Skip to main content

Speechless

Pagi ini, saya tiba di kantor sekitar pukul 07.35
Masih dengan mata setengah terpejam, saya lihat hanya ada sekitar 3 orang yang duduk di warung Pak Ri depan kantor
Ya, ketika itu pintu kantor memang belum dibuka

Saya melihat Mas Prisco, office boy di kantor berjalan ke arah pintu
Seperti biasa, saling menyapa dan saling mengejek
Dia menawarkan sebungkus gorengan yang langsung saya tolak mengingat tenggorokan saya akhir-akhir ini agak bertingkah

Dia menitipkan koran Jawa Pos yang tadi berada dalam genggamannya kepada saya
Beberapa detik kemudian, dia mengeluarkan kunci pintu kantor dari saku kemejanya

"Berangkat dari kos jam berapa Mbak? Kok pagi-pagi gini udah nyampe kantor?" tanyanya sambil membuka pintu kantor
"Seperti biasa, jam tujuh kurang," jawab saya dengan cuek sambil menguap dan membolak-balik halaman koran yang ada di tangan saya

Dia tertawa melihat tingkah laku saya
Sepersekian detik kemudian, dia melontarkan kalimat yang membuat saya serasa ingin menelan biji duren

"Hoalah Mbak, masih muda kok gajinya sudah gede. Gaji segitu udah pantes buat berumahtangga. Nggak kebelet nikah tha mbak?"

Dan koran Jawa Pos yang tadi saya pegang sukses berpindah ke wajahnya yang selalu sok lugu dan tanpa dosa itu dengan diiringi tawa bahagia
Puas lo, bikin gue speechless?

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi 2019: Mengurangi Benci

Saya memang tergolong orang yang selalu memiliki rencana atau target. Kalau ibarat sebuah permainan, setelah melewati level 1 maka saya akan berlanjut ke level 2, begitu seterusnya hingga permainan tersebut berakhir. Bicara tentang pergantian tahun, orang seringkali mengaitkan itu dengan resolusi. Sebagian besar orang akan memposting di sosial media apa saja resolusinya di tahun baru, yang kemudian akan di-amin-i oleh rekan yang membaca postingan tersebut. Saya? Percaya atau tidak, saya justru jarang memposting tentang resolusi. Hal itu bukan karena saya tidak memiliki resolusi. Bisa dibilang, ada dua alasan. Pertama, resolusi bagi saya adalah suatu hal yang pribadi. Sebut saja, sebuah janji kepada diri saya sendiri yang tidak perlu mendapat legitimasi. Kedua, resolusi saya seringkali berubah sewaktu-waktu (maha benar libra dengan segala kelabilannya wkwkwkwkwk). Tahun 2018 kemarin sejujurnya bukan tahun yang mudah bagi saya. Mungkin jika harus membuat perbandingan, porsi sed...

(NOT) AN INSTANT JUDGMENT

Saya sudah menggeluti bidang sumber daya manusia selama sekitar 7 tahun. Sebuah rentang waktu yang cukup lama untuk bertemu dengan orang dari berbagai latar belakang dan karakter. Seluruh perusahaan tempat saya bekerja menaruh tugas rekrutmen sebagai salah satu indikator pencapaian. Tidak heran, saya cukup familiar dengan metode interview dan juga beberapa alat tes, terutama tes kepribadian. Saya pribadi termasuk golongan orang yang percaya akan pengaruh faktor kepribadian dalam keberhasilan seseorang. Oleh karena itu, biasanya saat pelaksanaan psikotes akan lebih banyak digunakan tes kepribadian dibandingkan kecerdasan. Meskipun saya seorang sarjana psikologi, saya tidak sembarangan memberikan analisa atau interpretasi dari alat tes. Terutama jika alat tesnya adalah alat tes proyeksi, seperti misalnya tes grafis menggambar pohon, manusia. Ketika menempuh pendidikan strata 1 selama 3.5 tahun memang saya pernah mempelajari alat tes tersebut. Tapi sesuai dengan kode etik psikologi,...

Dieu

Allah Beri aku kekuatan untuk percaya Bahwa rencana-Mu pasti luar biasa Allah Aku tahu bahwa Engkau menggenggam hatiku Jangan biarkan hatiku jatuh pada yang tidak mencintai-Mu Allah Aku percaya bahwa Engkau mampu membolak-balikkan hatiku Maka jangan biarkan aku tenggelam dalam pilu Allah Jangan biarkan aku menyesapi kesedihan yang berlebihan Ajari aku merasa cukup dengan cinta-Mu saja Agar aku percaya bahwa tiada kehilangan melainkan akan Engkau ganti dengan yang lebih bermakna Allah, aku pasrah