Skip to main content

Jangan Takabur :)

Awal April lalu, saya diberi tugas dinas ke Bogor untuk menjadi trainer dalam Effective Self Management
Saya tidak akan bercerita banyak tentang jalannya training itu
Sejak hari pertama training, saya tahu dan sadar betul
Ada beberapa peserta yang terus memperhatikan saya
(Terserah mau menganggap ini ge-er atau semacamnya)
Bahkan ketika saya memberikan materi, pandangan mereka seolah tidak sedetik pun lepas
Tapi ya, itu saya anggap sebagai antusiasme mereka dalam mengikuti training

Di hari kedua, saya membawakan sebuah games
Games tentang emosi ini dikemas dalam sebuah nyanyian
Tahu lagu anak-anak yang liriknya, "Kalau kau suka hati tepuk tangan.. kalau kau suka hati tepuk tangan"?
Jadi lirik lagu itu nantinya akan diganti dengan kata-kata emosi
Sejak awal saya mencontohkan (baca: menyanyi) sorak sorai dari para peserta sudah mulai mendengar
Dan setelah saya selesai bernyanyi, mereka dengan sengaja meminta saya mengulang
Yassalam x_x

Setelah game selesai dan ada 1 kelompok yang menjadi pemenang, mereka menagih hadiah
Iya, karena biasanya dalam setiap game selalu ada hadiah berupa coklat bagi kelompok yang menang
Saya tersenyum bodoh karena menyadari bahwa memang tidak ada hadiah untuk game kali ini
Lalu beberapa detik kemudian ada peserta yang nyeletuk, "hadiahnya pin bb bu fanny aja deh"
Celetukan itu sontak mengundang riuh tawa dan anggukan setuju dari peserta lainnya
Saya yang mendadak salah tingkah dalam hati berdoa supaya muka saya tidak memerah
"Wah, kalau pin bb nanti ya. Personal aja", jawab saya singkat sambil buru-buru melanjutkan ke materi training

Singkat cerita, di akhir training memang ada beberapa peserta yang menghampiri saya dan meminta pin bb
Tapi toh saya pikir setelah ini saya tidak akan bertemu mereka lagi, jadi ya sudah
Saya menyebutkan pin bb dan mereka langsung menginvite

Malam itu dan sampai beberapa hari ke depan, rupanya mereka rajin sekali mengirimkan bbm ke saya
Entah sekedar menyapa, menanyakan hal-hal tidak penting, bahkan terang-terangan memuji dan menyatakan kekaguman
Tidak, saya sedang tidak bermaksud pamer
Saya menanggapi semua bbm itu dengan senyum dan terimakasih

Entahlah. Saya selalu merasa gengges setiap kali ada yang berkomentar soal fisik.
Saya hanya bisa mengucap syukur Alhamdulillah setiap kali ada yang memuji cantik
Tapi di saat itu juga, saya semakin sering ketakutan dalam hati
Ketakutan seandainya hati dan perbuatan saya tidak secantik rupa yang mereka puji

Saya jadi teringat sebuah tulisan yang pernah saya baca, entah dimana
Hal baik yang menjadi penilaian orang lain atas saya bukan semata-mata karena saya baik
Itu terjadi karena Allah masih berbaik hati untuk menutupi segala aib saya
Ingat kasus tentang Cut Tari dan Ariel?
Berapa banyak orang yang dulu mengagumi dan menyanjung mereka?
Namun setelah aibnya terbongkar, berapa banyak yang mencaci dan menghujat?

Hmm.
Semoga tidak pernah lupa mengucap syukur Alhamdulillah jika mendapat pujian
Semoga tidak cepat berbangga diri bahkan takabur jika disanjung
Semoga tetap rendah hati meskipun datang kekaguman bertubi-tubi
Dan semoga tidak mencintai serta mengagumi orang lain di atas cinta dan kekaguman kepada Allah dan Rasulnya

Aamiin
:)

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi 2019: Mengurangi Benci

Saya memang tergolong orang yang selalu memiliki rencana atau target. Kalau ibarat sebuah permainan, setelah melewati level 1 maka saya akan berlanjut ke level 2, begitu seterusnya hingga permainan tersebut berakhir. Bicara tentang pergantian tahun, orang seringkali mengaitkan itu dengan resolusi. Sebagian besar orang akan memposting di sosial media apa saja resolusinya di tahun baru, yang kemudian akan di-amin-i oleh rekan yang membaca postingan tersebut. Saya? Percaya atau tidak, saya justru jarang memposting tentang resolusi. Hal itu bukan karena saya tidak memiliki resolusi. Bisa dibilang, ada dua alasan. Pertama, resolusi bagi saya adalah suatu hal yang pribadi. Sebut saja, sebuah janji kepada diri saya sendiri yang tidak perlu mendapat legitimasi. Kedua, resolusi saya seringkali berubah sewaktu-waktu (maha benar libra dengan segala kelabilannya wkwkwkwkwk). Tahun 2018 kemarin sejujurnya bukan tahun yang mudah bagi saya. Mungkin jika harus membuat perbandingan, porsi sed...

(NOT) AN INSTANT JUDGMENT

Saya sudah menggeluti bidang sumber daya manusia selama sekitar 7 tahun. Sebuah rentang waktu yang cukup lama untuk bertemu dengan orang dari berbagai latar belakang dan karakter. Seluruh perusahaan tempat saya bekerja menaruh tugas rekrutmen sebagai salah satu indikator pencapaian. Tidak heran, saya cukup familiar dengan metode interview dan juga beberapa alat tes, terutama tes kepribadian. Saya pribadi termasuk golongan orang yang percaya akan pengaruh faktor kepribadian dalam keberhasilan seseorang. Oleh karena itu, biasanya saat pelaksanaan psikotes akan lebih banyak digunakan tes kepribadian dibandingkan kecerdasan. Meskipun saya seorang sarjana psikologi, saya tidak sembarangan memberikan analisa atau interpretasi dari alat tes. Terutama jika alat tesnya adalah alat tes proyeksi, seperti misalnya tes grafis menggambar pohon, manusia. Ketika menempuh pendidikan strata 1 selama 3.5 tahun memang saya pernah mempelajari alat tes tersebut. Tapi sesuai dengan kode etik psikologi,...

Dieu

Allah Beri aku kekuatan untuk percaya Bahwa rencana-Mu pasti luar biasa Allah Aku tahu bahwa Engkau menggenggam hatiku Jangan biarkan hatiku jatuh pada yang tidak mencintai-Mu Allah Aku percaya bahwa Engkau mampu membolak-balikkan hatiku Maka jangan biarkan aku tenggelam dalam pilu Allah Jangan biarkan aku menyesapi kesedihan yang berlebihan Ajari aku merasa cukup dengan cinta-Mu saja Agar aku percaya bahwa tiada kehilangan melainkan akan Engkau ganti dengan yang lebih bermakna Allah, aku pasrah