Skip to main content

Hidup Butuh Jeda

Semalam saya pulang kantor sekitar pukul 7 malam
Mendadak Indra mengabarkan kalau film yang ingin kami tonton di bioskop itu tayang pukul setengah delapan
Kalau saya memilih pulang naik angkot, sudah pasti telat
Perjalanan dari kantor ke TP bisa memakan waktu sekitar 45 menit, belum lagi ditambah dengan waktu yang saya habiskan untuk menunggu angkotnya
Total bisa lebih dari 1 jam
Kesimpulannya, saya harus naik taksi

Baiklah.
Lucky me, beberapa menit kemudian muncul taksi biru di pinggir jalan
Saya langsung naik dan menyebutkan tujuan saya

Seperti biasa, arah jalur HR Muhammad - Mayjend Sungkono selalu macet
Oh, kemacetan semacam itu saja sudah cukup membuat saya stres
Entah bagaimana nasib otak saya kalau harus tinggal di Jakarta yang macetnya lebih gila dan tidak manusiawi

Supir taksi yang sudah cukup tua itu mulai membuka percakapan
Dimulai dari menanyakan asal, tempat kerja, dan lain-lain
Kemudian, ia bercerita mengenai pengalamannya hari itu
Ia tadi sempat mengantarkan seorang penumpang dari daerah PTC
Karena jalanan begitu macet, penumpang tersebut memutuskan untuk turun di tengah jalan dan meminta anak buahnya untuk menjemput menggunakan motor

Awalnya penumpang itu merasa sungkan kepada Bapak Supir taksi karena tidak turun di tempat tujuan yang disepakati di awal
Namun supir taksi itu menjawab dengan santai,
"Ya nggak papa, Pak. Monggo kalo mau turun disini. Biar saya aja yang tinggal menikmati macetnya."

"Lha wong kerjaannya memang di jalan, nyari rejeki di jalan, ya nggak boleh ngeluh Mbak. Tadi saya juga sempet stres karena macet ini, sampe kepala pusing. Terus akhirnya saya berhenti di jalan, beli minum."

"Kalo capek, ya berhenti dulu Mbak. Jangan dilanjutin."

Seketika, saya malu
Saya malu karena kurang bersyukur atas apa yang saya dapatkan
Saya malu karena selalu mengeluh

Hidup juga butuh jeda,
Tidak harus selalu berlari kencang
Tanpa sebuah tanda titik dan koma, kumpulan huruf tidak akan bermakna apa-apa bukan?
Mengapa? Karena hakikinya kita butuh jeda
Satu titik dimana kita mengakui kelemahan kita yang sangat manusiawi
Satu titik dimana kita merasa lelah dan butuh istirahat
Tapi bukan berhenti

Hidup tidak melulu soal pekerjaan
Hidup tidak melulu perkara tanggung jawab di kantor
Itulah alasan mengapa saya mendelete seluruh Manager dari list contact BBM saya, dan sengaja tidak mengaktifkan BBM untuk beberapa hari

Dan ternyata, hidup jauh terasa lebih nyaman dan tenang tanpa BBM dan email kantor yang tersinkronisasi di smartphone milik saya
Mengutip kalimat Mbak Yani,
"Everything related to work, do it at the work time"

Ah, baiklah.
Stop babbling.
Saya rasa ini waktunya saya mencari jeda dalam hidup saya lagi
:)

Comments