Skip to main content

The Jouneys 3: Titik Balik Pencarian

Weekend seringkali menjadi "waktu sakral" bagi saya
Kalau banyak pasangan yang menghabiskan weekend dengan berkencan, lain halnya dengan kami
Saya dan pacar justru cenderung jarang bertemu di weekend
Alasannya sederhana
Saya butuh waktu istirahat. Butuh waktu untuk diri sendiri.
Butuh waktu untuk melakukan hal-hal yang saya suka tanpa interupsi.

Di setiap akhir pekan, saya selalu punya rencana-rencana asik
Mencuci baju. Menata kamar. Belajar. Menonton film. Membaca buku.
Ah, ya. Pilihan terakhir itu yang paling sering saya lakukan di akhir pekan.

Seperti yang sudah pernah saya tuliskan, saya punya keahlian yang cukup unik
Membeli buku, dan tidak membacanya selesai
*self keplak*
Untuk mengurangi keahlian itu, saya selalu memasang target untuk buku-buku yang baru saya beli

Nah, ceritanya bulan lalu saya baru saja membeli sebuah Novel (atau kumpulan cerpen) yang berjudul The Journeys 3
Cerita yang paling ingin saya baca tentu saja cerita dari editor favorit saya, Mbak Windy Ariestanty


Novel ini bercerita tentang kumpulan perjalanan para pengarangnya
Ada yang berisi perjalanan ke kota-kota terpencil di Indonesia, maupun di luar negeri
Semua perjalanan itu, memiliki tujuan yang sama: ziarah !
Ziarah kepada diri sendiri

Setiap kita butuh titik balik
Sebuah titik balik yang akan mengantarkan kita menemukan jawaban-jawaban atas pertanyaan sederhana semacam eksistensi
Sebuah pencarian yang akan mengantarkan kita kembali pada hal sederhana semacam bahagia

Membaca buku ini sejujurnya membuat saya agak merasa tertampar
Betapa saya merasa bahwa selama ini saya "terkurung" dalam rutinitas yang itu-itu saja
Bukan berarti hidup saya membosankan
No, I live my life. Indeed.
Maksud saya, selama hampir 25 tahun ini saya belum pernah melakukan perjalanan untuk liburan atau semacamnya
Ya, tentu saja perjalanan dinas saya ke berbagai kota tidak dihitung
Kalau perjalanan dinas, semua kebutuhan saya sudah tersedia dan ditanggung perusahaan
Taksi, hotel, makan, semuanya lengkap

Dulu ketika masih kuliah, saya tidak pernah ikut ketika Rida, Kanti, Tiwi melakukan backpaking ke Jogja, Malang, dan kota lainnya
Jadwal saya selalu bentrok dengan acara backpaking mereka
Selain itu, dulunya saya berpikir bahwa uang bulanan yang saya terima lebih baik ditabung daripada digunakan untuk jalan-jalan
Maklum. Uang bulanan yang dulu saya terima jumlahnya tidak seberapa
Wajar jika saya menjadi sangat perhitungan untuk hal semacam liburan

Setiap kali melihat acara di televisi tentang perjalanan wisata atau backpaking, saya hanya bisa menarik nafas panjang dan berdoa supaya suatu saat nanti saya juga bisa kesana
Dulu bahkan saya dan pacar sempat berencana ingin sehari menghabiskan waktu di kereta
Hanya sekedar lari dari rutinitas yang membuat jenuh
Tapi toh nyatanya sampai saat ini hanya tinggal rencana
:)

Entah ini efek melihat postingan di Instagram Alyssa Soebandono atau apa
Saat ini yang terpikir oleh saya yaa saya mungkin akan melakukan backpaking untuk acara bulan madu saya nanti
Terdengar pathetic?
Mungkin. Toh saya tidak peduli

Buku The Journeys 3 ini juga menarik sebuah benang merah di setiap ceritanya
Ada clue tersembunyi
"I`m already home"

Iya, novel ini mengajak kita menemukan kembali makna rumah
Ternyata, rumah tidak selalu berarti sebuah bangunan tempat kita kembali setiap hari setelah pulang bekerja
Bukan juga secara ekstrem berarti tempat yang di surat kepemilikannya tercantum nama kita

Saya agak tercekat membaca tulisan Dina DuaRansel di novel itu
Dia dan suaminya memutuskan untuk menjual rumah mereka di Jakarta, lalu berkeliling ke luar negeri, ke manapun mereka mau
Awalnya ada ketakutan, bagaimana mungkin mereka akan menjalani hidup tanpa rumah
Mungkin konsep kekinian membuat kita berpikir bahwa rumah adalah salah satu syarat hidup normal
Tapi setelah perjalanan panjang yang dilewati bersama suaminya, dia berkata "I`m already home"
Iya, di manapun mereka berada, asalkan ia bersama suaminya, itulah rumahnya
Hatimu, rumahku :)

Rumah juga bisa berarti tempat kita menemukan kedamaian
Bahkan di negeri orang, di desa terpencil, berada bersama orang-orang yang menerima kita apa adanya juga bisa menjadi rumah

Mungkin, saya pernah beberapa kali berkata "I miss home"
Tapi sejujurnya saya ragu
Rumah mana yang saya rindu?

