Skip to main content

Jangan Terluka Lagi

"Apa? Serius dia ngomong gitu?" suara di seberang telepon terdengar sangat terkejut.
Saya menarik nafas dalam sebagai sebuah jawaban.
"Kamu nggak marah?" tanya sahabat saya itu lagi, masih dengan intonasi yang meninggi.
Saya terhenyak beberapa saat. Di satu sisi memikirkan jawaban atas pertanyaannya barusan, di sisi lain sibuk menenangkan hati saya yang semakin morat-marit mendengar pertanyaan yang lugas dan tepat menusuk luka yang masih menganga.
"Entahlah. Mungkin aku sudah mencapai titik muak dimana aku sudah tidak sanggup lagi merasa marah ataupun kecewa", jawab saya sekenanya. Saya berusaha mengatur intonasi dan nafas agar tidak terbawa emosi. Kali ini sahabat saya di seberang telepon yang menarik nafas panjang.

"Aku yang sakit hati mendengar semua kalimat tentang kamu itu. Aku nggak akan pernah ridho kamu dianggap serendah itu". Kami sama-sama terdiam. Hening. Namun saya bisa mendengar dengan jelas bahwa ia di sana sedang menahan tangis.

"Jadi perjuanganmu selama ini dianggap apa? Dia pikir selama ini kamu hanya duduk diam dan tidak berusaha? Dia pikir semuanya hanya bisa dinilai dengan harta?". Kami kembali terdiam dan larut dengan pikiran masing-masing

"Kamu jangan terluka lagi ya", ujarnya yang lebih mirip terdengar sebagai sebuah ancaman.
Seketika dada saya terasa ngilu. Namun saya tahu, ini bukan saat yang tepat untuk menangis.
"Hei, jangan lupa betapa kuatnya aku!" jawab saya dengan suara mantap.

Dia tertawa seolah baru saja menyadari siapa lawan bicaranya. Saya menutup telepon dan segera menghapus bulir air mata yang perlahan menggenang.

Allah, saya kembalikan semua rasa sakit itu kepada-Mu. Karena saya percaya bahwa hanya Engkau yang mampu membolak-balikkan hati tanpa kecuali.

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi 2019: Mengurangi Benci

Saya memang tergolong orang yang selalu memiliki rencana atau target. Kalau ibarat sebuah permainan, setelah melewati level 1 maka saya akan berlanjut ke level 2, begitu seterusnya hingga permainan tersebut berakhir. Bicara tentang pergantian tahun, orang seringkali mengaitkan itu dengan resolusi. Sebagian besar orang akan memposting di sosial media apa saja resolusinya di tahun baru, yang kemudian akan di-amin-i oleh rekan yang membaca postingan tersebut. Saya? Percaya atau tidak, saya justru jarang memposting tentang resolusi. Hal itu bukan karena saya tidak memiliki resolusi. Bisa dibilang, ada dua alasan. Pertama, resolusi bagi saya adalah suatu hal yang pribadi. Sebut saja, sebuah janji kepada diri saya sendiri yang tidak perlu mendapat legitimasi. Kedua, resolusi saya seringkali berubah sewaktu-waktu (maha benar libra dengan segala kelabilannya wkwkwkwkwk). Tahun 2018 kemarin sejujurnya bukan tahun yang mudah bagi saya. Mungkin jika harus membuat perbandingan, porsi sed...

(NOT) AN INSTANT JUDGMENT

Saya sudah menggeluti bidang sumber daya manusia selama sekitar 7 tahun. Sebuah rentang waktu yang cukup lama untuk bertemu dengan orang dari berbagai latar belakang dan karakter. Seluruh perusahaan tempat saya bekerja menaruh tugas rekrutmen sebagai salah satu indikator pencapaian. Tidak heran, saya cukup familiar dengan metode interview dan juga beberapa alat tes, terutama tes kepribadian. Saya pribadi termasuk golongan orang yang percaya akan pengaruh faktor kepribadian dalam keberhasilan seseorang. Oleh karena itu, biasanya saat pelaksanaan psikotes akan lebih banyak digunakan tes kepribadian dibandingkan kecerdasan. Meskipun saya seorang sarjana psikologi, saya tidak sembarangan memberikan analisa atau interpretasi dari alat tes. Terutama jika alat tesnya adalah alat tes proyeksi, seperti misalnya tes grafis menggambar pohon, manusia. Ketika menempuh pendidikan strata 1 selama 3.5 tahun memang saya pernah mempelajari alat tes tersebut. Tapi sesuai dengan kode etik psikologi,...

Dieu

Allah Beri aku kekuatan untuk percaya Bahwa rencana-Mu pasti luar biasa Allah Aku tahu bahwa Engkau menggenggam hatiku Jangan biarkan hatiku jatuh pada yang tidak mencintai-Mu Allah Aku percaya bahwa Engkau mampu membolak-balikkan hatiku Maka jangan biarkan aku tenggelam dalam pilu Allah Jangan biarkan aku menyesapi kesedihan yang berlebihan Ajari aku merasa cukup dengan cinta-Mu saja Agar aku percaya bahwa tiada kehilangan melainkan akan Engkau ganti dengan yang lebih bermakna Allah, aku pasrah