Skip to main content

Sebuah Harga Mahal

Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, saya sering menemani Alm. Bunda mengajar ke kampus. Saya kenal baik dengan banyak mahasiswa Bunda. Beberapa dari mereka bahkan seringkali menginap di rumah.

Siang itu, saya menunggu Bunda di kampus. Bunda saat itu sedang menguji sidang Tugas Akhir mahasiswanya. Di tempat Bunda mengajar dulu sidang Tugas Akhir diadakan dalam periode waktu tertentu. Setelah periode tersebut selesai dan semua mahasiswa sudah menghadapi sidang, mereka akan dikumpulkan menjadi satu di lapangan rumput yang tidak begitu luas. Saat itulah nama mereka akan dipanggil satu per satu dan maju ke depan untuk mendengar pembacaan hasil sidang mereka. Jika mereka lulus, mereka akan mendapat ucapan selamat bergantian dari seluruh Ketua Jurusan plus disiram dengan air, cat, entah benda apa lagi. Sungguh suatu tradisi yang baru saya sadari sangat kejam bagi mereka yang dinyatakan tidak lulus karena harus menerima keputusan itu di hadapan banyak orang. Selain itu, saya tidak sanggup membayangkan bagaimana perasaan mereka yang mendapat giliran sidang di awal. Mereka harus menunggu beberapa hari untuk mendapatkan keputusan apakah mereka lulus atau tidak. Saya yang harus menunggu keputusan dewan penguji selama 15 menit saja rasanya sudah ingin gantung diri di pohon cabai dan mati-matian menahan air mata, apalagi seminggu.

Saya menunggu di kantin kampus dengan ditemani beberapa orang mahasiswa Bunda yang memang cukup dekat dengan saya. Tentu saja mereka membicarakan tentang teman-teman mereka yang sudah atau akan menghadapi sidang. Lalu entah kenapa, beberapa saat kemudian mulut saya dengan lancar menceritakan bahwa ada salah satu peserta sidang yang tidak lulus. Saya tidak ingat siapa namanya, sebut saja si A. Kemarin saya mendengar Bunda bercerita bahwa ia baru saja memberikan nilai yang sangat rendah untuk Tugas Akhir mahasiswa itu karena sangat tidak jelas konsepnya. Orang-orang di sekitar saya langsung terdiam, pertanda bahwa mereka cukup terkejut dengan apa yang saya sampaikan. Tidak lama kemudian, mereka mengeluarkan ekspresi sedih dan mengasihani orang yang saya sebutkan namanya tadi. Saya pikir itu hanya sebuah cerita biasa yang tidak perlu dibesar-besarkan, karena toh pada akhirnya semua akan tahu saat pengumuman.

Setelah itu, hidup saya berjalan normal seperti biasanya. Hingga 2 hari kemudian sekitar pukul 2 dini hari, Bunda membangunkan saya dengan panik. Bunda menyalakan lampu kamar dan memanggil nama saya dengan cukup keras. Saya masih belum sadar sepenuhnya. Saya bahkan sempat hampir marah karena merasa tidur saya terganggu. Sedetik kemudian saya baru menyadari bahwa Bunda sedang tidak iseng atau bercanda. Raut wajahnya menunjukkan kemarahan yang luar biasa.

Bunda menyuruh saya duduk di pinggir kasur dan menatap mata saya dengan tajam. Tanpa banyak basa-basi, Bunda langsung bertanya kepada saya yang masih mengucek mata. "Adek cerita ke orang-orang kalau si A itu nggak lulus?". Saya terdiam. Otak saya belum menangkap maksud mengapa pertanyaan semacam itu harus ditanyakan pada saya pukul 2 dini hari.

Bunda mengulang pertanyaannya dengan nada yang lebih keras. Saya terdiam dan mulai merasa bahwa ini adalah masalah besar. Saya mengangguk lemah sebagai jawaban. "Kenapa Adek cerita ke orang-orang? Adek mikir nggak akibatnya apa?". Saya berusaha membela diri dengan mengatakan bahwa saya hanya menceritakan hal itu ke orang yang dekat saja. Bukan ke banyak orang (memang faktanya saat itu kalau tidak salah saya hanya bercerita ke 2 orang). Saya tidak menyangka bahwa ternyata informasi itu disebarluaskan.

Saya menghabiskan waktu sekitar 2 jam untuk mendengarkan omelan Bunda. Saya menangis. Perasaan saya bercampur baur menjadi satu. Sedih, marah, takut, kesal, iba. Bunda menyampaikan dengan sangat gamblang mengenai akibat dari perbuatan saya itu.

Bunda memang memberikan nilai yang rendah. Tapi kelulusan tidak hanya ditentukan oleh Bunda. Ada 2 orang penguji lagi yang bisa saja mengatrol nilai pemberian mereka. Lebih jauh lagi, informasi bahwa si A tidak lulus sudah menyebar kemana-mana. Sejak mengetahui bahwa ia tidak lulus, mahasiswa Bunda itu mengurung diri di rumah dan sudah tidak makan sejak 2 hari lalu. Yang lebih fatal, kredibilitas Bunda sebagai dosen dipertaruhkan karena dianggap tidak bisa menyimpan informasi rahasia. Semua hanya karena saya bercerita kepada orang-orang yang saya anggap dekat, lalu mereka menyebarkannya. Entah dengan maksud apa.

