Harus diakui, socmed seperti Facebook dan Twitter memang menjadi gaya hidup
Saya sendiri jujur merasa aneh kalau sehari tidak mengecek dua socmed tersebut
Yaa walaupun tidak mengupdate atau posting sesuatu, setidaknya menjadi pengamat pasif
Apalagi dengan smartphone yang saya miliki, saya bisa setiap saat mengakses kedua situs tersebut asalkan sinyal tidak galau
Kalau ada pendapat yang mengatakan bahwa seseorang bisa dinilai dari tweet atau statusnya, IMHO saya setuju !
Kenapa?
Setiap perilaku kita adalah buah dari pemikiran
Dan pemikiran tersebut, secara sederhana bisa diungkapkan dalam tweet atau status
Ada pepatah yang mengatakan:
Jika ingin mengetahui siapa dirimu, maka bertindaklah. Seseorang dibentuk dari kebiasaannya.
Saya punya teman yang sangat suka meretweet setiap tweet bermanfaat dari ustad favoritnya
Belum pernah saya tahu dia mengeluh di socmed
Kalaupun dia "berkeluh kesah", disajikannya dalam bentuk kalimat sederhana yang tidak mendramatisir dan juga ditautkan dengan agama
Saya rasa bagi setiap manusia yang bijak dan berakal, akan mudah membedakan mana tweet yang sengaja menuliskan masalah agama hanya sekedar untuk pencitraan dan mana yang memang menjadikan agama tersebut sebagai tuntunannya
#sahih
Ada juga teman saya yang sangat hobi melakukan pencitraan publik
Frekuensi tweetnya sih memang tidak sering
Tapi sekalinya ngetweet, seolah seluruh dunia harus tau "lovely-simple-but-sophisticated-and-of course-educated-things-she-did"
Sedang mengikuti seminar blablabla. Sedang membaca buku blablabla. Mulai memahami teori A, B, C, blablabla. Sedang belajar ini blablabla. Sedang berdiskusi tentang blablabla bersama blablabla.
Nggg, oke.
Koleksi buku di lemarimu nggak sekalian mau dibahas mbak?
#kemudianhening
Pernah juga saya menemukan yang lebih "unik"
Menceritakan dengan detil kegiatan sosial yang dia lakukan, termasuk jumlah sumbangan yang dia berikan secara GAMBLANG
Oke, mari kita lihat dari sisi positifnya ya
Mungkin dia ingin agar orang lain juga melakukan tindakan positif semacam itu
Saya sangat setuju loh sebenarnya
Asalkan niat baik tersebut tidak ternodai oleh sifat pamer dan riya`
Untuk apa orang lain tahu nominal rupiah yang berhasil kamu kumpulkan?
Bukannya jika tangan kanan memberi, tangan kiri jangan sampai tahu? Apalagi publik? Dan pemberiannya difoto pula, diupload di socmed! Catet ya, DIUPLOAD!
#sengajacapslock
#tepokjidat
#miapah
Kemudian, tipe terakhir yang menurut saya paling konyol dan paling layak untuk diunfollow, diunfriend, bahkan diblock
Tipe ini saya namakan pasangan alay
Spesies tidak langka dan tidak perlu dilestarikan
Saya jadi teringat dengan kultwit dari seorang teman saya tentang pasangan semacam ini
Spesies pasangan ini sangat suka sekali mempublikasikan kemesraan di Socmed
Ngucapin selamat pagi, siang, sore, malem di socmed
Mengumbar kata-kata sayang di Socmed
Janjian via socmed
Update sedang kencan dimana via socmed
Daaannn yang lebih fantastis ... taraaaaa... berantem di socmed
#jengjeng
Mbak, Mas.
Ini sudah tahun 2012 yaa. Teknologi makin canggih luar binasa.
Situ kenal yang namanya SMS, BBM, YM, whatsapp, Line, dan sebangsanya nggak?
Nggak tau? Kasian !
Tau, tapi teteup berantem di Socmed? Norak !
Lantas, dimana letak keintiman dan keistimewaan dari hubunganmu kalau setiap detil yang tidak penting kamu umbar di Socmed?
Terus gue harus bilang W.O.W. gitu baca pertengkaran kalian?
#Ohmen
Wajar sih. Mental selebriti gagal kali yaa.
Hobi bikin sensasi. Bangga dengan cibiran kanan-kiri.
Atau mungkin mengutip kultwit dari teman saya,
Kamu mau nunjukin ke semua orang gitu, kalo AKHIRNYA kamu laku?
Oh dear, you just so pathetic
Saya pernah lho 'bermasalah" dengan pasangan semacam ini
Ketika itu dengan noraknya mereka berantem di twitter
Serius, berantem ala anak SD banget
Tweet semacam itu jelas merupakan polusi mata tingkat akut
Entah kenapa, saat itu saya yang kebetulan sedang sumpek-dengan-kerjaan-dan -membuka-twitter-untuk-refreshing langsung merasa jengah dan refleks merespon dengan memposting sebuah tweet. Satu kata saja.
Norak !
Sengaja tanpa mention
Masih perlu gitu dimention, sementara orang lain sudah jelas-jelas menghujamnya dengan berbagai kritikan pedas karena norak berantem di socmed
Nggak malu?
