"Lo tuh orang paling ajaib yang gue kenal. Lo cewek paling sombong dan angkuh yang gue tau. Lo seringkali ga mau ngaku kalo lo emang lagi terpuruk. Lo terlalu gengsi untuk membagi air mata lo ke orang lain. Lo terlalu tinggi hati buat mengakui kalo lo sebenarnya lagi sedih dan butuh seseorang. Lo munafik, fan. Lo berakting seolah hidup lo fine-fine aja. Lo tebar senyum kanan-kiri, lo berbagi keceriaan ke semua orang. Padahal sebenernya, lo pengen mereka tau kalo lo lagi butuh dukungan. Lo cewek smart fan, gue akuin itu. Lo bisa baca karakter orang dengan berbagai cara. Lo bisa ngelakuin banyak hal, sendiri. Lo jago ngasih advice ke permasalahan orang lain. You really know how to make them adoring you. Tapi lo lupa, lo juga punya titik terendah, fan. Akui itu. Akui kalo lo lagi sedih. Stop saying, "I'm okay. I'll be fine. I'm strong enough to fix this broken things". Entah apa yang bikin lo jadi sebegini keras kepala, fan. Bahkan ke cowok lo sendiri aja, lo masih bikin barrier. Lo nggak pernah bener-bener terbuka sama dia. Dan gue hampir seratus persen yakin fan, nggak ada orang yang bener-bener kenal lo. Tau detil apa yang lo rasain saat ini. Karena selalu ada jarak yang lo buat. Lo memilih untuk nggak terlalu deket sama siapapun, supaya lo nggak disakitin lagi. Semua mantan lo aja bilang, lo adalah pacar mereka yang paling tertutup. Gue capek ngingetin lo fan. Lo berbagi begitu banyak kebahagiaan buat orang lain. Tapi lo ga pernah ngebiarin orang lain bener-bener masuk ke hidup lo dan melihat kesedihan lo. Kenapa? Karena harga diri lo yang selangit? Gue cuma pengen lo sadar, keberanian mengakui kelemahan lo itu juga merupakan sebuah kekuatan. Lo pantes bahagia, fan...."
Sepenggal percakapan dengan seorang teman, di sepertiga malam menjelang Tahajud
Comments
Post a Comment