Saya tercekat pada sebuah paragraf
Tulisan JFlow dalam The Journeys 3
"Cinta adalah keputusan, bukan semata perasaan. Saya yakin, si istri sering tidak nyaman dengan pembawaan si suami. Namun, keputusan untuk mencintai sang laki-laki yang dipilihnya membawa dia pada situasi bertahan dan menerima laki-laki itu apa adanya. Sebuah pelajaran berharga bagi saya".
Saya jadi teringat pada Bu Ririn, tante yang sudah saya anggap seperti Ibu sendiri dan memang saya panggil Ibu
Saya tidak ingat pasti berapa lama usia perkawinan Ibu dengan Om Iman
Kalau tidak salah, sejak saya SD
Ibu lahir di keluarga Jawa yang bisa dibilang priyayi (kalau tidak salah tulis)
Saya tahu betul bagaimana budaya di keluarga kami
Eyang yang memang keturunan Ningrat mendidik dengan tata krama yang cukup saklek
Jika bertutur harus menjaga nada bicara
Jika duduk harus sopan, tidak boleh mengangkat kaki apalagi di hadapan orang tua
Jika makan harus rapi, tidak boleh bersuara atau menimbulkan bunyi (mengecap)
Dan masih banyak lagi tata krama lainnya yang wajib dipatuhi
Sementara Om Iman, tumbuh besar dari keluarga Padang-Bali
Jelas ada perbedaan budaya yang mencolok
Dalam keluarga Om Iman tidak ada aturan-aturan semacam itu
Saya masih ingat dengan jelas
Ketika Ibu mengomeli ayah yang makan dan menimbulkan suara mengecap
Atau ketika Ibu mengomel karena ayah yang malas mandi
Atau juga ketika Ibu mengomel karena ayah yang menaruh baju kotor sembarangan
Dari situ saya semakin sadar
Iya, mencintai bukan hanya sekedar perasaan
Tapi juga sebuah keputusan untuk berkomitmen
Keputusan untuk berdamai dengan segala gap antara kita dan pasangan
Dua orang yang bersatu -meskipun memiliki banyak kesamaan- pasti akan menemukan cekcok karena hal sepele
Hal-hal yang mungkin berakar dari didikan keluarga dan kebiasaan
Hal-hal sederhana yang menimbulkan standar yang berbeda
Sejujurnya saya tidak setuju dengan ungkapan kalau cinta harus siap menerima semua kekurangannya
Tidak, bukan karena merasa saya sempurna dan tanpa cela
Setiap orang pasti memiliki kekurangan
Justru kita butuh pasangan yang akan menemukan kekurangan kita
Bukan untuk mencela, namun untuk memperbaiki atau setidaknya menutupi
Jika hal-hal sederhana yang dikeluhkan pasangan memang ada benarnya dan akan membuat kita menjadi lebih baik, kenapa tidak?
Hidup adalah perkara belajar
Belajar menjadi lebih baik
Dan karena itulah kita mencari teman belajar yang asik dan menyenangkan
Yang tidak akan lelah belajar bersama
Yang tidak akan bosan mengingatkan untuk selalu belajar
Mencintai adalah perkara bertahan pada keputusan
=)
Comments
Post a Comment