Sabtu malam, hujan deras
Daripada memikirkan pacar saya yang entah ada di mana, lebih baik rasanya menulis di blog ini
Sebenarnya sejak Kamis malam kemarin, saya sudah ingin menulis di blog
Menceritakan pengalaman luar biasa yang baru saja saya alami
Tapi kondisi saya malam itu yang sangat kelelahan sangat tidak memungkinkan untuk menulis
Sejak Rabu sore, saya dan Bu Frieda sudah berada di Tulungagung
Jangan dikira tujuan kami hanya sekedar untuk visit cabang
Jangan dikira tujuan kami hanya sekedar untuk visit cabang
Kami membawa sebuah amanah besar dari Direksi
Untuk melakukan efisiensi
Sumpah demi apapun yang bisa disumpah. Selama hampir 3 tahun menjadi seorang HRD, ini adalah pekerjaan terberat yang pernah saya lakukan
Sumpah demi apapun yang bisa disumpah. Selama hampir 3 tahun menjadi seorang HRD, ini adalah pekerjaan terberat yang pernah saya lakukan
Ya, efisiensi
Atau bahasa awamnya, pengurangan karyawan
Kami tidak bisa memungkiri, kondisi regional sedang terpuruk
Angka booking dan collection semakin menurun
Pengeluaran dan pemasukan kian tidak seimbang
Otomatis, harus ada yang dikorbankan
Kali ini, pihak karyawan operasional yang harus "dibuang"
BOD sudah menetapkan rasio MPP karyawan operasional
Tidak pandang bulu, batasannya hanya jumlah AR di cabang
Maka terjadilah, banyak karyawan operasional yang harus tersisih
Meeting mengenai nama karyawan yang akan tersingkir sudah dilakukan sejak sekitar sebulan lalu
Saya paham betul, pembahasannya akan cukup alot
Banyak pertimbangan, banyak perdebatan
Tentu saja ada banyak sisi yang harus dipertimbangkan, mengingat ini berkaitan erat dengan hajat hidup banyak orang
Nama sudah ditentukan
Jumlah pesangon sudah ditetapkan
Kami hanya tinggal menjalankan
Hari Kamis
Sejak pagi, Bu Frieda dan Mbak Nita sudah galau tidak karuan
Bu Frieda menghabiskan waktu mengobrol dengan Pak Ridwan, yang tujuan sebenarnya adalah curhat
Mbak Nita bolak-balik membaca prosedur pertemuan bipartit, bolak-balik ke kamar mandi, dia bahkan tidak berdandan sama sekali
Saya, yang memang orang baru dan tidak mengenal karyawan yang akan di PHK itu masih bisa tertawa haha hihi dan tidak ada perasaan apapun
Saya dengan santai mengatur skenario dan waktu yang tepat untuk mengeksekusi
Saya juga dengan cuek melakukan pembagian tugas, mana bagian yang harus disampaikan oleh Bu Frieda, Mbak Nita, dan saya sendiri
Hari itu,ada dua orang yang harus kami eksekusi
Satu orang staff BPKB, dan satu orang satpam
Untuk staff BPKB, eksekusi akan kami jalankan di sore hari menjelang waktu pulang
Sementara satpam, di malam hari saat shift jaga malamnya
Sekitar pukul 16.45 saya sengaja mengobrol dengan para staff admin yang berada di luar
Lalu saya menepuk pundak Mbak Ruci dan berkata, "Mbak, nanti kalau kerjaanmu sudah selesai tolong jangan pulang dulu ya. Saya mau ngobrol sebentar."
