Awal April lalu, saya diberi tugas dinas ke Bogor untuk menjadi trainer dalam Effective Self Management
Saya tidak akan bercerita banyak tentang jalannya training itu
Sejak hari pertama training, saya tahu dan sadar betul
Ada beberapa peserta yang terus memperhatikan saya
(Terserah mau menganggap ini ge-er atau semacamnya)
Bahkan ketika saya memberikan materi, pandangan mereka seolah tidak sedetik pun lepas
Tapi ya, itu saya anggap sebagai antusiasme mereka dalam mengikuti training
Di hari kedua, saya membawakan sebuah games
Games tentang emosi ini dikemas dalam sebuah nyanyian
Tahu lagu anak-anak yang liriknya, "Kalau kau suka hati tepuk tangan.. kalau kau suka hati tepuk tangan"?
Jadi lirik lagu itu nantinya akan diganti dengan kata-kata emosi
Sejak awal saya mencontohkan (baca: menyanyi) sorak sorai dari para peserta sudah mulai mendengar
Dan setelah saya selesai bernyanyi, mereka dengan sengaja meminta saya mengulang
Yassalam x_x
Setelah game selesai dan ada 1 kelompok yang menjadi pemenang, mereka menagih hadiah
Iya, karena biasanya dalam setiap game selalu ada hadiah berupa coklat bagi kelompok yang menang
Saya tersenyum bodoh karena menyadari bahwa memang tidak ada hadiah untuk game kali ini
Lalu beberapa detik kemudian ada peserta yang nyeletuk, "hadiahnya pin bb bu fanny aja deh"
Celetukan itu sontak mengundang riuh tawa dan anggukan setuju dari peserta lainnya
Saya yang mendadak salah tingkah dalam hati berdoa supaya muka saya tidak memerah
"Wah, kalau pin bb nanti ya. Personal aja", jawab saya singkat sambil buru-buru melanjutkan ke materi training
Singkat cerita, di akhir training memang ada beberapa peserta yang menghampiri saya dan meminta pin bb
Tapi toh saya pikir setelah ini saya tidak akan bertemu mereka lagi, jadi ya sudah
Saya menyebutkan pin bb dan mereka langsung menginvite
Malam itu dan sampai beberapa hari ke depan, rupanya mereka rajin sekali mengirimkan bbm ke saya
Entah sekedar menyapa, menanyakan hal-hal tidak penting, bahkan terang-terangan memuji dan menyatakan kekaguman
Tidak, saya sedang tidak bermaksud pamer
Saya menanggapi semua bbm itu dengan senyum dan terimakasih
Entahlah. Saya selalu merasa gengges setiap kali ada yang berkomentar soal fisik.
Saya hanya bisa mengucap syukur Alhamdulillah setiap kali ada yang memuji cantik
Tapi di saat itu juga, saya semakin sering ketakutan dalam hati
Ketakutan seandainya hati dan perbuatan saya tidak secantik rupa yang mereka puji
Saya jadi teringat sebuah tulisan yang pernah saya baca, entah dimana
Hal baik yang menjadi penilaian orang lain atas saya bukan semata-mata karena saya baik
Itu terjadi karena Allah masih berbaik hati untuk menutupi segala aib saya
Ingat kasus tentang Cut Tari dan Ariel?
Berapa banyak orang yang dulu mengagumi dan menyanjung mereka?
Namun setelah aibnya terbongkar, berapa banyak yang mencaci dan menghujat?
Hmm.
Semoga tidak pernah lupa mengucap syukur Alhamdulillah jika mendapat pujian
Semoga tidak cepat berbangga diri bahkan takabur jika disanjung
Semoga tetap rendah hati meskipun datang kekaguman bertubi-tubi
Dan semoga tidak mencintai serta mengagumi orang lain di atas cinta dan kekaguman kepada Allah dan Rasulnya
Aamiin
:)
Comments
Post a Comment