Skip to main content

Sepenggal Percakapan

"Lo tuh orang paling ajaib yang gue kenal. Lo cewek paling sombong dan angkuh yang gue tau. Lo seringkali ga mau ngaku kalo lo emang lagi terpuruk. Lo terlalu gengsi untuk membagi air mata lo ke orang lain. Lo terlalu tinggi hati buat mengakui kalo lo sebenarnya lagi sedih dan butuh seseorang. Lo munafik, fan. Lo berakting seolah hidup lo fine-fine aja. Lo tebar senyum kanan-kiri, lo berbagi keceriaan ke semua orang. Padahal sebenernya, lo pengen mereka tau kalo lo lagi butuh dukungan. Lo cewek smart fan, gue akuin itu. Lo bisa baca karakter orang dengan berbagai cara. Lo bisa ngelakuin banyak hal, sendiri. Lo jago ngasih advice ke permasalahan orang lain. You really know how to make them adoring you. Tapi lo lupa, lo juga punya titik terendah, fan. Akui itu. Akui kalo lo lagi sedih. Stop saying, "I'm okay. I'll be fine. I'm strong enough to fix this broken things". Entah apa yang bikin lo jadi sebegini keras kepala, fan. Bahkan ke cowok lo sendiri aja, lo masih bikin barrier. Lo nggak pernah bener-bener terbuka sama dia. Dan gue hampir seratus persen yakin fan, nggak ada orang yang bener-bener kenal lo. Tau detil apa yang lo rasain saat ini. Karena selalu ada jarak yang lo buat. Lo memilih untuk nggak terlalu deket sama siapapun, supaya lo nggak disakitin lagi. Semua mantan lo aja bilang, lo adalah pacar mereka yang paling tertutup. Gue capek ngingetin lo fan. Lo berbagi begitu banyak kebahagiaan buat orang lain. Tapi lo ga pernah ngebiarin orang lain bener-bener masuk ke hidup lo dan melihat kesedihan lo. Kenapa? Karena harga diri lo yang selangit? Gue cuma pengen lo sadar, keberanian mengakui kelemahan lo itu juga merupakan sebuah kekuatan. Lo pantes bahagia, fan...."


Sepenggal percakapan dengan seorang teman, di sepertiga malam menjelang Tahajud

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi 2019: Mengurangi Benci

Saya memang tergolong orang yang selalu memiliki rencana atau target. Kalau ibarat sebuah permainan, setelah melewati level 1 maka saya akan berlanjut ke level 2, begitu seterusnya hingga permainan tersebut berakhir. Bicara tentang pergantian tahun, orang seringkali mengaitkan itu dengan resolusi. Sebagian besar orang akan memposting di sosial media apa saja resolusinya di tahun baru, yang kemudian akan di-amin-i oleh rekan yang membaca postingan tersebut. Saya? Percaya atau tidak, saya justru jarang memposting tentang resolusi. Hal itu bukan karena saya tidak memiliki resolusi. Bisa dibilang, ada dua alasan. Pertama, resolusi bagi saya adalah suatu hal yang pribadi. Sebut saja, sebuah janji kepada diri saya sendiri yang tidak perlu mendapat legitimasi. Kedua, resolusi saya seringkali berubah sewaktu-waktu (maha benar libra dengan segala kelabilannya wkwkwkwkwk). Tahun 2018 kemarin sejujurnya bukan tahun yang mudah bagi saya. Mungkin jika harus membuat perbandingan, porsi sed...

(NOT) AN INSTANT JUDGMENT

Saya sudah menggeluti bidang sumber daya manusia selama sekitar 7 tahun. Sebuah rentang waktu yang cukup lama untuk bertemu dengan orang dari berbagai latar belakang dan karakter. Seluruh perusahaan tempat saya bekerja menaruh tugas rekrutmen sebagai salah satu indikator pencapaian. Tidak heran, saya cukup familiar dengan metode interview dan juga beberapa alat tes, terutama tes kepribadian. Saya pribadi termasuk golongan orang yang percaya akan pengaruh faktor kepribadian dalam keberhasilan seseorang. Oleh karena itu, biasanya saat pelaksanaan psikotes akan lebih banyak digunakan tes kepribadian dibandingkan kecerdasan. Meskipun saya seorang sarjana psikologi, saya tidak sembarangan memberikan analisa atau interpretasi dari alat tes. Terutama jika alat tesnya adalah alat tes proyeksi, seperti misalnya tes grafis menggambar pohon, manusia. Ketika menempuh pendidikan strata 1 selama 3.5 tahun memang saya pernah mempelajari alat tes tersebut. Tapi sesuai dengan kode etik psikologi,...

Dieu

Allah Beri aku kekuatan untuk percaya Bahwa rencana-Mu pasti luar biasa Allah Aku tahu bahwa Engkau menggenggam hatiku Jangan biarkan hatiku jatuh pada yang tidak mencintai-Mu Allah Aku percaya bahwa Engkau mampu membolak-balikkan hatiku Maka jangan biarkan aku tenggelam dalam pilu Allah Jangan biarkan aku menyesapi kesedihan yang berlebihan Ajari aku merasa cukup dengan cinta-Mu saja Agar aku percaya bahwa tiada kehilangan melainkan akan Engkau ganti dengan yang lebih bermakna Allah, aku pasrah