Dia mengiyakan, lalu saya kembali ke dalam ruangan
Iya, Mbak Ruci adalah orang yang akan kami eksekusi hari itu
Sekitar pukul lima sore, kasir yang bernama Kiki masuk ke dalam ruangan untuk memasukkan cash box ke dalam brankas
Bu Frieda tiba-tiba menyuruhnya duduk dan memberikan semacam sesi konseling
Saya langsung paham maksud Bu Frieda
Dia sengaja memanggil Kiki agar staff yang lain-terutama Mbak Ruci, tidak merasa curiga mengapa hanya dia yang dipanggil
Sekitar pukul enam sore setelah sesi konseling dengan Kiki selesai, ternyata kami tidak menemukan Ruci di kantor
Iya, dia sudah pulang
Bu Frieda sontak mengamuk
Sangat disayangkan kenapa Ruci tidak berpamitan sebelum pulang, padahal saya sudah menyuruh dia menunggu
Sebenarnya saya paham, mungkin Ruci pulang karena sudah terlalu lama menunggu
Tapi menurut Bu Frieda, tetap saja dia seharusnya berpamitan
Apalagi yang menyuruhnya menunggu adalah seorang HRD Area yang jabatannya jauh lebih tinggi daripada dia
Bu Frieda langsung menyuruh Mbak Nita untuk mengirimkan bbm ke Ruci agar segera kembali ke kantor
Sambil menunggu, saya menyempatkan diri untuk sholat Maghrib
Tepat di saat Bu Frieda menyuruh Mbak Nita untuk membatalkan eksekusi hari ini, tiba-tiba Ruci muncul
Dia datang dengan sedikit ngos-ngosan dan meminta maaf karena harus menjemput anaknya dulu
Akhirnya kami menyuruhnya duduk
Dia duduk di kursi sebelah kanan saya, sesuai dengan setting yang telah kami siapkan
Detik itulah saya baru merasa jantung saya berdegup tidak karuan
Iya, tugas sayalah untuk memulai acara eksekusi itu
Kalimat yang sudah saya susun rapi tiba-tiba hilang begitu saja
Saya menarik napas panjang sambil beristighfar
Mau tidak mau, ini harus saya jalankan
Saya mulai menjelaskan bahwa manajemen merasa cabang Tulungagung ini kelebihan karyawan operasional, sehingga kami terpaksa melakukan efisiensi
Dan, namanya masuk dalam list efisiensi
Saya tercekat
Kalimat saya terhenti di tenggorokan
Untunglah Bu Frieda segera mengambil alih dan menjelaskan semuanya
Saya tidak sanggup menoleh dan melihat ekspresi Ruci
Otak dan hati saya sedang sibuk sendiri melakukan sinkronisasi
Detik demi detik berlalu hingga akhirnya Bu Frieda meminta Ruci untuk berkomentar
Kalimat yang saya ingat terlontar dari mulutnya adalah, "mimpi apa saya semalam bu..."
Tidak ada lanjutan kalimat berikutnya. Dia menangis sesenggukan.
Mata dan tenggorokan saya terasa panas
Bu Frieda mulai meneteskan air mata, pertanda bahwa pertahanan egonya juga sudah mulai runtuh
Bu Frieda terus berbicara dan memohon maaf
Tidak ada pilihan lain bagi kami selain melakukan eksekusi
Ruci terlihat sangat kecewa
Dia berkata, selama 6 tahun bekerja di Mandala dia tidak pernah melakukan kesalahan besar
Namun sayangnya, efisiensi memang tidak peduli siapa yang tidak pernah melakukan kesalahan
Ruci awalnya meminta waktu untuk mempelajari surat Persetujuan Bersama yang harus dia tandatangani
Namun setelah saya dan Bu Frieda mencoba menjelaskan dan meyakinkan Ruci bahwa mau tidak mau dia harus menerima keputusan ini, akhirnya dia menyerah dan mau menandatangani surat itu
Singkat cerita, eksekusi berakhir dengan saling meminta maaf dan berpelukan
Ruci menangis sesenggukan saat berpelukan dengan Bu Frieda
Dia merasa sangat berterimakasih karena Bu Frieda mau memberinya izin untuk mutasi ke Tulungagung karena ikut suami
Saya tidak mampu menjelaskan perasaan saya saat itu
Antara sedih, lega, takut, semuanya bercampur menjadi satu tidak karuan
Untunglah untuk eksekusi berikutnya, Mbak Nita berani melakukan sendiri tanpa perlu didampingi
Saya dan Bu Frieda keluar meninggalkan ruangan
Sekitar 20 menit kemudian, Mbak Nita sudah selesai melakukan eksekusi
Dia bercerita bahwa eksekusi berjalan dengan cepat karena si satpam itu langsung menerima dengan lapang dada
Hati saya teriris ketika mengetahui bahwa di perusahaan sebelumnya, satpam ini juga terkena efisiensi
Dia sudah pasrah dan memahami bahwa di setiap perusahaan akan sangat mungkin terjadi efisiensi
Dia pun langsung berkata kepada Mbak Nita bahwa dia akan tetap bekerja sampai akhir bulan, menyelesaikan tugasnya
Lalu dia juga meminta ijin untuk ikut briefing pagi terakhir dan berpamitan dengan seluruh karyawan
Bu Frieda memanggil satpam itu dan menyampaikan permohonan maafnya atas nama pribadi dan atas nama perusahaan
Satpam itu dengan penuh ketegaran dan senyum menyampaikan bahwa dia tidak apa-apa
Dia ikhlas menerima semua keputusan perusahaan
Satpam itu lalu meninggalkan ruangan
Saya melihat matanya saat berjalan melewati kaca ruangan
Dia bisa tersenyum, tapi matanya tidak bisa berbohong
Then my heart was broken into the smallest pieces when I saw their eyes..