Lucu ya. Betapa sebuah kalimat mampu menghancurkan banyak hal dalam waktu singkat. Betapa sebuah informasi sederhana, bisa berubah menjadi petaka jika sampai kepada orang yang tidak bisa dipercaya.

Pelajaran hidup puluhan tahun lalu itu rupanya terulang lagi kepada saya beberapa bulan yang lalu. Betapa saya hancur berkeping-keping saat "curhatan" saya ke orang tertentu dibuka dan "dibumbui" sehingga seolah menjadi pencemaran nama baik (yang sebetulnya memang sudah nggak baik sih. Ehe). Kredibilitas saya hancur bahkan tanpa ada kesempatan untuk menjelaskan.

Saya tidak menyesal dengan apa yang sudah terjadi. Tidak sama sekali. Saya percaya, setiap hal menyakitkan adalah bagian dari proses pembelajaran dan pendewasaan diri. Saya menjadi semakin paham bahwa ada sebuah harga mahal yang harus dibayar atas ketidakjelian dalam memilih tempat untuk bercerita dan berbagi.

Saya menuliskan postingan ini sebagai pengingat bagi diri saya dan siapapun yang membaca. Jangan terburu-buru merasa gembira jika menemukan orang yang membenci obyek yang sama dengan anda. Apalagi jika dia dengan sangat antusias bercerita mengenai kejelekan atau kelemahan obyek itu dari a sampai z tanpa ragu. Saya pastikan, Anda tinggal menunggu giliran untuk menjadi obyek pembicaraan.

Percayalah, akan selalu ada harga mahal yang harus dibayar untuk sebuah kepercayaan yang salah.



Comments

Popular posts from this blog

Resolusi 2019: Mengurangi Benci

Saya memang tergolong orang yang selalu memiliki rencana atau target. Kalau ibarat sebuah permainan, setelah melewati level 1 maka saya akan berlanjut ke level 2, begitu seterusnya hingga permainan tersebut berakhir. Bicara tentang pergantian tahun, orang seringkali mengaitkan itu dengan resolusi. Sebagian besar orang akan memposting di sosial media apa saja resolusinya di tahun baru, yang kemudian akan di-amin-i oleh rekan yang membaca postingan tersebut. Saya? Percaya atau tidak, saya justru jarang memposting tentang resolusi. Hal itu bukan karena saya tidak memiliki resolusi. Bisa dibilang, ada dua alasan. Pertama, resolusi bagi saya adalah suatu hal yang pribadi. Sebut saja, sebuah janji kepada diri saya sendiri yang tidak perlu mendapat legitimasi. Kedua, resolusi saya seringkali berubah sewaktu-waktu (maha benar libra dengan segala kelabilannya wkwkwkwkwk). Tahun 2018 kemarin sejujurnya bukan tahun yang mudah bagi saya. Mungkin jika harus membuat perbandingan, porsi sed...

(NOT) AN INSTANT JUDGMENT

Saya sudah menggeluti bidang sumber daya manusia selama sekitar 7 tahun. Sebuah rentang waktu yang cukup lama untuk bertemu dengan orang dari berbagai latar belakang dan karakter. Seluruh perusahaan tempat saya bekerja menaruh tugas rekrutmen sebagai salah satu indikator pencapaian. Tidak heran, saya cukup familiar dengan metode interview dan juga beberapa alat tes, terutama tes kepribadian. Saya pribadi termasuk golongan orang yang percaya akan pengaruh faktor kepribadian dalam keberhasilan seseorang. Oleh karena itu, biasanya saat pelaksanaan psikotes akan lebih banyak digunakan tes kepribadian dibandingkan kecerdasan. Meskipun saya seorang sarjana psikologi, saya tidak sembarangan memberikan analisa atau interpretasi dari alat tes. Terutama jika alat tesnya adalah alat tes proyeksi, seperti misalnya tes grafis menggambar pohon, manusia. Ketika menempuh pendidikan strata 1 selama 3.5 tahun memang saya pernah mempelajari alat tes tersebut. Tapi sesuai dengan kode etik psikologi,...

Dieu

Allah Beri aku kekuatan untuk percaya Bahwa rencana-Mu pasti luar biasa Allah Aku tahu bahwa Engkau menggenggam hatiku Jangan biarkan hatiku jatuh pada yang tidak mencintai-Mu Allah Aku percaya bahwa Engkau mampu membolak-balikkan hatiku Maka jangan biarkan aku tenggelam dalam pilu Allah Jangan biarkan aku menyesapi kesedihan yang berlebihan Ajari aku merasa cukup dengan cinta-Mu saja Agar aku percaya bahwa tiada kehilangan melainkan akan Engkau ganti dengan yang lebih bermakna Allah, aku pasrah