Skip to main content

Emosi Negatif

Dan pagi ini, mendadak saya teringat dengan sebuah percakapan saya bersama abang via BBM

Entah kenapa tiba-tiba dia mengirim BBM seperti itu

"Yuk, kita cari kerjaan di tempat lain yuk. Kerja dimanapun, asal aku bisa lihat kamu senyum dan mengembangkan semua potensimu. Bukan tertekan seperti ini."

Kurang lebih seperti itu isi BBMnya
Saya terhenyak
Tersadar bahwa di masa-masa itu, saya merasa sangat  tertekan dengan segala rutinitas kantor dan tanggung jawab yang dilimpahkan ke saya

Efeknya fatal
Saya jarang tersenyum
Mudah mengamuk
Tidak peduli dengan lingkungan sekitar
What a mess !

Dan kemudian, saya teringat lagi dengan nasihat sederhana dari Mas Nobo
Ketika itu kami sama-sama menjadi Konseptor di acara Ospek kampus
Saya yang sedang bad mood dan kelelahan sama sekali tidak tersenyum ketika yang lain bercanda
Tidak terlihat bersemangat

Kemudian Mas Nobo berkata,
"Emosi negatif itu sangat mudah menular lho. Kalo kamu bete dan mukanya kusut gitu, orang lain di sekitarmu juga ikutan jadi bete. Akhirnya suasana jadi nggak enak"

Setelah dipikir-pikir, apa yang dibilang Mas Nobo itu sangat tepat
Emosi negatif akan sangat mudah menular
Siapa sih yang senang melihat orang manyun dan cemberut
:)

Untuk persoalan yang satu ini, rasanya masih menjadi tantangan besar bagi saya
Menyinggung soal wajah yang cemberut, saya jadi teringat percakapan saya dengan Inda beberapa tahun lalu
"Wajah jutek ngene iki wis settingan default rek. Gak isok diubah maneh"
Kalimat itu disampaikan dengan haha-hihi saat kami berdua membahas tentang komentar orang lain yang mengatakan kalau saya jutek

Jutek. Sombong. Angkuh. Galak.
Itu penilaian awal yang sangat sering saya dapat dari orang lain
Saya sudah tidak akan heran apalagi kaget

Mungkin ketika dulu saya masih kuliah
Saya berhadapan dengan orang-orang Psikologi yang cukup peka
Maksud saya, mereka bisa dengan mudah mengenali perubahan suasana hati saya
Mereka juga akan dengan mudah bertoleransi dengan fluktuasi suasana hati saya
They completely know how mess I could be

Tapi dalam suasana kerja, kondisi semacam itu jelas tidak akan mendapat toleransi
Mau sebete apapun saya ketika itu
Mau secapek apapun saya ketika itu
Kerja ya kerja
Waktunya interview ya interview

Dulu rasanya semua perasaan itu masih bisa saya kontrol
Saya masih bisa mengedepankan logika dan fokus pada setiap pekerjaan yang harus saya jalani
Namun akhir-akhir ini, entahlah
Pagi hari sebelum berangkat kerja menjadi moment yang sangat ingin saya hindari
Dan moment ketika pulang kerja menjadi satu hal yang paling dinanti

2 bulan terakhir, saya selalu lembur
Bahkan ketika bulan puasa, saya selalu pulang di atas jam 8 malam
Namun sekarang, saya tidak mau lagi
Paling lambat jam setengah 7 saya sudah harus pulang
Everything related to work, do it at the work time
This is my job, not my entire life

Dua hari lalu saya kaget mendapat komentar dari Pak Arsad
Meja kami hanya berjarak sekitar 3 meter, dan kami sering lembur bersama

"Mbak fanny kenapa? Kok mukanya kusut banget. Kayak lagi banyak beban kerjaan"
Saya hanya bisa nyengir
"Iya Pak. Lagi banyak deadline proyek nih"
Dan sebenarnya hari itu memang ada banyak hal yang sangat membuat saya stres
Tidak hanya detil pekerjaan yang harus saya lakukan
Tapi  juga tekanan dari Departemen Collection di bawah Adnan Sahprie yang terhormat
Oh, damn you are

