bangganya apdet status "Jangan pilih non muslim sebagai pemimpin. Sudah jelas haram dalam Al-Qur`an" itu dasar hukumnya dari mana, monmaap?

Maka benarlah sebuah teori yang mengatakan bahwa,
People only see what they want to see, and only hear what they want to hear
The biggest problem in communication is we listen to respond, not to understand

Mau sebanyak apapun artikel yang membahas mengenai tafsir Al Maidah ayat 51 tersebut, mau sebanyak apapun fakta yang dibeberkan mengenai tindakan Ahok yang sama sekali tidak pernah mendiskreditkan Islam, maka anda tidak akan peduli
Mau sebanyak apapun ahli bahasa yang menjelaskan perbedaan signifikan kata "dibohongi Al Maidah" dengan "dibohongi pakai Al Maidah", maka anda akan menganggapnya sebagai upaya pembenaran kesalahan yang tidak berdasar
Kenapa?
Ya sesederhana karena anda sudah memilih percaya bahwa tindakan Ahok yang menyebut Al Maidah ayat 51 adalah sebuah bentuk penistaan
Hal tersebut didukung dengan track record seorang Ahok yang selama ini memang terkenal memiliki gaya berbicara ceplas-ceplos tanpa ada saringan
Maka semakin kuat lah menancap image penistaan

Belum lagi yang memposting, "Kalian yang tidak mendukung aksi tersebut patut dipertanyakan keimanannya" lebih membuat saya serasa ingin kembali belajar agama di SD
Nganu, mbak, mas, pernah dengar istilah hablu minallah dan hablu minannas?
Bahkan ketika kita merasa sudah berbuat 1 amal kebaikan saja belum tentu dinilai amal oleh Allah, lalu bagaimana bisa semudah itu menuding tingkat keimanan seseorang?
Mbaknya sama masnya ini sama ndagelnya seperti mas-mas absurd yang langsung nyeletuk, "Berjilbab tapi kok foto di depan pohon natal sih?" saat melihat saya berfoto di depan sebuah pohon natal raksasa di Tunjungan Plaza beberapa tahun silam
Apakah dengan berfoto di depan pohon natal lantas menunjukkan kadar kemusliman dan keimanan saya?
Apakah dengan berfoto di depan pohon natal lantas keyakinan saya akan Allah menjadi luntur dan tergantikan dengan Yesus?
Wallahu `alam

Jauh-jauh berjihad ke Jakarta demi membela agama
Di lingkungan sekitar rumah ada berapa janda dan anak yatim yang luput dari santunan?
Seumur hidup sudah berapa kali berkunjung dan menyantuni panti asuhan?
Seumur hidup sudah berapa kali membenci orang sampai memutus tali pertemanan bahkan persaudaraan?
Seumur hidup sudah berapa kali menyakiti hati orang lain tapi meminta maaf pun enggan?
Seumur hidup sudah berapa kali memutuskan mantan tanpa kejelasan?
yak okesip yang terakhir skip aja gosah dibahas

Mungkin benar anggapan bahwa kita memasuki masa dimana orang tidak menyadari bahwa dirinya termasuk golongan ekstrimis, bahkan lebih mengaku islami dibandingkan umat islam zaman Rasulullah

Saya muslim
Saya mencintai agama dan Al Qur`an saya
Saya tidak setuju aksi 4 November kemarin dengan segenap pemikiran saya
Karena mudharat yang diperoleh lebih banyak dibanding manfaatnya
Jalanan diblok, aktivitas banyak terganggu, suasana menjadi tidak kondusif
Lalu setelah terjadi kericuhan sibuk mengklarifikasi bahwa itu adalah perbuatan oknum tidak bertanggungjawab
Yelah bro. Dimana-mana provokator pasti ada. Ya situ juga ngasih jalan buat dia beraksi.