Singkat cerita, yang cewek merasa nggak terima dengan tweet saya
Alasan dia sih simple
Dia tidak suka orang nyinyir yang tidak berani mention langsung
Kalau memang tidak suka, ya ngomong langsung
Alasan saya, lebih simple lagi sih
Level intelegensimu harusnya sudah cukup mampu memaknai kata norak itu
Bisa ditebak bagaimana kelanjutannya
Saya dan dia terlibat twitwar tanpa saling mention
Iya, konyol memang
Saya juga heran untuk apa saya meladeni orang yang level intelegensinya setara dengan ABG labil itu
Satu tweet dari dia yang membuat saya langsung geram dan rasanya ingin mencekik serta memutilasi anak itu
"Mungkin ada yang masih dendam sama salah satu dari kita ya #eh"
Itu tweet yang dia kirim kepada si alay (ga) jantan, alias kekasihnya
(tentunya setelah mereka berdamai di socmed juga ya)
Everybody knows, saya dulu memang pernah dekat dengan pacarnya itu
Itu sih dekat menurut definisi saya, ya. Bodo amat pendapat dia.
Dan ketika hubungan kami sudah cukup dekat, lhar.
Tiba-tiba dia menghilang, lalu jadian dengan teman saya sendiri.
Memang itu hak dia sih
Ketika itu, jujur memang ada rasa kecewa
Ya iyalah.
Kamu kira hati saya terbuat dari batu?
Tapi setelah beberapa waktu kemudian, saya sangat bahagia dan bersyukur bahwa saya tidak sempat menyandang status sebagai pacarnya
Tidak perlu lah saya ungkapkan secara gamblang di sini mengapa saya berpendapat demikian
Satu hal yang pasti
Saya cukup bangga bahwa orang-orang yang pernah menyandang status sebagai pacar saya adalah orang-orang luar biasa yang pantas untuk dibanggakan
Mulai secara fisik, intelegensi,attitude, dan masih banyak lagi
Ciyus, miapah gueh pernah suka sama lo?
#tepokjidat
Oh, I must be insane at that time !
Kejadian yang bisa membuat saya pernah suka dengan spesies alay semacam itu pastilah karena saya habis terbentur tembok atau batu lalu insomnia.
Eh, maksudnya amnesia.
Back to topic.
Jengah dan pias akibat tweetnya yang semakin tidak beretika, saya mengambil sebuah tindakan nekat
Iya, nekat.
Dia bilang, saya nyinyir karena hanya berani ngetwit tanpa mention
Baik, bagaimana jika saya langsung berbicara dan memakimu?
Saya menelepon dia dengan menggunakan nomor kantor
"Kamu ngerasa bermasalah sama saya? Kamu tersinggung dengan tweet saya? Kalo kamu memang tersinggung, bagus sih. Karena tweet itu memang saya tujukan untuk pertengkaran kalian yang alay di socmed"
Saya terus mencecarnya dengan pertanyaan semacam itu
Tahu, jawaban macam apa yang saya dapat?
"Lho, nggak kok mbak. Itu bukan buat mbak fanny. Itu tuh, mmm.. apaa.. maksudnya anu mbak.. Buat anak-anak itu lho. Kan banyak yang ngerasani juga"
FYI, jawaban-jawaban itu dilontarkan dengan nada suara yang agak gemetaran lho
Dan di lain waktu, saya pernah membaca tweetnya yang berisi reply kepada salah seorang temannya
"Iya lho, aku juga pernah kayak gitu. Ada orang yang geer ngerasa aku ngomongin dia di tweetku"
Dear adek labil yang alay
Bisakah kamu berhenti merendahkan intelejensimu dengan mengeluarkan alibi semacam itu?
Sebagian besar teman kamu adalah teman saya juga
Seluruh protes, sindiran, dan cacian untuk pertengkaran kalian di socmed itu juga bisa saya lacak dengan sangat mudah
Lantas, anak-anak yang mana sih yang kamu maksud?
Bahkan ketika kamu saya cecar untuk menyebutkan nama anak-anak yang kamu maksud, kamu menyebutkan nama anak-anak yang juga saya follow
Artinya, saya tahu dengan jelas apa isi kecaman mereka terhadap kekonyolanmu itu
Dan melihat responmu terhadap kecaman mereka, sangat bullshit kalau kamu katakan bahwa tweet-tweet sampahmu itu kamu tujukan untuk mereka
BIGGEST YET EASIEST TO REVEALED LIE !
Dia bilang, saya nyinyir karena tidak berani mention
Ketika saya tantang untuk menyelesaikan masalah dan mengungkapkan kebenaran, dia berkelit
Lantas, julukan yang pantas untuk kamu apa?
Pengecut atau mental cupu?
Baiklah. Itu pelajaran berharga buat saya.
Sejak itu, saya mengunfollow dan unfriend orang-orang yang menurut saya tidak cukup keren untuk muncul di timeline
Daripada menambah dosa karena mengomentari tindakan bodoh mereka, lebih baik tidak tahu apa-apa tentang mereka
Hidupmu ya urusanmu, hidupku ya urusanku
Kebodohanmu yaa deritamu
Ke-alay-an mu yaa nasibmu
Aaarrgh !
Demi apa hingga detik ini saya masih ingat dengan jelas nada suaramu yang gemetaran di telepon dan juga permintaan maafmu sekaligus pengakuan bahwa tindakan kalian memang alay
"Hidup udah ribet. Jangan tambah dibikin ribet dengan memfollow dan friend orang-orang yang tidak perlu. Unfriend. Block. Hidden from timeline. Custom setting. Ah, banyak cara kok menyelamatkan hidup dari jurang kenistaan :D
Well, selamat berbahagia dengan pasangan alay-mu ya
One thing for sure
Jangan pernah berpikir saya menyesal atau masih berharap dengan pasanganmu
Sumpah demi apapun yang bisa disumpahin
Kalian cocok. Sama-sama alay dan cemen.
Lari dan ngeles dari kenyataan
Sama-sama tidak berkutik dan menghindar ketika saya tantang untuk menyelesaikan masalah
Good luck with your alay relationship deh ya
:)
Comments
Post a Comment