Skip to main content

Cinta Itu Sederhana

Entah sejak kapan saya menjadi begitu rigid
Bukan karena saya trauma akibat luka
Bukan juga karena saya jengah dengan retorika

Saya tidak mengenal kata sahabat
Karena bagi saya, itu adalah "grey area" yang pantang saya masuki

Saya tahu
Mungkin itu hanya sekedar istilah
Tapi istilah itu tidak jarang menjadi batas konyol yang tidak seharusnya dibuat dengan angkuhnya

Saya juga punya teman lelaki yang dekat
Agus dan Erwin contohnya
Dan entah kenapa, saya lebih suka menganggap mereka saudara
That`s why I used to call them, Brother...

Bagi saya, menjadi saudara itu jauh lebih menyenangkan
Saya menyayangi mereka dan mampu memberikan batas yang pantas
Memberi tanpa menuntut
Membiarkan rasa sayang itu tumbuh dengan subur tanpa perlu diucap, tanpa perlu berharap

Saya jengah dengan kata sahabat
Trauma? Entah.
Tapi, mungkin juga.

Somehow deep inside my heart, I assumed the term "sahabat" is a classic deflection
Surprisingly, it works !

Bukan sekali-dua kali saya menemukan teman yang mengaku berstatus sahabat, tapi akhirnya jadian
Atau yang lebih parah, sebenarnya sama-sama suka
Tapi jengah untuk mengaku karena seolah "dibatasi" kata sahabat

Saya pernah mendengar banyak kalimat tentang persahabatan itu
Ada banyak cerita tentang pernikahan yang sukses karena pasangan mereka tidak lain adalah sahabat mereka sendiri

Awalnya ada rasa iri
Entah mengapa sejenak saya juga terlena akan bayangan indahnya hubungan semacam itu

Dan kemudian saya kembali bertanya pada diri saya sendiri
"Jadi, arti sahabat itu apa? Batasnya dengan teman dan saudara itu seperti apa?"
Jangan-jangan istilah itu hanya semacam fase transisi dari rute perasaan yang standar:
suka --> kagum --> sayang --> cinta

Ah, entahlah
Saya tidak mau ambil pusing
Yang tetap bersikeras mau mempertahankan batasnya padahal sudah jelas melewati batas, yaa monggo...
Yang mau tetap tidak mempercayai sahabat seperti saya, yaa silahkan...
At least, that`s what I choose to believe
:)

Dan saya kembali pada sebuah kesimpulan sederhana
Cinta itu sederhana. Manusianya yang ribet.
Period.


Ps: Cinta juga butuh logika, kan? :P  

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi 2019: Mengurangi Benci

Saya memang tergolong orang yang selalu memiliki rencana atau target. Kalau ibarat sebuah permainan, setelah melewati level 1 maka saya akan berlanjut ke level 2, begitu seterusnya hingga permainan tersebut berakhir. Bicara tentang pergantian tahun, orang seringkali mengaitkan itu dengan resolusi. Sebagian besar orang akan memposting di sosial media apa saja resolusinya di tahun baru, yang kemudian akan di-amin-i oleh rekan yang membaca postingan tersebut. Saya? Percaya atau tidak, saya justru jarang memposting tentang resolusi. Hal itu bukan karena saya tidak memiliki resolusi. Bisa dibilang, ada dua alasan. Pertama, resolusi bagi saya adalah suatu hal yang pribadi. Sebut saja, sebuah janji kepada diri saya sendiri yang tidak perlu mendapat legitimasi. Kedua, resolusi saya seringkali berubah sewaktu-waktu (maha benar libra dengan segala kelabilannya wkwkwkwkwk). Tahun 2018 kemarin sejujurnya bukan tahun yang mudah bagi saya. Mungkin jika harus membuat perbandingan, porsi sed...

(NOT) AN INSTANT JUDGMENT

Saya sudah menggeluti bidang sumber daya manusia selama sekitar 7 tahun. Sebuah rentang waktu yang cukup lama untuk bertemu dengan orang dari berbagai latar belakang dan karakter. Seluruh perusahaan tempat saya bekerja menaruh tugas rekrutmen sebagai salah satu indikator pencapaian. Tidak heran, saya cukup familiar dengan metode interview dan juga beberapa alat tes, terutama tes kepribadian. Saya pribadi termasuk golongan orang yang percaya akan pengaruh faktor kepribadian dalam keberhasilan seseorang. Oleh karena itu, biasanya saat pelaksanaan psikotes akan lebih banyak digunakan tes kepribadian dibandingkan kecerdasan. Meskipun saya seorang sarjana psikologi, saya tidak sembarangan memberikan analisa atau interpretasi dari alat tes. Terutama jika alat tesnya adalah alat tes proyeksi, seperti misalnya tes grafis menggambar pohon, manusia. Ketika menempuh pendidikan strata 1 selama 3.5 tahun memang saya pernah mempelajari alat tes tersebut. Tapi sesuai dengan kode etik psikologi,...

Dieu

Allah Beri aku kekuatan untuk percaya Bahwa rencana-Mu pasti luar biasa Allah Aku tahu bahwa Engkau menggenggam hatiku Jangan biarkan hatiku jatuh pada yang tidak mencintai-Mu Allah Aku percaya bahwa Engkau mampu membolak-balikkan hatiku Maka jangan biarkan aku tenggelam dalam pilu Allah Jangan biarkan aku menyesapi kesedihan yang berlebihan Ajari aku merasa cukup dengan cinta-Mu saja Agar aku percaya bahwa tiada kehilangan melainkan akan Engkau ganti dengan yang lebih bermakna Allah, aku pasrah