Saya membela agama saya dengan bekerja lebih keras agar rezeki yang saya terima bisa bermanfaat untuk keluarga dan orang yang membutuhkan
Saya membela agama saya dengan melawan kebencian saya kepada orang-orang tertentu
Saya membela agama saya dengan mempelajari banyak hal yang akan bermanfaat untuk orang lain
Saya membela agama saya dengan belajar meredam ego dan berkata baik meskipun saya sangat ingin membantah dan menyerang

Kalian yang merasa agamanya ternista
Mungkin belum pernah merasakan hidup menjadi minoritas
Kalian tidak paham rasanya hidup di Denpasar setelah kejadian bom Bali
Dimana terlihat memakai jilbab akan diteriaki teroris
Dimana mendengar banyak cacian tentang Islam yang dianggap agama paling rasis dan tidak humanis

Saya malu jika nanti tiba saatnya saya diadili dan mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan saya lalu Allah bertanya:
"Kau gunakan untuk apa ilmu agamamu selama di dunia?"
Lalu saya menjawab dengan lantang dan yakin tidak berdosa:
"Ilmu agama saya digunakan untuk mengkafirkan orang lain dan menunjukkan bahwa mereka lebih bodoh daripada saya, Ya Rabb"
Hmm. Saya lebih ingin menjawab dengan cara seperti ini,
"Ilmu agama saya digunakan untuk tolong-menolong dengan orang lain selama tidak menyinggung aqidah keislaman saya. Ilmu agama saya digunakan untuk membantu anak yatim dan keluarga saya yang membutuhkan. Ilmu agama saya digunakan untuk mengerem lisan saya dari perkataan yang tidak bermanfaat apalagi menyakiti hati orang lain. Ilmu agama saya digunakan untuk mengajarkan bahwa Islam adalah agama yang akan membawa kedamaian"

Kamu yang merasa bahwa agamamu sudah dihina
Coba dicek kembali dengan pikiran yang terbuka
Yang terhina itu Tuhanmu atau egomu semata?

*ditulis dalam kondisi bed rest akibat vertigo*

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi 2019: Mengurangi Benci

Saya memang tergolong orang yang selalu memiliki rencana atau target. Kalau ibarat sebuah permainan, setelah melewati level 1 maka saya akan berlanjut ke level 2, begitu seterusnya hingga permainan tersebut berakhir. Bicara tentang pergantian tahun, orang seringkali mengaitkan itu dengan resolusi. Sebagian besar orang akan memposting di sosial media apa saja resolusinya di tahun baru, yang kemudian akan di-amin-i oleh rekan yang membaca postingan tersebut. Saya? Percaya atau tidak, saya justru jarang memposting tentang resolusi. Hal itu bukan karena saya tidak memiliki resolusi. Bisa dibilang, ada dua alasan. Pertama, resolusi bagi saya adalah suatu hal yang pribadi. Sebut saja, sebuah janji kepada diri saya sendiri yang tidak perlu mendapat legitimasi. Kedua, resolusi saya seringkali berubah sewaktu-waktu (maha benar libra dengan segala kelabilannya wkwkwkwkwk). Tahun 2018 kemarin sejujurnya bukan tahun yang mudah bagi saya. Mungkin jika harus membuat perbandingan, porsi sed...

(NOT) AN INSTANT JUDGMENT

Saya sudah menggeluti bidang sumber daya manusia selama sekitar 7 tahun. Sebuah rentang waktu yang cukup lama untuk bertemu dengan orang dari berbagai latar belakang dan karakter. Seluruh perusahaan tempat saya bekerja menaruh tugas rekrutmen sebagai salah satu indikator pencapaian. Tidak heran, saya cukup familiar dengan metode interview dan juga beberapa alat tes, terutama tes kepribadian. Saya pribadi termasuk golongan orang yang percaya akan pengaruh faktor kepribadian dalam keberhasilan seseorang. Oleh karena itu, biasanya saat pelaksanaan psikotes akan lebih banyak digunakan tes kepribadian dibandingkan kecerdasan. Meskipun saya seorang sarjana psikologi, saya tidak sembarangan memberikan analisa atau interpretasi dari alat tes. Terutama jika alat tesnya adalah alat tes proyeksi, seperti misalnya tes grafis menggambar pohon, manusia. Ketika menempuh pendidikan strata 1 selama 3.5 tahun memang saya pernah mempelajari alat tes tersebut. Tapi sesuai dengan kode etik psikologi,...

Dieu

Allah Beri aku kekuatan untuk percaya Bahwa rencana-Mu pasti luar biasa Allah Aku tahu bahwa Engkau menggenggam hatiku Jangan biarkan hatiku jatuh pada yang tidak mencintai-Mu Allah Aku percaya bahwa Engkau mampu membolak-balikkan hatiku Maka jangan biarkan aku tenggelam dalam pilu Allah Jangan biarkan aku menyesapi kesedihan yang berlebihan Ajari aku merasa cukup dengan cinta-Mu saja Agar aku percaya bahwa tiada kehilangan melainkan akan Engkau ganti dengan yang lebih bermakna Allah, aku pasrah