Beberapa hari lalu, saya bertemu dengan salah seorang teman saya
Dia sudah saya anggap seperti adik saya sendiri
Dan ketika itu, saya tahu dia sedang patah hati karena baru beberapa hari putus
Siapa yang tidak tahu sakitnya patah hati
Saya pun pernah beberapa kali ada di posisi itu
Dan dalam kondisi demikian, saya merasa butuh seseorang yang bisa mendengarkan dan memahami seluruh perasaan saya
Ketika dulu saya patah hati, teman menjadi salah satu obat yang paling mujarab
Betapa beruntungnya saya ketika itu, memiliki teman kos yang sangat perhatian dan sudah seperti saudara sendiri
Mereka setia memeluk dan memegang tangan saya ketika saya tidak berhenti menangis
Mereka mengajak saya melakukan aktivitas lain yang bisa membuat saya lupa akan kesedihan saya
Dan rasa syukur itu ingin saya bagikan juga kepada orang-orang terdekat saya
Makanya ketika mengetahui teman saya itu patah hati dan dia mengajak saya untuk bertemu, saya langsung mengiyakan
Saya sengaja menyelesaikan segala pekerjaan saya tepat waktu agar pukul setengah lima sore saya sudah bisa pulang dan menemuinya
Sejak 1,5 tahun lalu ketika teman saya itu jadian, saya sudah pernah mengatakan padanya
"Kalian nggak cocok. Hubungan kalian nggak akan bertahan lama"
Dan kalaupun hubungan itu bertahan, pastilah itu karena teman saya ini yang berkorban lebih banyak
Baik pengorbanan materi maupun perasaan
Dan, tebakan saya terbukti
Dia mulai menceritakan berbagai permasalahan yang terjadi dalam hubungan kita
Mendengar ceritanya, saya sempat beberapa kali bengong seperti orang bodoh
Ya, saking takjubnya dengan permasalahan mereka !
Dan setelah perbincangan kami malam itu, saya seolah tertampar
Mengapa?
Ya, karena saya seringkali terlalu banyak menuntut dan lupa bersyukur akan kondisi hubungan saya dengan pacar
Saya bersyukur karena pacar saya tidak pernah protes kalau badan saya semakin gendut
Saya bersyukur karena dia rela setiap hari menjemput saya di kantor ketika bulan puasa kemarin saya selalu lembur
Saya bersyukur karena dia rela bangun pagi demi menjemput saya, sarapan bersama, lalu mengantar saya ke kantor
Saya bersyukur karena dia rela mengantarkan saya ke Ubaya, biro Sinergi, Al Azhar, dan lain-lain ketika saya harus mengikuti psikotes dan interview untuk melamar kerja
Saya bersyukur karena dia tidak pernah mengeluh ketika saya bercerita banyak hal selama berjam-jam. Bahkan dia selalu meminta saya untuk lebih membuka diri, terutama jika ada masalah di kantor
Saya bersyukur karena dia sering sekali mengirim SMS di jam 12 siang, sekedar memastikan bahwa saya sudah makan siang
Ya, meskipun dia tahu bahwa kadang saya tidak membalas smsnya atau telat membalas karena banyaknya pekerjaan di kantor
Saya bersyukur karena dia dengan sabarnya menemani saya ke dokter, ke rumah sakit, dan ke apotek ketika saya sakit
Saya bersyukur (sangat) karena dia bukan tipe lelaki yang hobi mengumbar permasalahan kami di publik, atau mengumbar romantisme di socmed
Itu membuat saya merasa lebih spesial, karena hubungan kami eksklusif :)
Saya juga bersyukur karena kedua orang tuanya cukup perhatian kepada saya tanpa banyak kata
:`)
Saya bersyukur (sangat) karena dia memberi saya kebebasan sepenuhnya dalam hubungan sosial
Tidak ada cemburu berlebihan
Mengikat saya dengan rasa percaya
Saya bersyukur (sangat) karena saya masuk dalam daftar prioritasnya
Secapek apapun dia sepulang dari kantor, dia selalu meluangkan waktunya untuk bertemu dengan saya
Saya bersyukur karena sesibuk apapun dia, selalu sempat membalas SMS saya
Bahagia?
Iya, saya (sangat) bahagia
Saya bahagia ketika ditemani olehnya setiap kali belanja kebutuhan bulanan, dan dia hapal seluruh produk favorit saya
Saya bahagia ketika dia berkata, "lebih baik uangnya disimpan untuk kamu dan anak kita nanti"
Saya bahagia membicarakan tentang masa depan bersama dia
Saya bahagia ketika dia memuji masakan saya enak, dan itu membuat saya semakin bersemangat untuk belajar memasak
Saya bahagia ketika dia memuji saya cantik
Saya bahagia jika dia memilihkan baju untuk saya, dan lalu berkata saya cantik memakai baju itu
"Kamu adalah bencana kelaparan yang kita berdua tidak akan sanggup memenuhi dahaga atas satu sama lain, kecuali kita menyerah sepenuhnya ke pelukanNya.
Ya, kamu sesederhana amin di akhir alfatihah. apalagi yang aku cari?"
(Written by Juno Hadinoto in here)
Dear Allah,
Terimakasih untuk malaikat yang Engkau kirim
:)



Comments
Post a Comment