Saya iri dengan Mbak Windy yang bisa merasakan suasana Nyepi di Ubud, dan merasakan kedamaian
Saya yang lahir dan besar di Bali selama hampir 17 tahun saja belum pernah merasakan kedamaian semacam itu (seingat saya)
Dan lagi-lagi, saya tertampar dengan refleksi sederhana dari Mbak Windy
Bahagia adalah perkara berkenalan dengan kata cukup
Tidak kurang, tidak juga berlebihan
Itulah bahagia
Itulah cinta

Saya tidak tahu masa depan saya nanti akan seperti apa
Mungkin, saya akan menemukan rumah di  sebuah kota kecil yang tidak pernah saya bayangkan
Atau mungkin, seperti Dina DuaRansel, saya akan (merasa) menemukan rumah di manapun saya berada bersama suami saya kelak

Baiklah
Mungkin saya harus menantang diri saya
Memasukkan backpaking ke dalam to-do-list sebelum menikah
Siapa tahu, saya akan menemukan rumah baru
:)

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi 2019: Mengurangi Benci

Saya memang tergolong orang yang selalu memiliki rencana atau target. Kalau ibarat sebuah permainan, setelah melewati level 1 maka saya akan berlanjut ke level 2, begitu seterusnya hingga permainan tersebut berakhir. Bicara tentang pergantian tahun, orang seringkali mengaitkan itu dengan resolusi. Sebagian besar orang akan memposting di sosial media apa saja resolusinya di tahun baru, yang kemudian akan di-amin-i oleh rekan yang membaca postingan tersebut. Saya? Percaya atau tidak, saya justru jarang memposting tentang resolusi. Hal itu bukan karena saya tidak memiliki resolusi. Bisa dibilang, ada dua alasan. Pertama, resolusi bagi saya adalah suatu hal yang pribadi. Sebut saja, sebuah janji kepada diri saya sendiri yang tidak perlu mendapat legitimasi. Kedua, resolusi saya seringkali berubah sewaktu-waktu (maha benar libra dengan segala kelabilannya wkwkwkwkwk). Tahun 2018 kemarin sejujurnya bukan tahun yang mudah bagi saya. Mungkin jika harus membuat perbandingan, porsi sed...

(NOT) AN INSTANT JUDGMENT

Saya sudah menggeluti bidang sumber daya manusia selama sekitar 7 tahun. Sebuah rentang waktu yang cukup lama untuk bertemu dengan orang dari berbagai latar belakang dan karakter. Seluruh perusahaan tempat saya bekerja menaruh tugas rekrutmen sebagai salah satu indikator pencapaian. Tidak heran, saya cukup familiar dengan metode interview dan juga beberapa alat tes, terutama tes kepribadian. Saya pribadi termasuk golongan orang yang percaya akan pengaruh faktor kepribadian dalam keberhasilan seseorang. Oleh karena itu, biasanya saat pelaksanaan psikotes akan lebih banyak digunakan tes kepribadian dibandingkan kecerdasan. Meskipun saya seorang sarjana psikologi, saya tidak sembarangan memberikan analisa atau interpretasi dari alat tes. Terutama jika alat tesnya adalah alat tes proyeksi, seperti misalnya tes grafis menggambar pohon, manusia. Ketika menempuh pendidikan strata 1 selama 3.5 tahun memang saya pernah mempelajari alat tes tersebut. Tapi sesuai dengan kode etik psikologi,...

Dieu

Allah Beri aku kekuatan untuk percaya Bahwa rencana-Mu pasti luar biasa Allah Aku tahu bahwa Engkau menggenggam hatiku Jangan biarkan hatiku jatuh pada yang tidak mencintai-Mu Allah Aku percaya bahwa Engkau mampu membolak-balikkan hatiku Maka jangan biarkan aku tenggelam dalam pilu Allah Jangan biarkan aku menyesapi kesedihan yang berlebihan Ajari aku merasa cukup dengan cinta-Mu saja Agar aku percaya bahwa tiada kehilangan melainkan akan Engkau ganti dengan yang lebih bermakna Allah, aku pasrah