Seminggu lalu saya mendapat sebuah panggilan tes dan interview dari sebuah perusahaan pembuat emas
Sebuah perusahaan besar yang memproduksi mahkota untuk salah satu ajang kontes kecantikan di Indonesia
Saya mendapat pemberitahuan melalui SMS sekitar 3 hari sebelumnya, dan juga ditelepon langsung oleh pihak HRD perusahaan tersebut
Saya membaca alamat yang dituliskan di SMS
Jalan Kenjeran
Negeri antah berantah mana pula itu?
Oke, sebelum bercerita lebih jauh, mungkin lebih baik saya membuat pengakuan dosa terlebih dulu
Ada 2 hal yang menjadi kelemahan utama saya
Kecerdasan kinestetik dan kecerdasan spasial
Ketika masih SD, saya tidak jadi mewakili sekolah ke pemilihan Pelajar Teladan karena saya tidak hafal gerakan senam aerobik yang menjadi salah satu poin penilaian
Saya benci menghafal gerakan senam atau tarian semacam itu
Bicara tentang kecerdasan spasial, duh!
Saya butuh waktu sekitar 3 minggu lebih (oke, genapkan saja sebulan) untuk menghafal jalan tikus dari kos pertama saya ke kampus
Mari mencari contoh yang lebih ekstrim
Saya sekitar 17 tahun hidup di Bali
Tolong jangan bertanya jalan mana yang saya hafal, karena sudah pasti akan saya jawab dengan senyum manis yang kau-sudah-tahu-maknanya
Oke. Intinya, saya jelas bukan seorang penghafal jalan yang baik
Lebih baik siksa saya dengan soal-soal matematika, fisika, atau apalah dibanding harus menghafal jalan
So, in short, please don`t ever ask me about direction, or I`ll make you lost
*devil laugh*
Kembali ke masalah panggilan interview
Sebenarnya saya bisa saja memakai cara-paling-mudah-sekaligus-paling-mahal yaitu memakai taksi
(Oke, itu adalah cara pelarian yang paling sering saya pakai ketika masih memiliki banyak uang)
Tapi mengingat kondisi saat ini, saya tidak mungkin rela mengeluarkan uang minimal seratus ribu hanya untuk naik taksi ke tempat interview
Dalam kondisi itu, mau tidak mau saya terdesak
Tidak ada orang yang mungkin bisa saya recoki untuk mengantar ke sana, mengingat jaraknya yang juga lumayan jauh
Biasanya ada pacar saya yang dengan sangat sabar dan berbaik hati menjadi penunjuk jalan sampai saya hafal dan bisa kesana sendiri dengan motor
Sama seperti ketika dulu saya sedang sibuk penelitian untuk skripsi dan harus bolak-balik ke rumah subyek
Dia menunjukkan jalan dari kos ke rumah subyek saya dengan sangat sabar dan berulang kali, bahkan sampai membuatkan denah karena dia tahu kelemahan saya menghafal jalan ini cukup akut
Tapi kondisinya saat itu tidak memungkinkan bagi saya untuk bertanya padanya
(Sudah jangan kepo dan bertanya kenapa)
Dan ternyata benarlah sebuah pepatah yang mengatakan bahwa, "You`ll never know how strong you are, untill being strong is the only option"
Saya menantang diri saya sendiri untuk mencari jalan ke Kenjeran dengan bermodalkan motor dan GPS di ponsel pintar saya
Sehari sebelum interview, saya membulatkan tekad untuk mencari jalan kesana
Sekitar pukul 1 siang, saya keluar dari kos
Memakai sarung tangan, kaos kaki, dan headset yang tersambung dengan ponsel pintar saya yang akan menyebutkan kemana saya harus mengarah
Masalah tidak selesai sampai di sana
Entah karena terlalu grogi atau apa, saya sempat nyasar dan berputar-putar tidak tentu arah
400 metres, turn left
Oke. Ada beberapa gang di sana, dan saya tidak tahu 400 meter versi GPS ini saya harus belok ke jalan yang mana
Bloody damn stupid! *tepok jidat*
(Oke. Bahkan dengan bantuan GPS saja saya masih nyasar. Now, feel free to deride me!)
Sampai di daerah Jolotundo, saya ingat itu adalah jalan menuju puskesmas tempat saya penelitian untuk skripsi
Saya mengingat-ingat jalan di daerah itu dan tentu saja dengan bantuan GPS
Akhirnya setelah melewati perempatan kapas krampung, belok kanan, saya menemukan JALAN KENJERAN!
EUREKA! EUREKA! EUREKA!
*goyang dumang*
Tinggal mencari nomor sesuai alamat perusahaan yang diberikan kepada saya
Tidak sulit. Sekitar 500 meter kemudian (ahelah. Kek lo tau aje fan 500 meter semana) saya menemukan alamat yang dimaksud
Persis seperti di SMS
Saya tersenyum puas
Bangga dengan keberhasilan menemukan tempatnya *rapihin pasmina*
Untuk menemukan jalan pulang juga tidak sesulit yang saya bayangkan
Saya hanya tinggal mengambil jalan yang berlawanan, dan saya juga mulai mengingat jalan-jalan di daerah sana tempat saya melakukan penelitian dulu
Saya berhasil kembali ke kos dengan selamat dan menghafal jalan ke Kenjeran hanya dengan 1x percobaan (abaikan momen nyasarnya, please)
Saya mengingat kalimat Mas Setya di suatu siang, "Tidak ada yang namanya tersasar. Tidak ada yang namanya jalan buntu. Yang ada hanyalah putar balik dan mencari jalan lain", dan saya sudah membuktikannya
Yes, I had succesfully beaten my own fear of being lost!
Kondisi itu memaksa saya untuk keluar dari zona nyaman dan melewati ketakutan saya sendiri
Ketakutan saya akan tersasar
"Yaelah. Kalo nyasar juga masih di Surabaya aja, fan", berulang kali saya ucapkan sebagai mantra penguat untuk diri saya sendiri
Saya sadar
Selama ini saya terlindungi oleh zona nyaman saya
Pacar yang tahu hampir seluruh jalan dan bersedia mengantar saya kemana saja
Taksi yang akan mengantar saya ke tempat tujuan tanpa saya perlu repot-repot bertanya jalan dan takut tersesat
Teman yang bersedia ditebengin ketika saya membutuhkan
Semuanya menjadi alasan bagi saya untuk bersetia di zona nyaman saya
Tapi tidak untuk kali ini
The limitation that we have is the only limitation of our mind
Pikiran kita sendirilah yang seringkali menjadi musuh terbesar untuk sebuah kemajuan
Pikiran kita sendirilah yang seringkali menjadi penjara bagi kemauan untuk menerima tantangan baru
Dan di hari itu, saya sukses melampaui batas pikiran saya sendiri
Saya sukses melawan musuh terbesar: ketakutan !
Selamat berjuang melawan ketakutan-ketakutan lain, fan !
=)
Ps: keesokan harinya, saya berangkat ke sana dengan waktu yang agak mepet karena terlambat bangun. And guess what? Saya berhasil tiba tepat waktu, tanpa tersasar. Saya hafal jalan ke sana =)
Comments
Post a Comment