"Apa? Serius dia ngomong gitu?" suara di seberang telepon terdengar sangat terkejut.
Saya menarik nafas dalam sebagai sebuah jawaban.
"Kamu nggak marah?" tanya sahabat saya itu lagi, masih dengan intonasi yang meninggi.
Saya terhenyak beberapa saat. Di satu sisi memikirkan jawaban atas pertanyaannya barusan, di sisi lain sibuk menenangkan hati saya yang semakin morat-marit mendengar pertanyaan yang lugas dan tepat menusuk luka yang masih menganga.
"Entahlah. Mungkin aku sudah mencapai titik muak dimana aku sudah tidak sanggup lagi merasa marah ataupun kecewa", jawab saya sekenanya. Saya berusaha mengatur intonasi dan nafas agar tidak terbawa emosi. Kali ini sahabat saya di seberang telepon yang menarik nafas panjang.
"Aku yang sakit hati mendengar semua kalimat tentang kamu itu. Aku nggak akan pernah ridho kamu dianggap serendah itu". Kami sama-sama terdiam. Hening. Namun saya bisa mendengar dengan jelas bahwa ia di sana sedang menahan tangis.
"Jadi perjuanganmu selama ini dianggap apa? Dia pikir selama ini kamu hanya duduk diam dan tidak berusaha? Dia pikir semuanya hanya bisa dinilai dengan harta?". Kami kembali terdiam dan larut dengan pikiran masing-masing
"Kamu jangan terluka lagi ya", ujarnya yang lebih mirip terdengar sebagai sebuah ancaman.
Seketika dada saya terasa ngilu. Namun saya tahu, ini bukan saat yang tepat untuk menangis.
"Hei, jangan lupa betapa kuatnya aku!" jawab saya dengan suara mantap.
Dia tertawa seolah baru saja menyadari siapa lawan bicaranya. Saya menutup telepon dan segera menghapus bulir air mata yang perlahan menggenang.
Allah, saya kembalikan semua rasa sakit itu kepada-Mu. Karena saya percaya bahwa hanya Engkau yang mampu membolak-balikkan hati tanpa kecuali.
Saya menarik nafas dalam sebagai sebuah jawaban.
"Kamu nggak marah?" tanya sahabat saya itu lagi, masih dengan intonasi yang meninggi.
Saya terhenyak beberapa saat. Di satu sisi memikirkan jawaban atas pertanyaannya barusan, di sisi lain sibuk menenangkan hati saya yang semakin morat-marit mendengar pertanyaan yang lugas dan tepat menusuk luka yang masih menganga.
"Entahlah. Mungkin aku sudah mencapai titik muak dimana aku sudah tidak sanggup lagi merasa marah ataupun kecewa", jawab saya sekenanya. Saya berusaha mengatur intonasi dan nafas agar tidak terbawa emosi. Kali ini sahabat saya di seberang telepon yang menarik nafas panjang.
"Aku yang sakit hati mendengar semua kalimat tentang kamu itu. Aku nggak akan pernah ridho kamu dianggap serendah itu". Kami sama-sama terdiam. Hening. Namun saya bisa mendengar dengan jelas bahwa ia di sana sedang menahan tangis.
"Jadi perjuanganmu selama ini dianggap apa? Dia pikir selama ini kamu hanya duduk diam dan tidak berusaha? Dia pikir semuanya hanya bisa dinilai dengan harta?". Kami kembali terdiam dan larut dengan pikiran masing-masing
"Kamu jangan terluka lagi ya", ujarnya yang lebih mirip terdengar sebagai sebuah ancaman.
Seketika dada saya terasa ngilu. Namun saya tahu, ini bukan saat yang tepat untuk menangis.
"Hei, jangan lupa betapa kuatnya aku!" jawab saya dengan suara mantap.
Dia tertawa seolah baru saja menyadari siapa lawan bicaranya. Saya menutup telepon dan segera menghapus bulir air mata yang perlahan menggenang.
Allah, saya kembalikan semua rasa sakit itu kepada-Mu. Karena saya percaya bahwa hanya Engkau yang mampu membolak-balikkan hati tanpa kecuali.
Comments
Post a Comment