Skip to main content

Demi Yang Terbaik

Beberapa minggu lalu, ketika sedang sibuk mengerjakan report di kantor
Saya menerima sebuah telepon
Saya tau itu nomor siapa
Istri salah seorang staff di kantor
Awalnya saya malas mengangkat telepon itu, mengingat tumpukan report di meja saya masih terlalu banyak
Tapi, entah mengapa akhirnya saya jawab juga panggilan itu

"Assalamualaikum, mbak fanny. Maaf mengganggu mbak. Lagi sibuk nggak?"
Dari kalimat pembuka percakapan tersebut, saya langsung sadar
Dia yang menelepon saya, sedang berusaha keras menahan tangis

Saya langsung naik ke ruang meeting di lantai 4
Tempat yang sepi dan aman untuk mengobrol

Dan pembicaraan kami sore itu, cukup membuat saya kehabisan kata-kata dan tercengang
"Suami saya punya hubungan dengan salah satu staff di kantor mbak..."
Oke, none of my concern.
Even if I`m a Human Resource staff, I don`t know which one of my staffs has an affair !

Tidak perlu waktu lama untuk membuat saya ternganga dan beristighfar dalam hati
Pernikahan mereka sudah berjalan selama kurang lebih 5 tahun
Mereka memiliki dua orang anak, dan anak yang kecil sedang dalam kondisi sakit-sakitan
Dalam kondisi seperti itu, ia harus dihadapkan pada kenyataan bahwa suaminya dekat dengan wanita lain
Bahkan sejak ia mengetahui kasus tersebut, suaminya semakin jarang pulang ke rumah

Masih banyak lagi detil permasalahan yang ia ceritakan pada saya
Tidak perlu lah, saya ceritakan dengan gamblang disini

Well, saya bingung bagaimana menceritakan perasaan saya ketika itu
Kaget? Pasti
Bagaimana tidak. Suami ibu itu adalah salah satu staff di kantor yang sangat saya acungi jempol loyalitasnya kepada perusahaan
Orang yang terlihat sangat bertanggungjawab di kantor, bagaimana bisa bertindak seperti itu kepada keluarganya sendiri?

Kesal. Jengah. Sedih. Marah. Bingung. Sedih.
Semuanya bercampur menjadi satu tanpa ampun
Sempat hampir menitikkan air mata mendengar cerita dari Ibu itu
Tapi saya tahan, supaya tidak menambah kesedihannya

Dan kejadian itu, membuat saya berpikir tentang banyak hal

Saya kembali kepada sebuah kesimpulan awal yang cukup sederhana,
Allah itu Maha Membolak-balikkan hati

Mungkin itulah alasannya mengapa Allah menyuruh kita untuk tidak menyukai dan membenci sesuatu secara berlebihan
Karena kita mungkin tidak mengetahui mana yang terbaik bagi kita

Dalam kasus semacam ini, saya kembali menjadi skeptis
Jadi, kata setia dan komitmen itu tidak lebih dari sekedar kosakata?
Apa maknanya kalau suatu saat kita masih mungkin menanggalkan segala rasa dan kembali pada hakikat Sang Pencipta?

Dalam kasus seperti itu, yang paling membuat saya miris adalah kondisi kedua anak mereka
Yang besar selalu bertanya kapan ayahnya akan pulang dan menengok mereka
Sementara yang kecil harus berjuang melawan penyakitnya
Lagi-lagi, anak selalu menjadi korban dari permasalahan orang tua
:(

Banyak orang yang berkomentar kalau saya adalah wanita yang rigid dan idealis
Ya, mungkin memang benar.

"Apa lagi yang kamu tunggu untuk menikah, fan? Kamu sudah bekerja. Gajimu cukup. Usia juga sudah cukup, blablabla..."
Well, marriage is not that simple, isn`t it?

Saya selalu menjawab dengan santai,
"Kalo calon suami gue sekaya Ardi Bakrie sih gue juga mau nikah sekarang"

Sebenarnya tidak juga sih. To-do-list saya sebelum menikah masih sangat panjang.
Saya masih mau berkarir. Saya masih ingin merebut beasiswa ke luar negeri. Saya masih ingin belajar masak. Saya masih ingin mencapai posisi yang terbaik di sebuah perusahaan. Saya masih ingin menjadi kebanggan keluarga dulu.

They all says, I`m a workaholic.
Yes, I am.

Saya tidak mau membuang waktu saya dengan hal yang tidak berguna
Saya ingin bekerja keras, dan mempelajari banyak hal
Kenapa?
Bukan untuk bersenang-senang
Tapi untuk masa depan anak saya kelak

Hahaha, sounds pathetic ya?
Mungkin terdengar berlebihan karena hal itu masih jauh
Tapi dalam perjalanan hidup saya sejauh ini, sudah terlalu banyak contoh pernikahan yang tidak berhasil atau bermasalah, dan akhirnya berdampak buruk pada si anak

Saya tidak mau hanya sekedar menjadi ibu rumah tangga yang bergantung pada suami
Memang sih, suami sebagai kepala keluarga harus mampu membiayai keluarganya
Tapi, logika saya jelas melarang ketergantungan kepada suami
Bagaimana jika seandainya suami saya tiba-tiba meninggal, atau bahkan meninggalkan saya dengan tanggungan anak?
Bagaimana jika saya mempertaruhkan masa depan anak saya kepada pria yang salah?

Mungkin itu egoisme saya
Mungkin juga kekhawatiran saya yang berlebihan
Atau mungkin juga efek traumatis yang masih terpaku begitu kuat
:)

Ah, apapun itu
Intinya cuma satu
Saya mau berusaha memberikan yang terbaik untuk anak saya kelak
Saya ingin memilih ayah yang terbaik bagi mereka
Hingga sampai kapan pun juga, mereka akan bangga bercerita bahwa mereka memiliki orang tua yang luar biasa

Amin
:)

Comments