Pagi ini, saya tiba di kantor sekitar pukul 07.35
Masih dengan mata setengah terpejam, saya lihat hanya ada sekitar 3 orang yang duduk di warung Pak Ri depan kantor
Ya, ketika itu pintu kantor memang belum dibuka
Saya melihat Mas Prisco, office boy di kantor berjalan ke arah pintu
Seperti biasa, saling menyapa dan saling mengejek
Dia menawarkan sebungkus gorengan yang langsung saya tolak mengingat tenggorokan saya akhir-akhir ini agak bertingkah
Dia menitipkan koran Jawa Pos yang tadi berada dalam genggamannya kepada saya
Beberapa detik kemudian, dia mengeluarkan kunci pintu kantor dari saku kemejanya
"Berangkat dari kos jam berapa Mbak? Kok pagi-pagi gini udah nyampe kantor?" tanyanya sambil membuka pintu kantor
"Seperti biasa, jam tujuh kurang," jawab saya dengan cuek sambil menguap dan membolak-balik halaman koran yang ada di tangan saya
Dia tertawa melihat tingkah laku saya
Sepersekian detik kemudian, dia melontarkan kalimat yang membuat saya serasa ingin menelan biji duren
"Hoalah Mbak, masih muda kok gajinya sudah gede. Gaji segitu udah pantes buat berumahtangga. Nggak kebelet nikah tha mbak?"
Dan koran Jawa Pos yang tadi saya pegang sukses berpindah ke wajahnya yang selalu sok lugu dan tanpa dosa itu dengan diiringi tawa bahagia
Puas lo, bikin gue speechless?
Comments
Post a Comment