Butuh usaha ekstra untuk menetralkan kondisi tidak menyenangkan itu
Saya tersadar, suasana hati saya yang sedang sangat kacau itu terbaca jelas oleh semua orang
And it could be clearly seen, I didn`t enjoy my job anymore
Not because the job itself
But because the people around me

I lost respect to my boss
I hate Adnan Sahprie
I hate Elham who talked to me like I`m the only one to blame
I hate those managers who never respect the rule

What-so-ever

Allah,
Tolong beri saya kekuatan untuk bertahan sedikit lagi
Tolong beri saya kesabaran
Tolong jauhkan saya dari emosi negatif itu
Tolong jangan biarkan juga saya menjadi penyebar emosi negatif di kantor

Kuatkan aku, Ya Rabb
:)

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi 2019: Mengurangi Benci

Saya memang tergolong orang yang selalu memiliki rencana atau target. Kalau ibarat sebuah permainan, setelah melewati level 1 maka saya akan berlanjut ke level 2, begitu seterusnya hingga permainan tersebut berakhir. Bicara tentang pergantian tahun, orang seringkali mengaitkan itu dengan resolusi. Sebagian besar orang akan memposting di sosial media apa saja resolusinya di tahun baru, yang kemudian akan di-amin-i oleh rekan yang membaca postingan tersebut. Saya? Percaya atau tidak, saya justru jarang memposting tentang resolusi. Hal itu bukan karena saya tidak memiliki resolusi. Bisa dibilang, ada dua alasan. Pertama, resolusi bagi saya adalah suatu hal yang pribadi. Sebut saja, sebuah janji kepada diri saya sendiri yang tidak perlu mendapat legitimasi. Kedua, resolusi saya seringkali berubah sewaktu-waktu (maha benar libra dengan segala kelabilannya wkwkwkwkwk). Tahun 2018 kemarin sejujurnya bukan tahun yang mudah bagi saya. Mungkin jika harus membuat perbandingan, porsi sed...

(NOT) AN INSTANT JUDGMENT

Saya sudah menggeluti bidang sumber daya manusia selama sekitar 7 tahun. Sebuah rentang waktu yang cukup lama untuk bertemu dengan orang dari berbagai latar belakang dan karakter. Seluruh perusahaan tempat saya bekerja menaruh tugas rekrutmen sebagai salah satu indikator pencapaian. Tidak heran, saya cukup familiar dengan metode interview dan juga beberapa alat tes, terutama tes kepribadian. Saya pribadi termasuk golongan orang yang percaya akan pengaruh faktor kepribadian dalam keberhasilan seseorang. Oleh karena itu, biasanya saat pelaksanaan psikotes akan lebih banyak digunakan tes kepribadian dibandingkan kecerdasan. Meskipun saya seorang sarjana psikologi, saya tidak sembarangan memberikan analisa atau interpretasi dari alat tes. Terutama jika alat tesnya adalah alat tes proyeksi, seperti misalnya tes grafis menggambar pohon, manusia. Ketika menempuh pendidikan strata 1 selama 3.5 tahun memang saya pernah mempelajari alat tes tersebut. Tapi sesuai dengan kode etik psikologi,...

Dieu

Allah Beri aku kekuatan untuk percaya Bahwa rencana-Mu pasti luar biasa Allah Aku tahu bahwa Engkau menggenggam hatiku Jangan biarkan hatiku jatuh pada yang tidak mencintai-Mu Allah Aku percaya bahwa Engkau mampu membolak-balikkan hatiku Maka jangan biarkan aku tenggelam dalam pilu Allah Jangan biarkan aku menyesapi kesedihan yang berlebihan Ajari aku merasa cukup dengan cinta-Mu saja Agar aku percaya bahwa tiada kehilangan melainkan akan Engkau ganti dengan yang lebih bermakna Allah, aku pasrah