Sudah sekitar 2,5 bulan saya menikmati hidup dengan tidak bekerja
Hehehe, sudah jangan ditanya bagaimana rasanya
=)
Tapi ada 2 hal yang akhir-akhir ini cukup "menampar" saya
Hidup itu seperti roda
Kadang di atas, kadang di bawah, tidak terduga
Sudah beberapa kali saya menghadiri job fair
Moment awal tahun yang biasanya dibarengi dengan kelulusan memang menjadi bulan job fair
Kesempatan besar bagi perusahaan untuk menjaring lulusan baru
Pikiran saya kembali melayang ke momen dimana saya lah yang mewakili pihak perusahaan untuk menjadi peserta job fair
Saya berdiri di salah satu booth dengan papan bertuliskan nama perusahaan
Sibuk menjelaskan mengenai posisi yang ditawarkan dan visi misi perusahaan
Menerima ratusan lamaran
Melihat wajah-wajah pencari kerja yang kelelahan namun penuh harap
Dan kemarin, saya datang ke job fair
Bukan sebagai perusahaan pemberi kerja
Tapi sebagai pencari kerja
Giliran saya yang bertanya masalah persyaratan, penempatan, dan berbagai hal lain
Tuhan memang luar biasa
Pantaslah Dia membenci orang yang sombong dan melarang keras kita membanggakan segala yang kita miliki dengan berlebihan
Karena segala sesuatu hanya titipan
Yang berhak Dia ambil kembali kapan pun
Kemarin ketika hadir di Job Fair di Jatim Expo, saya cukup terkejut mendapati sebuah booth yang tidak lain adalah perusahaan pertama tempat saya bekerja
Sebuah booth dengan spanduk dan banner besar berwarna kuning sesuai ciri khas perusahaan, bertuliskan "Kredit Plus"
Saya melihat mantan rekan kerja yang sekarang menggantikan posisi saya
Dan juga 2 orang staff, yang dulunya adalah anak buah saya
Dulu saya yang merekrut dan mengajarkan banyak hal
Lalu tiba-tiba saya dan mereka bertemu di Job Fair dengan kondisi yang berbeda
Mereka mewakili perusahaan pemberi kerja, saya pencari kerja
Tuhan memang terkadang lucu, kan?
=)
Hal lain yang cukup menggelitik saya adalah perubahan pandangan saya mengenai uang
Dulu, saya Alhamdulillah tidak merasa kekurangan
Tidak pernah terpikirkan oleh saya, betapa berharganya uang bahkan seratus rupiah
Dulu, seratus rupiah hanya menjadi penggenap ketika saya malas mendapat kembalian receh
Misalnya saya berbelanja di Indomaret dengan total 17.300 rupiah dan saya bayar dengan uang pecahan 20 ribu rupiah
Daripada mendapat kembalian 2.700 yang pasti berbentuk receh, saya memilih membayar dengan uang 20.300 agar kembalinya genap 3 ribu rupiah
Iya, saya malah menyimpan uang receh di dompet
Tapi sejak tidak bekerja dan saya menyadari bahwa uang tabungan saya terus berkurang tanpa ada pemasukan, saya seolah tertampar dan sadar bahwa saya harus berubah
Kalau saya membeli telur di Indomaret, sebutir seharga 1.700
Sementara kalau saya membeli di warung klontong, seperempat kilo (berisi sekitar 4-5 butir) harganya hanya berkisar 4.800 rupiah
Kalau dulu saya biasa membeli brokoli di hypermart dengan kisaran harga 6-8 ribu untuk sebongkol, sekarang saya lebih memilih membeli brokoli di warung dekat kos dengan harga 5 ribu rupiah untuk dua bongkol
Dan komentar mengenai penghematan ini datang paling sadis dari pacar saya,
"Dari kemarin kemana aja neng?"
Sambil tertawa iseng
Dulu membeli air mineral sebotol kecil di XXI yang-harganya-tidak-rasional tidak menjadi masalah
Sementara sekarang untuk membeli cemilan favorit saya harus berpikir dua kali
Setidaknya sekarang saya berjanji kepada diri sendiri
Jika nanti saya sudah bekerja lagi
Tidak boleh ada toleransi untuk masalah uang yang disisihkan
Karena jika sewaktu-waktu saya kehilangan pekerjaan
Masih ada uang untuk bertahan hidup yang bisa diandalkan
Mungkin ini teguran keras untuk si boros yang suka meremehkan
Agar belajar menghargai uang sesedikit apapun
=)
Comments
Post a Comment