Saya menangis sesenggukan
Pikiran saya melayang ke sebuah buku yang pernah saya baca
Saya ingat betul kalimat yang ada dalam buku motivator itu
Coba pikirkan, dalam setiap organisasi akan selalu ada prajurit
Dan prajurit, biasanya akan menjadi korban
Renungkan. Apakah kita hanya sekedar prajurit?
Apakah pekerjaan yang kita lakukan akan dengan sangat mudahnya digantikan oleh orang lain?
Apakah ketika kita tidak masuk karena sakit atau ijin, berapa banyak orang yang merasa kebingungan dan berharap kita segera kembali bekerja?
Malam itu, saya kembali tertampar keras oleh pengalaman
Saya teringat betapa saya sakit hati karena iklan lowongan kerja posisi saya sudah diposting, bahkan sebelum saya resmi mengirimkan surat pengunduran diri dari perusahaan lama
Betapa kecewanya saya karena merasa tidak ada upaya retain dari atasan saya
Betapa saya seketika merasa kecil dan tidak berharga
Dan jujur, hal itulah yang dulu memantapkan langkah saya untuk pindah ke Mandala
Malam itu, saya juga belajar bahwa attitude dalam bekerja adalah nomor satu
Ketika satpam itu dengan tegas berkata bahwa dia akan tetap bekerja sampai akhir bulan dan menyelesaikan segala tugasnya, Bu Frieda langsung berjanji akan membantu mencarikan pekerjaan di tempat lain
Dan pelajaran paling penting yang saya dapat malam itu:
Love your job, but never love your company. Cause you`ll never know when the company stops loving you.
Intinya, bekerja dengan tulus dan lakukan yang terbaik, tapi jangan bergantung pada satu perusahaan
Saya pun, harus siap jika seandainya suatu saat perusahaan memutuskan bahwa saya sudah tidak lagi dibutuhkan
Atau, saya harus siap memberikan semua yang terbaik yang mampu saya lakukan agar perusahaan mempertahankan saya
Saya pun, harus siap jika seandainya suatu saat perusahaan memutuskan bahwa saya sudah tidak lagi dibutuhkan
Atau, saya harus siap memberikan semua yang terbaik yang mampu saya lakukan agar perusahaan mempertahankan saya
Malam itu, saya kembali berdamai dengan luka dan mimpi
Kami bertiga kembali ke hotel, lalu berjalan ke restoran terdekat
Kombinasi antara lapar, lega, dan entah perasaan apa lagi membuat kami makan dengan sangat khidmat
Sayur asem, empal, tahu tempe, ayam goreng, paru, semuanya kami habiskan
Sekitar pukul setengah sepuluh, kami kembali ke hotel dengan perut kenyang dan mata sembap
Kami masuk ke kamar masing-masing
Saya yang masih dalam kondisi carut marut, memutuskan untuk berendam di bath tub
Air hangat yang mengalir dari kran dan busa dari sabun mandi menjadi saksi betapa hati saya masih terlalu rapuh jika mengingat mata mereka
Mata Ruci yang sangat menyesal atas perbuatannya dan ingin tetap bekerja di Mandala. Mata yang penuh ketakutan akan kondisi ekonomi keluarganya.
Mata Pak Satpam yang sangat terluka dan menjadi tulang punggung keluarga. Entah dari mana lagi ia akan mendapatkan pekerjaan untuk menghidupi anaknya yang masih kecil. Mata yang pasrah dan mengalah karena mengetahui kapasitas pribadinya. Mata yang penuh harap dan doa.
Saya menutup malam itu dengan sebuah doa sederhana
Semoga Tuhan mengampuni segala perkataan menyakitkan yang terlontar dari bibir saya, sengaja maupun tidak. Semoga Tuhan memudahkan rizki bagi orang-orang yang (terpaksa) kami pecat hari ini. Dan semoga Tuhan memudahkan urusan mereka untuk mendapatkan pekerjaan baru yang lebih baik. Aamiin.
Comments
Post a Comment